Membaca Penjelajahan Setyaningsih tentang Anak Indonesia dan Pustaka

  • Apresiasi untuk Kitab Cerita Kumpulan Esai tentang Anak dan Pustaka, oleh Setyaningsih.

Setiap hari sebelum tidur, saya punya rutinitas bercerita dengan anak perempuan saya. Kadang dia minta untuk dibacakan buku, atau kalau tidak, kami bercerita hal-hal apa yang kami lakukan seharian tadi. Setelah cerita selesai dan sebelum ia benar-benar diam untuk tidur, biasanya dia berpesan “Ibu, besok pagi jalan-jalan lihat pohon, sama ayun-ayun ya, Ibu”. Ia menyebut ayunan dengan ayun-ayun. Jika bangun telat, maka janjian jalan-jalan ditunda, karena kami sudah mulai melakukan rutinitas keluarga. Pesan jalan-jalan itu kembali hadir di malam harinya.

Memori tentang keinginan berjalan-jalan itu menyeruak di tengah-tengah saya membaca tulisan Setyaningsih dalam Kitab cerita (2) Kumpulan Esai tentang Anak dan Pustaka yang berjudul Belajar (di) Jalan. Setya bercerita tentang fenomena “om telolet om” yang sempat jadi perbincangan beberapa waktu lalu . Jalan menjadi jalan keluar perayaan anak-anak yang bosan di dalam rumah, dan keluar dari peraturan sekolah yang kaku. Sekumpulan anak main di pinggir jalan merindukan keriuhan yang aneh dari suara klakson kendaraan berat. Kegiatan itu direkam, diunggah dan langsung jadi topik yang diperbincangkan orang di jagad maya. Disc Jockey (DJ) internasional juga menaruh perhatian terhadap fenomena musik jalanan ini, juga belum “sah” pula kalau belum dijadikan program oleh dinas setempat dan mencapai titik kulminasi paling menarik yaitu dijadikan lagu dangdut! Semua bermula dari kegembiraan anak-anak merayakan spontanitasnya.

.Selain menemukan “jalan” baik sebagai proses motorik perkembangan anak, jalan sebagai tempat berlangsungnya peristiwa termasuk tanda “pembangunan” infrastruktur oleh negara, Setya juga menangkap pemaknaan anak-anak tentang jalan sebagai metafora, “jalan sebagai pengembaraan imajiner yang mengantarkan pada keberanian untuk menjelajah dunia”. Betul saja, anak-anak mungkin pertama kali mengenal warna lewat rambu-rambu di perempatan jalan. Setya juga menceritakan pembacaaannya terhadap karya Maria A Sardjono, Sarang yang Aman (19830  tentang seorang bocah yang riang mengejar layang-layang di jalan yang justru mendapat celaka. Menurut Setya, jalan jadi contoh tempat yang tidak diperuntukkan untuk anak, karena semua aturan dan mobilitas dalam kuasa orang dewasa.

Sastra Anak: Bunyi yang Berumur Panjang

Saya menangkap kegelisahan Setya mengenai anak-anak dan Pustaka, melalui hal-hal yang paling dekat dengannya, seperti jalan, suara, gerak, dan makanan. Setya percaya bahwa tradisi pustaka, atau keberaksaraan anak tidak lepas dari tradisi lisan.  Kelisanan dan keberaksaraan sebagai hal yang saling berkelindan satu sama lain dan tidak bisa lepas. Anak-anak mengenal Pustaka dan cerita-cerita dari orangtua yang membacakan, atau mendongengkan kisah. Bunyi yang menyita perhatian anak, bahkan sejak ia masih orok. Psikolog-psikolog juga menyarankan untuk menggunakan nada yang tinggi yang riang untuk membuat anak melirik kita.  Melalui penceritaan oleh orangtuanya, anak-anak mulai kenal kisah-kisah. Tentang apa saja, tentang apa yang dilakukannya seharian tadi, tentang nutrisi apa saja yang ia makan seharian, dan tentang cerita yang dibacakan oleh orangtuanya. Setya, juga dalam buku Kitab Cerita (1) sebelumnya, percaya bahwa sastra anak adalah sastra yang berbunyi. Suara menjadi perantara anak,sebelum ia mengenal teks yang akan membawanya ke pendar imajinasi yang lain. Makanya, saya menukil untuk judul tulisan ini, sastra anak adalah bunyi narasi yang berumur panjang, kebiasaan bercerita/dongeng oleh orangtuanya, hidup dalam imajinasi anak-anak sampai ia dewasa .

Tradisi kelisanan sangat erat kaitannya dengan peran orangtua sebagai pengasuh dan penyampai cerita. Setyaningsih mengapresiasi buku bacaan mutakhir yang sering mencantumkan tulisan “dongeng sebelum tidur” yang mengharapkan orangtua juga turut membahagiakan anak melalui cerita yang dibacakan sebelum tidur.  Ia turut mengamini kekhawatiran kelisanan sekunder, yang bersumber pada suara teknologi, yang diungkapkan oleh Walter J Ong, yang menyebabkan efek candu. Setya juga tidak memungkiri teknologi juga menyumbang keberlangsungan sastra/ bacaaan anak lewat berbagai aplikasi. Namun, sentuhan kelisanan primer manusia, tidak dapat menggantikan pencerita mesin. Saat manusia  bercerita, pilihan nada dalam kalimat-kalimat, sambil mengelus anak, dan anak dapat langsung bertanya dan bahkan mengembangkan cerita langsung kepada pendongeng. Pencerita atau pendongeng juga dapat melakukan improvisasi berupa gerak dan mimik.

Gerak jadi satu hal yang tidak bisa ditinggalkan dari dunia kanak-kanak. Setyaningsih menyelipkan memorabilia tentang Romo Mangun lewat “Romo Mangun: merayakan Anak dan Gerak”. Berjalan, melompat, menari, dan berlari, yang bebas tanpa aturan adalah khas anak-anak.   Y. B Mangunwijaya,   berkata manusia menari sejak bayi. Benar juga, di dalam Rahim, bayi melompat, bergerak bebas,dan  jungkir balik. Dalam Burung-Burung Manyar (2001), manifestasi gerak adalah hak anak dalam karakter Atik. Yang suka memanjat pohon, menggali lubang, mengejar laron. Aktivitas lincah yang sering diidentikkan dengan anak laki-laki. Polah tingkah anak yang bebas, tanpa tuntuan orangtua dan pihak berkuasa lain, adalah hal yang dirindukan Romo Mangun saat menjadi anak-anak. Tanpa menjadi objek pameran orangtua yang menuntut anak kursus atau les ini-itu. Setya menelusuri pemikiran Romo Mangun tentang gerak anak melalui Ragawidya, Religiositas Hal Sehari-hari (1995), bahwa gerak adalah perlambang dari daya dan hidup yang tumbuh. Ia bilang, tubuh jadi bahasa.

Pengembaraan Setya yang gemar membaca karya dari dimensi waktu yang jauh sebelum saya lahir, memberikan pengetahuan baru. Nama-nama seperti Soekanto, S.A penulis cerpen anak dan editor majalah anak Si Kuncung,  Soesilo Toer, doktor ekonomi dan politik adik Pramoedya Ananta Toer, yang menulis Nasib Seorang Penebang Kayu & Kisah Lainnya (Pojok Cerpen, 2019) yang merupakan cerita bersambung yang disusun tahun 1952-1961 , Mansur Samin penulis bacaan anak untuk proyek Instruksi Presiden (Inpres) sejak tahun 197 dengan cap “Milik Negara, Tidak untuk Diperdagangkan”.

Nukilan pengetahuan Setya tentang penulis bacaan anak Indonesia, menandai Setya begitu tekun dan telaten serius bergerak dan menyelami sastra anak Indonesia, ia juga membuat situs khusus untuk penjelajahannya, maosbocah.wordpress.com. Di dalam situs itu dia menulis banyak ulasan buku anak. Dalam buku ini, Setya menuliskan Soekanto, S.A , atau Pak Kanto ada dalam perayaan perbincangan identitas anak Indonesia, dengan menerbitkan karya-karya dengan tokoh sederhana dan sehari-hari. Sementara itu, saya juga diperkenalkan dengan Soesilo Toer melalui tulisan Soesilo Toer: Berkelindan dengan Keberuntungan dan Kemalangan, Setya memperkenalkan Soesilo Toer sebagai penulis anak yang mengurangi memberikan petuah kepada anak-anak. “Hikmah” cerita tidak disampaikan secara eksplisit, sehingga pembaca anak memiliki otoritas sendiri untuk beropini dan memproses makna cerita.

Setya membaca referensi buku-buku Inpres termasuk karya-karya Mansur Samin delapan judul buku anak dalam proyek 58 miliar itu. Mansur Samin punya tema yang kuat tentang lokalitas, desa, potret kemiskinan, dan usaha untuk memperbaiki nasib, selaras dengan kondisi ekonomi politik Orde Baru. Penjelajahan Setya juga terhubung dengan tema kesukaan anak-anak, tema detektif! Ia memperkenalkan saya kepada penulis anak kontemporer Rizal Iwan, yang menggarap cerita detektif Creepy Case Club. “Oh, ternyata ada ya, penulis anak Indonesia yang mengarang tema detektif”.

Pengetahuan saya tentang cerita detektif mentok pada novel-novel Enid Blyton, dengan Sapta Siaga dan Lima Sekawan, favorit saya Alfred Hitchcock dengan Trio Detektif-nya Kepopuleran Enid Blyton dan menjamurnya banyak penyewaan buku di Indonesia, membawa Peter, Skippy, Julian, Timmy, Anne, dan teman-temannya mengendap di memori anak Indonesia tahun 90-an.  Dalam buku Kitab Cerita (2) ini Setya menghadirkan referensi karya luar negeri dengan kontras yang cukup menarik, yaitu Enid dengan konflik dan misteri dari luar “rumah” tokoh yang mapan dan berasal dari keluarga yang harmonis, dan Jacqueline Wilson yang menghadirkan tokoh-tokoh yang lahir dari keluarga yang tidak utuh.  Anak-anak ciptaan Jacqueline yang menulis sejak 1973, lahir dari keluarga nonkonvensional yang harus menghadapi konflik-konflik yang traumatik.

Penelusuran Setya tentang bacaan & sastra anak Indonesia ini reflektif dan bikin saya penasaran untuk memberikan bacaan anak yang terbaik untuk anak saya. Jujur, saya belum banyak memiliki bacaan anak dari Indonesia. Pencariannya lumayan rumit, karena saya sendiri tidak terlalu suka dengan pesan-pesan eksplisit tentang moral dan nilai hidup. Saya lebih tertarik ke cerita dan kisah yang tidak secara langsung menganjurkan untuk bersikap, karena yang seperti itu sepertinya sudah ada di dalam kitab suci.

Buku Anak yang Ciamik dan Lucu

Selama masa pandemi, kami lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, maka makin banyak saya diminta membacakan buku oleh anak saya. Otomatis, saya semakin tertarik untuk mencari buku bacaan Indonesia. Ternyata, banyak sekali komunitas-komunitas literasi yang menyelenggarakan diskusi, maupun gerakan, juga menerbitkan buku-buku anak Indonesia. Aktivisme literasi dan bacaan anak oleh komunitas-komunitas itulah yang tidak banyak disinggung Setya dalam buku ini.                                            

Geliat dan gegap gempita sosial media, memberikan banyak sekali “pameran digital” illustrator-ilustrator muda Indonesia, yang saya harap dapat berkolaborasi dengan penulis-penulis mumpuni untuk membuat buku anak yang ciamik. Setya mengajak memikirkan pertanyaan tentang penulis buku anak versus tantangan-tantangannya seperti idealisme penulis, tema-tema tanpa label agamis  dan moralitas, belum lagi selera penerbit dan celah pembajakan buku yang masih banyak terjadi. Kegelisahan Setya tentang Pustaka anak Indonesia dalam buku ini bikin saya penasaran dengan bacaan-bacaan anak Indonesia lain, yang saya harap bisa bikin anak saya dan saya gembira saat membaca, percaya dengan kekuatan dirinya, berani menjelajah ruang imajinasi dan lingkungan sekelilingnya, dan tetap humoris!

Judul : Kitab Cerita: esai-Esai Anak dan Pustaka

Penulis : Setyaningsih

Penerbit : Penerbit Babon

Cetak : Pertama, Maret 2021

Tebal : 118 halaman

ISBN : 978-623-6650-29-5

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s