Rumah di Pinggir Sawah

Screenshot_2020-05-07-23-44-56-573_com.instagram.androidAku datang ke rumah yang baru dibangun itu kira-kira pukul satu siang. Setelah surelku dibalas, aku dikirimi sms untuk datang mengobrol tiga hari setelahnya.

Seingatku rumah itu belum selesai dicat. Temboknya masih batu bata yang belum dihaluskan. Kata Mbak Neneng, perempuan yang kutemui, masih dalam proses pembangunan, ia sekalian minta doa semoga cepat jadi.

Aku diminta bertemu dengan Pak Haris dan Pak Joni. Mereka ada di ruangan depan. Sambil melihat-lihat bangunan rumah, aku membatin. Bangunan ini berdesain rumah, tapi berfungsi kantor. Aku masuk. Pak Joni menghadap laptopnya dengan menggunakan earphone. Mereka menanyaiku tentang aktivitas dan kesediaanku untuk menjadi bagian dari organisasi ini. Aku bilang bersedia, tapi juga dengan kondisi aku sedang mengerjakan skripsi.

Tidak lebih dari seminggu, aku ditelepon Mbak Neneng, yang kemudian aku tahu ia adalah tim keuangan, untuk mulai bekerja pekan depannya. Aku satu tim dengan Mbak Purwanti yang akrab dipanggil Mbak Ipung, ia adalah paralegal yang mendampingi kasus-kasus difabel berhadapan dengan hukum. Juga dengan Pak Ismail, yang jadi rekan satu timku di divisi media dan Pak Antok yang jadi tempat konsultasi masalah IT

Tugasku mengedit berita dan tulisan untuk ditampilkan di website Sigab dan Solider, juga membuat konten-konten lain. Aku sering diajak Mbak Ipung untuk ikut mendampingi dan mencatat kasus difabel berhadapan dengan hukum. Paling banyak kasus yang didampingi adalah difabel perempuan korban kekerasan seksual.

Mbak Ipung difabel daksa, ia mengendarai motor roda tiganya berkeliling ke pelosok desa untuk mendatangi langsung korban. Aku membonceng Mbak Ipung ke KulonProgo, Bantul, Sleman. Semua temuan itu selalu didiskusikan dengan teman-teman saat makan siang di ruang belakang.

Tak banyak personel Sigab saat itu, tak ada 10 orang. Kami membeli lauk untuk dimakan bersama-sama. Biasanya, kita bergilir membeli lauk dii desa sebelah. Menunya sederhana, sayur dan lauk tahu tempe.

Di meja makan siang itulah kami sering berdiskusi. Mbak Ipung dengan semangatnya menmenceritakan temuan kasus. Pak Syafiie mendraf riset yang akan dilakukan, Pak Udin mengupdate kabar dari teman-teman komunitas. Pak Joni selalu memantik dengan caranya yang santai, tapi bernas. Mbak Wanti dan Mbak Neneng biasanya anteng menyimak. Juga Pak Rohmanu yang senyam senyum kadang menimpali dengan gojek. Kadang Pak Ismail ketiduran. Thekluk.

Itu gambaran sebulan aku bergabung bersama SIGAB tahun 2012 lalu. Aku merasa tidak hanya menemukan tempat bekerja, tapi juga menemukan keluarga, teman, dengan semangat dan cita-cita yang menyala-nyala.

Rumah kecil di pinggir sawah itu bukan hanya tempat bekerja. Ia pemantik, sasana, dan tempat pembelajaran yang paling membuatku berkesan. Banyak hal yang sudah Sigab kerjakan untuk kemanusiaan dan perubahan, tapi bukan berarti cita-cita inklusi sudah tercapai.

Aku sudah tidak lagi di Jogja dan menghabiskan hari-hariku di SIGAB. Empat tahun lebih di sana memberikan kenangan, kekeluargaan, dan pembelajaran yang kusimpan erat di saku bajuku.

-sebuah catatan kangen Sigab.

#31harimenulis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s