Menjadi Tua dan Tetap Gelisah

Sein Letztes Rennen (Back onTrack) gambar diunduh dari www.echo-online.de

Sein Letztes Rennen (Back onTrack) gambar diunduh dari http://www.echo-online.de

Kata Tan Malaka, hal yang paling berharga yang dimiliki oleh seorang pemuda adalah idealisme. Slogan tersebut tidak lagi berlaku pada bapak tua satu ini, yaitu menjadi tua dan tetap mempertahankan idealismenya. Film Jerman, Sein Letztes Reinnen (Back On Track), mengisahkan tentang idealisme dan cobaan-cobaannya.

Paul Averhoff (diperankan oleh Dieter Hallervorden) menyatakan belum selesai menjadi dirinya sendiri walaupun vonis untuk menyerah kepada panti jompo harus ia hadapi bersama istri dan teman jompo lainnya.

Saat temannya yang lain khusyuk mendengarkan khotbah dari pendeta, ia justru merasa asing dan tak tahan duduk berbaris dengan teman se-perjompo-an. Kakinya digerakkan, pandangannya tidak fokus, beberapa saat kemudian ia sudah tidak lagi ada di tempat duduknya.

Adegan berganti. Teman-teman yang sebelumnya khusyuk bernyayi, sekarang konsentrasi mereka terpecah karena pria baru dalam sekawanan itu  justru ber-jogging mengitari kapel gereja dalam kompleks panti jompo itu.

Ia memang tidak bisa lepas dari idealisme dan masa mudanya. Sebagai peraih medali emas Olimpiade dalam kejuaraan berlari, ia belum merasa selesai dan puas. Sekarang, ia dihadapkan dengan masa depan yang pasti, yaitu kematian.

Setidaknya, kematian lah yang menjadi bulan-bulanan pengurus panti Setiap orang seolah-olah harus menjalani cara menuju mati sebagai sebuah pola dengan kegiatan yang khas seperti setiap pagi harus berdoa di depan kepel. Lalu menyulam (karena kegiatan ini tidak membutuhkan banyak tenaga), bernyanyi (untuk sementara waktu menghilangkan kecemasan tentang bagaimana nyawamu berjalan dari ujung kaki ke tenggorokan)

Paul itu juga menghadapi kecemasan yang sama seperti jompo Jerman lainnya yaitu menghadapi kesendirian yang amat sangat. Tidak ada kultur kekeluargaan dalam budaya Jerman. Manula yang sudah bebas tugas mengurus anaknya tidak lagi mempunyai pilihan lain selain panti jompo. Selain kultur individualis, tidak mau merepotkan orang lain, film itu berusaha menuturkan bahwa negara siap mengurus orang-orang yang dianggap tidak lagi produktif seperti sewaktu muda. Ya, mereka memang dikondisikan untuk produktif tetapi tetap bekerja yang tidak terlalu berat.

Pak Tua ini membatalkan mitos “jompo dan tidak bisa apa-apa”, dan menghadirkan kembali romantisme masa mudanya. Ia adalah seorang pelari marathon, sampai akhir hidupnya. Ia bertaruh untuk tetap ikut Berlin Marathon, padahal pandangan sinis teman-teman jomponya mengintai saat ia berlatih berlari. Ya, sudah bisa ditebak bahwa ia mampu menyelesaikan larinya Ia berhasil menyenangkan diri-sendiri dengan bertahan pada apa yang ia yakini, yaitu ia tetap bisa memegang idealismenya. Ia bertahan bisa menjadi tetap muda dan idealis, walaupun ia tua dan lebih mudah terengah-engah.

Sein Letztes Rennen berhasil menghadirkan paradoks idealisme. Kamu akan keukeuh mempertahankannya, atau ikut larut dalam gempuran-gempuran lingkunganmu. Skenario memilih untuk menghadirkan tokoh yang bisa melampaui gempuran tersebut.

Menurut saya, benang merah film ini adalah kegelisahan akan keadaan atau eksistensi ternyata (harus) berlangsung seumur hidup. Manusia selalu memiliki keinginan untuk mencapai hal-hal yang ingin dia raih, apapun itu, juga termasuk keinginan untuk tidak meraih apa-apa (toh itu juga keinginan).

Kalimat-kalimat “ Saya berpikir, maka saya ada” adalah langkah pertama untuk membayangkan apa yang ideal dan bergelut tentang itu. Pergulatan antara kenyataan dan harapan itulah yang disebut masalah, dan masalah-lah (yang seharusnya) menantang kita untuk terus gelisah, berpikir, dan melakukan. Menjadi seorang muda dan tetap gelisah (tentang semua hal di dunia ini) itu harus, tapi menjadi tua dan tetap gelisah, itu perlu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s