Difabel dan Aksesnya ke Media Film

Difabel rungu terlibat dalam proses produksi Film "Pencari Keadilan" sebagai juru kamera

Difabel rungu terlibat dalam proses produksi Film “Pencari Keadilan” sebagai juru kamera

Gambar, suara, cerita, layar, merupakan komponen film yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Jika sebuah cerita dibingkai dalam gambar tanpa suara, namanya tidak lagi film, tapi foto. Jika sebuah cerita terangkum dalam suara, namanya tidak lagi film tapi bisa saja lagu atau siaran radio.

Film merupakan sebuah media yang memanjakan kita dari segi visual dan audio dalam satu bingkai. Film sebagai media komunikasi, penyampai pesan dari pembuat kepada penikmat. Yang terjadi adalah penyampai pesan akan menggunakan shot gambar untuk mendeskripsikan peristiwa, dialog untuk merekam dialektika dan elemen pendukung lain untuk membangun suasana sesuai dengan skenarionya.

Manusia membuat penemuan untuk bertahan hidup dan membuat sejarah sebagai penuntasan rasa ingin tahu alaminya. Begitu juga dengan Lumiere Bersaudara, penemu cinematographe, alat rekam gambar bergerak merupakan asal mula industri film modern. Berangkat melalui realitas, Lumierre Bersaudara membuat ilusi realitas melalui pembuatan cinematographe untuk menuntaskan rasa ingin tahunya.

Perkembangan budaya (salah satunya film) seiring sejalan dengan bertambahnya kebutuhan manusia itu sendiri. Manusia menggunakan media film untuk keperluan hiburan, pendidikan, dan berekspresi. Semua orang dapat menggunakan media film sesuai dengan kebutuhan dan kepentingannya, tak terkecuali difabel.

Difabel dan Komoditas Film

Ada banyak cerita film yang bercerita tentang difabel, misanya A Beatiuful Mind (2001) yang bercerita tentang penyandang skizofrenia, atau My Left Foot (1989) tentang penyandang cerebral palsy, atau Forrest Gump (1995) yang berkisah tentang seorang mental intelektual yang dapat meraih impiannya.

Tema difabilitas sering mendapatkan nominasi dalam penghargaan film Oscar. Sebut saja The Best Years of Our Lives (1947), One Flew Over the Cuckoo Nest (1976),Rain Man (1988), Avatar (2010), dan The King’s Speech (2011). Avatar sempat menerima kritikan dari komunitas difabel karena tidak mencerminkan kehidupan difabel itu sendiri. Pertanyaan saya, apakah difabel sendiri dapat menikmati film yang bercerita tentang dirinya sendiri?

Siapa bilang?

Siapa bilang difabel tidak dapat menikmati media audio visual ini? Difabel bisa menikmati film. Perbedaan fisik yang dimiliki dan tidak berfungsinya organ fungsional difabel tidak membuat difabel tidak mau untuk menggunakan film sebagai media komunikasi. Difabel dengan hambatan visual maupun audio mempunyai caranya tersendiri untuk menikmati gambar bergerak, suasana dan skenario film.

Difabel netra bisa menikmati film cerita apabila ada teman di sampingnya yang menjelaskan visualisasi gambar gerak film. Teman tersebut tidak usah lagi menjelaskan dialog film, karena difabel netra mendengarnya (kecuali bila diperlukan misal film berbahasa asing). Pendamping yang ada di sampingnya cukup menjelaskan visual, misal adegan pemain berjalan, atau membaca buku di bangku taman, dan suasana di sekelilingnya.

Difabel rungu mengerti dialog di dalam film apabila ada subtitle atau transkrip dialog yang berjalan saat pemain bercakap. Beberapa film asing bahkan sudah menambahkan transkrip bunyi-bunyian pembangun suasana. Misalnya akan ada tulisan “Gelas pecah”, “pintu diketuk”. Apabila difabel rungu menonton film di bioskop, getaran suara dari soundsystem membantunya untuk merasakan suasana film. Semua orang di dunia ini tetap bisa menikmati film apabila diberikan akses.

Belakangan ini, difabel terlibat dalam kerja-kerja yang melampaui apa yang sering disebut masyarakat sebagai “keterbatasan”. Melalui fasilitasi dari sebuah organisasi bernama Kampung Halaman, difabel netra belajar fotografi. Teknologi menjadi jalan manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Ada software yang bisa dipasang di perangkat seluler untuk dapat mengaudiokan perintah, termasuk memberitahu obyek foto saat akan memotret.

Difabel bahkan mampu membuat film tentang isu difabel sendiri dengan prinsip inklusivitas yaitu melibatkan lintas difabilitas dan orang nondifabel. “Pencari Keadilan” sebuah film yang bercerita tentang proses hukum difabel korban kekerasan seksual, yang baru-baru ini diinisiasi oleh Sasana Integrasi dan Advokasi Difabel (SIGAB) adalah contohnya. Proses pembuatan film yang inklusi dan sensitif terhadap kebutuhan difabel dalam produksi membuat film tersebut memiliki “ruh” inklusi. Pun, dalam hasil edittingnya yang mempertimbangkan aksesibilitas difabel netra dan rungu.

Film, sebagai proses dan hasil budaya, tak melulu monoton gambar dan suara saja. Ketersediaan akses untuk difabel agar dapat menikmatinya, adalah sebuah langkah indah untuk membangun budaya inklusi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s