Sedikit tentang Robben dan kado puisi

Aku lupa-lupa ingat dengan percakapan yang terjadi di telepon itu. Kalau tidak salah, orang yang ada di seberang percakapan itu bilang
kepadaku bahwa ia akan pulang sebulan lagi. Ia berkata bahwa iamerindukan kami semua yang ada di rumah. Percakapan di pesawat telepon rumah itu tak berlangsung terlalu lama, mungkin dua atau tiga menit.Biaya telepon antar negara memang mahal, ia memakai telepon hotel untuk memastikan kami semua di rumah baik-baik saja.

Kepergiannya ke kota lain merupakan hal yang biasa bagi kami semua.Suatu saat ia harus ke Jakarta, Yogyakarta, atau Surabaya, tapi tidak sampai dua bulan. Aku belum begitu paham dengan alasannya untuk meninggalkan kami selain alasan bekerja.
Biasanya, jika ia pergi lama untuk bekerja, ia akan meninggalkan pakaian atau sarungnya untukku di rumah. Katanya, bila orang yang kau sayangi pergi jauh, obat paling manjur agar orang yang ditinggal tidak terlalu sendu akibat rindu adalah menyelimutinya dengan pakaian yang biasa dipakai. Aku ingat betul sarung hijau dan kemejanya menjadi andalanku. Aku menyimpannya sampai kain sarung itu sobek-sobek dan bulukan, kira-kira sampai aku SMP.

Ia akhirnya pulang dengan barang-barang yang kusukai. Yang kuingat,badannya juga tidak berubah, tidak gemuk dan tidak kurus, bahkan sampai sekarang. Ia mempunyai postur yang sama, tidak terlalu tinggi
dan tidak mempunyai lipatan perut.

Seingatku, ia datang sebelum aku bangunt idur. Pagi-pagi sebelum aku berangkat sekolah sudah ada koper besar dan barang-barang yang berjejer di dekat sofa abu-abu depan televisi. Aku dipeluknya sebentar
dan tersenyum seperti biasa, tidak menunjukkan gigi-giginya.  Aku bukan anak yang cerewet, melihatnya ada di sekelilingku setelah beberapa lama tidak bertemu, sambil mencuri pandang oleh-oleh yang dibawanya, sudah membuatku bahagia kala itu.

Seperti perjalanan-perjalanan sebelumnya dengan pesawat, ia selalu rajin memberikan tisu basah merk maskapai pesawat itu padaku. Dan aku selalu suka tisu basah pesawat karena memang jarang kutemui di rumah.

Aku masih ingat betul bau tisu itu, dan adegan saat ia menyerahkannya padaku, di dekat pesawat telepon. Ia berujar, “sana cepat mandi, buka oleh-olehnya setelah pulang sekolah,” seperti biasa, aku selalu
menuruti perintahnya.

Sepulang sekolah, sudah banyak berjejer oleh-oleh dari nya. Beberapa gulung klise yang harus dicuci cetak  fotonya, ada beberapa boneka yang terbuat dari butir-butir mote dengan warna yang mencolok,kalung-kalung mote,tas bergambar bendera negara yang dikunjunginya,ada juga beberapa kaus, gantungan kuci, tempelan kulkas. Ada salah
satu barang yang amat menarik perhatianku, selembar daun yang sudah mengering.

Ia bercerita, daun itu adalah daun dari pohon yang terbesar di negara itu, mungkin terbesar di benua. Diameter pohon itu digambarkan dengan tak cukup pelukan sepuluh orang dewasa. Aku diam sebentar membayangkan
betapa besar pohon yang dikunjunginya. Ia berpesan pada kami untuk menyimpan daun dari pohon itu karena berasal dari pohon terbesar di seluruh dunia. Daunnya sekarang mungkin masih tersimpan di laci salah
satu buffet di lantai rumah atas, yang sekarang penuh debu.

Ia juga memberi oleh-oleh pensil yang panjangnya semeter dengan tulisan huruf warna-warni SOUTH AFRICA dengan gambar matahari di dekat penghapus ujung pensil super besar itu.  Aku tidak pernah membawanya ke sekolah karena pasti akan ditertawakan teman-temanku. Ia membawa barang asing yang belum pernah kutemui. Seperti kumpulan foto-foto yang belum benar-benar tercetak, seperti klise, tapi kamu
tidak perlu mencetaknya. Kumpulan gambar itu berukuran setengah dari kartu ATM, jika ingin melihat gambarnya, aku harus menerawang dengan menghadapkannya ke lampu, atau sumber cahaya. Dari sana aku melihat pemandangan padang-padang savana yang hijau, padang rumput dengan
singa dan dua anaknya, tepi pantai yang biru dan pasir yang putih. Beberapa gambar tak jauh beda dengan pemandangan Indonesia,
hutan-hutan tropis yang masih rimbun, sungai-sungai. Gambar dari segi empat itu juga memantulkan orang-orang berkulit hitam tanpa pakaian.

Mereka memakai kalung-kalung mote seperti yang ia bawa pulang ke rumah dan memakai kain polos berwarna coklat untuk menutup bagian alat kelamin.

Ia, seperti biasa, membawa pulang buku-buku. Tiga uku yang paling kuingat adalah buku bersampul coklat muda dengan halaman depan foto seorang kulit hitam dan buku kecil berjudul “Afrika yang Resah” karangan Okot p’ Bitek, dan buku-buku promosi berjudul “Kwa-Zulu Natal” dengan huruf yang besar-besar.

Belakangan setelah aku kelas enam, aku benar-benar berniat membaca buku berhalaman depan pria kulit hitam itu. Buku tebal itu ternyata bercerita tentang Nelson Mandela. Presiden kulit hitam pertama yang terpilih melalui pemilihan umum.

Ia pergi ke Afrika Selatan untuk meliput
peristiwa kali pertama rakyat Afrika Selatan menggunakan hak pilih, meludahi politik apartheid yang saat itu membelenggu “benua hitam”.

Aku membaca buku yang berbeda kemarin malam, yang berisi gambar-gambar
pemilihan umum pertama kali Afrika Selatan seperti apa yang diliputnya. Waktu seperti berhenti sebentar dan aku seperti kembali ke
empat belas tahun silam. Saat ia menceritakan perjalanannya ke Pulau Robben, pulau tempat orang-orang kulit hitam di sana ditawan ditemani seorang laki-laki sebayanya yang katanya sedikit mengerti bahasa Indonesia karena beberapa pengalaman menemani orang Indonesia.  Mereka sempat makan daging buaya.

Ia berfoto di sebuah kapal penuh coretan dekat pelabuhan menuju Pulau Robben dengan pemandu tadi. Di salah satu foto, ekspresinya lucu sekali. Tak sengaja ada kuskus lewat dan masuk dalam frame foto, ia
nampak kaget. Ia tak pernah selucu itu di dalam foto, biasanya nampak kaku dan serius.

Membaca lagi tentang Afrika, Nelson Mandela, pemilihan umum, ras, apartheid, penjara, tawanan, rugby, kerja-kerja peliputan, penulisan, selalu terus menuju padanya. Melihat sarung-sarung hijau, menuju bandara, ke stasiun mengantar kepergian dan isak tangis dalam mobil setelahnya, akan selalu terus menuju padanya.  Dan entah kebetulan atau apa, kegiatanku selama ini juga tak jauh-jauh dari apa yang digelutinya lampau.

Banyak hal terjadi setelah kepergiannya ke Afrika. Banyak hal tentang kebahagiaan, kesederhanaan yang harus kami lakoni karena ia tak lagi bekerja meliput, juga peristiwa yang tidak bicara tentang kebahagiaandan tawa-tawa yang cair. Melainkan suasana dingin yang kikuk, atau
foto yang dipaksakan. Beberapa hal yang tidak enak memang harus terjadi dan kami harus menelannya tega-tega. Namun aku tahu, kami selalu terhubung lewat doa-doa.

Aku juga tidak pernah ingin melewatkannya dalam keputusan-keputusan besar dalam hidupku. Ia juga tak ingin melewatkan itu.

Mungkin, aku juga banyak mengecewakannya dalam beberapa hal. Aku juga pasti sering membuatnya bersedih dan marah sampai keadaan ini belum benar-benar mencair. Kami jarang bertemu. Ia juga tidak meninggalkan pakaiannya seperti saat ia bertugas ke beberapa daerah.

Kepergiannya saat itu mengepak buku-buku, termasuk buku dengan sampul Mandela, membuatku benar-benar terpukul. Orang pergi dan mengepak buku-buku kesayangannya, bukan pertanda baik.

Sama saat seperti kepergiannya mengunjungi tanah Mandela, aku tidak pernah benar-benar paham alasannya meninggalkan rak-rak buku di rumah.

Aku tidak pernah benar-benar paham, tapi aku terus mencoba paham, setiap hari, setiap doa.

Ia mungkin juga kaget dan tak paham benar denganku sekarang dengan beberapa perubahan dan keputusan yang kubuat. Satu hal yang pasti, aku tetap anak perempuan satu-satunya yang ia beri kado cuplikan puisi
saat hari kelahiranku. Aku melaminasi cetakan yang sudah berwarna coklat tua itu dan menempel di dinding kamar lama.

Bait terakhir puisi karangan Jenderal Douglas itu begini:

“Jika semua itu terjadi, beranilah aku berbisik “tak sia-sia aku menjadi ayahnya”

Doa-doa baik selalu tersemat untuknya, semoga ia menemukan rumah yang
membahagiakan .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s