Ibuku

Ibu sering menitipkan sepeda biru peninggalan almarhum adikku di halaman rumah sakit dekat rumah kami. Satpam di rumah sakit itu sudah hapal dengan ibuku. Setelah parkir, ia biasanya menyetop bus di halte depan rumah sakit itu. Ibu pergi kemanapun dengan bus, pergi liputan, pergi diskusi bersama teman-temannya, atau sekedar jalan-jalan ke sebuah mal hanya untuk mengisi pulsa modem.

Ibuku orang biasa yang sering pergi ke mana-mana sekaligus menulis tentang apa saja. Beda denganku yang tempatnya melulu hanya beberapa sentimeter di depan laptop di sebuah ruangan, stasiun kereta, tempat parkir sepeda motor, dan tempat tidur. Ibu pergi untuk mencari berita di tempat-tempat yang belum pernah kukunjungi. Ia pergi bekerja, setelah mencuci baju, menyiapkan lauk untuk adikku, dan menyuntikkan insulin ke nenekku. Ia pergi liputan hampir setiap siang hari. Kalau-kalau satu siang tidak ada liputan, malam harinya ia sudah bingung besok mau pergi ke mana, dan rute bus mana yang harus ditempuh. Persis seperti malam ini, ia resah esok hari mau bekerja ke mana, dan akhirnya malam ini ia putuskan untuk tidur saja, daripada memikirkannya.

Ibuku, orang biasa yang mempunyai banyak teman. Aku sendiri heran, sering tiba-tiba ia sibuk membalasi pesan di selulernya karena ada anak SMA yang sedang curhat. Mungkin ia punya lebih banyak agenda ngobrol, diskusi, dan main daripada aku. Mungkin itu yang membuat ia lebih kelihatan muda daripada aku. Kami sering sekali dikira kakak beradik. Kalau sudah begitu, aku mengangguk saja kepada orang-orang yang bilang “Brita, itu mbakmu ya?”. Ibuku biasanya langsung menyanggah, “Duh, Brita itu anak saya,”. Sampai di rumah Ibu biasanya bangga sekali karena dia dianggap kakakku,sambil bergaya dan berkedip- kedip. Aku biasanya langsung berekspresi datar.

Ibuku orang biasa yang sering sekali gagap teknologi, alias gaptek. Ia percaya bahwa pulsa modem hanya bisa dibeli di konter-konter di mal yang bertuliskan provider modem itu. Selain itu, ia tak percaya bahwa pulsa modem bisa dibeli di atm, atau transaksi pulsa biasa. Aku pikir, itu hanya alasan dia untuk bisa ke mal dan jalan-jalan, lalu membeli nasi oseng-oseng seharga lima ribu rupiah, atau makan di angkringan depan mal.

Ibuku lumayan lancar menggunakan komputer. Program yang dikuasainya lumayan oke,a menyalakan komputer, membuka Microsoft word, membuka surel , dan menyimpannya. Oke, kan? Ibuku sering sekali facebook-an. Ritualnya membuka facebook adalah dengan membuka google dahulu, mencari facebook dengan namanya, baru setelahnya ia log in. Bukan langsung menuju ke laman facebook.com.  Sesekali ia sering mendengarkan music lewat komputer, biasanya music keroncong, campursari, atau lagu-lagu jadul. Ia sering minta tolong adikku untuk mengunduhnya. Aku rasa,ibuku sangat setia, bahkan pada komputernya sendiri. Ia sering gagap kalau harus meminjam laptopku karena katanya belum terbiasa, padahal programnya sama saja.

Ibu sekarang, jauh berbeda dengan ibu dulu. Ibuku dulu adalah ibu yang jarang sekali pergi ke luar rumah. Keluar paling untuk arisan PKK, atau pergi bersama kami. Ia di rumah, mengurus nenek, oom-ku yang dulu masih sekolah, aku, adikku, dan ayah. Ibu dulu setiap hari memasak dan di rumah saja.

Ibu sekarang memang jarang memasak, karena menurutnya secara perhitungan, biaya memasak lebih mahal. Di rumah kami hanya ada empat orang, aku, adikku, nenek, dan ibu sendiri. Katanya,lebih baik membeli sayur matang karena tidak akan terbuang.  Ibuku sangat membenci membuang makanan. Setauku, ibu tidak pernah marah kepadaku, kecuali tentang makanan yang tidak kuhabiskan . Sayur matang juga menyiasati kegiatan ibu yang padat.

Mamah dan aku

Mamah dan aku

Ibu jarang mengeluh. Capek, lelah, pusing mungkin ia hadapi setiap hari karena rutinitasnya. Ibu menyelesaikannya dengan tidur, minim keluhan. Ibu pernah mengeluh saat benar-benar sakit. Pernah beberapa bulan lalu, asmanya kambuh setiap malam. Beberapa kali kubawa ibu ke klinik berobat, ia bahkan jarang menyebut ia sedang sakit. Ibu saat itu sering bilang, bahwa asma kambuh karena cuaca. Aku amat mengkhawatirkannya saat itu.

Ibu, dulu maupun sekarang, tetap satu-satunya ibuku. Ia selalu mempunyai caranya sendiri untuk membuat hidupnya bahagia dan indah. Ia selalu punya siasatnya sendiri untuk menyelesaikan banyak pekerjaan setiap hari. Ibu selalu punya caranya sendiri untuk menasehatiku dan adikku. Ibuku, tidak pernah marah dengan apapun yang aku dan adikku kerjakan. (Kecuali tentang makanan yang tidak dihabiskan, aku yang lupa membenarkan letak helm-ku di kepala).

Tulisan-tulisan seperti ini tidak akan cukup untuk menceritakan orang-orang seperti ibu kita. Lewat tulisan ini, aku ingin mengenalkan pembaca tentang ibuku, orang biasa yang melahirkan dan mendidikku. Aku juga selalu ingin tahu cerita-cerita orang tentang ibunya.  Tentang apa warna favoritnya, atau tentang cerita masa mudanya..

Anyway, terima kasih Mamah. Terima kasih selalu bertoleransi  atas apa-apa yang terjadi di dalam aku, atas perubahan-perubahan yang kulakukan. Aku selalu menyayangimu dengan cara-cara aneh yang mungkin sukar kau mengerti.❤

6 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s