Hari Pertama Masuk Sekolah

Mamah mengantarku dengan sepeda Phoenix berwarna biru ke TK Aisiyah Semanggi, 500 meter dari rumah. Depan pagar sekolah ramai sekali, karena TK satu lingkungan dengan SD yayasan yang sama, Muhammadiyah. Aku ingat, kami berdesak-desakan masuk ke kelas dengan seragam kuning hijau, dan bedak di leher yang masih kelihatan (juga di dahi, pipi, dll), rambut pendek, sedikit dan masih disisir rapi ke belakang, tidak berjilbab.
Aku anak kecil yang “clingus”, pemalu, takut, kalau tidak ditanya ya bakal diam sampai petang. Hari pertama masuk sekolah aku merasa grogi dengan  kerumunan banyak seperti itu. Aku lupa, aku menangis di bagian mau masuk kelas atau menahannya dan pecah saat kelas usai, yang jelas, aku menangis. Nama ibu guruku, Bu Tatik. Masih ingat, teman yang kukenal pertama kali di kelas itu adalah Putri, yang belakangan jadi anak “nakal” di kelas karena sering mencubit temannya, aku yang paling sering. Teman yang lain, tentu, Ayu, kami tetangga dekat. Beberapa waktu setelah hari pertama, Mamah masih mengantarku tiap pagi dengan sepeda, setelahnya aku jalan kaki sendiri bareng Ayu.

Hari pertama masuk SD, aku bareng dengan Ayu. Sekolah kami tak jauh dari rumah, hanya mengitari tiga gang. Tasku bergambar Mini Mouse berwarna pink, dengan resleting berbentuk karakter itu juga (kurasa bagian resleting itulah yang paling kusuka), tempat pensilku berwarna hijau, buku-buku juga bercorak Mickey dan Mini Mouse. Banyak orangtua yang mengantar anaknya, dan bahkan melihat dari pintu, sampai-sampai, Bu Agnes guru Kelas Satu, menutup pintu kelas. Aku dan Ayu memilih tempat duduk nomor tiga dari depan dekat tembok. Belakang kami, adalah Itha, juga tetangga, kami sempat berselisih sebentar tentang siapa sebangku dengan siapa. Ending-nya, sepertinya aku sebangku dengan Ayu. Aku dan Ayu menjadi semacam sejoli yang tak terpisah, sampai kelas empat karena aku pindah sekolah.

Aku harus pindah sekolah, karena kami tinggal di Solo Baru. Niatnya, Papah cari sekolah yang dekat rumah, tapi akhirnya juga sama-sama jauh. Namanya SD Negeri Kemasan 1, SD-nya di pusat kota termasuk 10 besar SD terbaik di Solo. Papah sempat mau memasukkanku ke SD yayasan islam, tapi aku tidak terlalu suka dengan banyak pelajaran agama di sekolah. Akhirnya, aku sekolah di SD negeri, yang dekat dengan SD islami itu, SD N Kemasan 1.

Hari pertama sekolah sebagai anak pindahan aku super grogi. Aku ditanyai oleh Bu Naniek, wali kelas 4, mengapa aku pindah.Aku jawab :karena rumahku pindah. Aku ditanyai lagi, kenapa aku pilih SD ini, aku jawab aku tidak tahu karena Papah yang memilihkan. Di hari pertama itu, aku duduk bersebelahan dengan Rizky Apriliana. Sebagai anak baru, aku juga berusaha berkenalan dengan temanku yang lain. Mereka juga datang menyalamiku ingin berkenalan. Aku juga sempat ditanya apakah aku ini anak tinggal kelas, masih di Solo kok pindah. Aku tersenyum dan menggeleng. 

Di hari pertama itu, aku sudah hafal beberapa teman baruku, Rizky, Edo, Roy, Hana, Dhea, Ivon, dan Dita. Erwan dan Anwar, saudara kembar, ternyata rumahnya tak jauh dari rumahku. Mereka menawariku main sepeda bareng. Erwan dan Anwar juga cerita, kalau ada anak namanya Vicky, yang sebenarnya rumahnya dekat sekali dengan rumahku. Vicky saat itu tidak masuk karena masih mudik. Besoknya, aku bertemu Vicky. 

Ternyata, Vicky adalah anak yang sering kutemui saat di jalan selama berangjat sekolah. Kami sama-sama naik becak, tukang becak kami bersahabat, saat berpapasan, tukang becak itu sering mengobrol. Aku dan Vicky hanya curi pandang karena belum kenal. Semenjak tahu rumah kami dekat, dan pengemudi becak kami bersahabat, kami juga menjadi teman. Vicky dan Aku berbagi becak dari Solo Baru ke Tipes (kemudian kami memutuskan untuk satu becak saja, tapi bergantian pengemudinya). Lalu, kami memutuskan untuk naik angkot saja setiap hari. Ia sahabatku menunggu angkot, belajar bersama,dan bersepeda bersama.Aku sering menemani Vicky di rumah karena orangtuanya sering ke Jakarta.Darinya, aku belajar menjadi anak yang mandiri. Kami pernah jalan dari Tipes ke Tanjung Anom, karena tak dapat angkot, akhirnya menyerah naik becak. Aku dan Vicky akhirnya berpisah di kelas 5, ia pindah ke Jakarta. Aku selalu merindukannya saat itu. Kami sempat berkirim surat dan berkirim kartu lebaran.

Hari pertama masuk sekolah di SMP tak begitu kuingat. Aku diantar Papah naik motor sampai depan gerbang. Papah sering mengantarku dengan memakai jaket jeans.Tak banyak teman SD yang sekolah di SMP-ku, hanya lima orang.  Praktis, aku beradaptasi dengan teman-teman baru lagi. Teman sebangku di hari pertama sewaktu SMP adalah Meirina. Aku masih malu-malu dan minder karena yang sekolah di SMP-ku itu berasal dari SD favorit di Solo. Aku berkenalan dengan Rina, aku ingat betul saat itu ia menyebut rumahnya di Jalan Srigunting. Pulangnya aku naik angkot nomor 09, menunggu di selatan sekolah. Selama SMP kadang Papah mengantar dan menjemputku karena saat itu juga sekalian dengan Asa. Aku lebih sering naik angkot, menghadangnya dengan jalan 500an meter dari rumah, pukul 06.00 wib.

Hari pertama masuk SMA. Masa Orientasi Siswa membuat aku lagi-lagi grogi. Aku tak ingat, siapa teman sebangku SMA ku saat pertama kali masuk, kalau tidak salah Fauziah. Yang nempel diingatan, kami anak baru sering  lari-lari karena disuruh cepat-cepat. Saat kumpul di aula pun, kakak kelas meneriaki kami “satu anak satu tegel” alias, barisan harus rapi. Kami menghapal beberapa yel-yel untuk dinyanyikan saat ketemu kakak kelas. Kami juga harus mengumpulkan biodata anak kelas kami dan kelas lain agar tidak mendapat poin. Jika kami melanggar peraturan maka kartu peserta MOS kami akan dijeglog dengan pembolong kertas. Yang paling banyak dapat bolongan, akan dapat hukuman. Yang ketahuan salah atau melanggar, dikumpulkan di aula dan antri jeglogan. Aku ingat betul peraturannya, karena panitia MOS meneriakkan peraturan itu keras sekali. Pasal 1: Panitia selalu benar… dll sampai pasal 13 yang berbunyi: Jika panitia salah, kembali ke pasal satu. Menyebalkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s