Pemimpi(n) Inklusi*

“Nothing about us, without us..” Segala hal tentang kita tidak akan berarti bila tanpa kita. Slogan tersebut merupakan slogan untuk pergerakan difabel di seluruh dunia untuk memperjuangkan keadilan.

Difabel merupakan kependekan differently able people, orang dengan kemampuan berbeda. Difabel merupakan istilah yang diperkenalkan oleh Mansour Fakih untuk mengganti kata “penyandang cacat” dan “penyandang disabilitas”. Bahwa difabel sama seperti orang lain, difabel netra tetap bisa membaca dengan alat bantu, difabel rungu tetap bisa berkomunikasi dengan bantuan bahasa isyarat. Difabel sama dengan manusia lain yang memiliki kemampuan dan kebutuhan yang berbeda-beda.

Difabel berkelindan tantangan (bukan masalah) yang mempunyai kompleksitasnya masing-masing. Bidang sosial, politik, pendidikan, kesehatan, hukum, dan aksesibilitas masih mempunyai “tembok” untuk memasukkan perspektif difabel dan inklusivitas di dalamnya. Stigma bahwa difabel tidak mampu untuk mengerjakan sesuatu tidak hanya menempel pada setiap kebijakan pemerintah, tapi juga hidup dalam masyarakat.

Indonesia untuk Semua

Menjadi Indonesia adalah menjadi Bhinneka Tunggal Ika,yaitu  menghidupi perbedaan dengan harmonis.  Perbedaan bukan hanya dalam hal suku, agama, ras, antargolongan, dan ideologi saja, tapi juga keberagaman manusia secara fisik.  Kesiapan kita untuk berdamai dengan perbedaan semoga tidak hanya sebatas jargon belaka. Mewujudkan Indonesia yang inklusif, Indonesia yang merangkul semua warga negara tanpa kecuali, adalah cita-cita semua orang termasuk difabel.

Jumlah difabel di Indonesia memang tidak banyak. Menurut data yang dihimpun oleh World Bank dan World Health Organization pada tahun 2011 lalu, jumlah difabel di Indonesia adalah 15 persen dari seluruh penduduk Indonesia yaitu 35,7 juta. Namun, dengan jumlah yang hanya 15 persen tersebut seharusnya tidak membuat negara melakukan pembiaran atas tidak adanya perlindungan atas hak asasi manusia bagi  difabel.

Tidak adanya perlindungan kelompok marginal seperti difabel , tidak boleh dianggap main-main. Alinea keempat pembukaan  Undang-Undang Dasar Negara Tahun 1945 sudah menyebutkan bahwa negara akan melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia.

Seperti tertera dalam Undang-Undang Nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia bahwa tugas pokok negara adalah proteksi dan realisasi.  Indonesia sebagai negara hukum harus menjamin adanya the rule of law penjaminan atas hak asasi manusia oleh negara kepada warga negara. Penjaminan hak asasi manusia kepada warga negaranya diwujudkan melalui pelaksanaan untuk mempromosikan (to promote), melindungi (to protect), menjamin (to guarentee),  memenuhi (to fulfill), memastikan (to ensure) HAM.

Indonesia sebenarnya sudah  mempunyai produk hukum yang membahas mengenai difabel yaitu Undang-Undang Nomor 4 tahun 1997 tentang Penyandang Cacat. Namun, undang-undang tersebut tidak memiliki perspektif hak asasi manusia dalam memandang permasalahan difabel.  Undang-undang tersebut belum mengadaptasi Konvensi Hak Penyandang Disabilitas PBB atau United Nation Convention on the Rights of Persons With Disabilities (UNCRPD). Indonesia sendiri sudah meratifikasi konvensi tersebut dalam Undang-Undang Nomor 19 tahun 2011 tentang ratifikasi konvensi penyandang disabilitas.

Paradigma yang digunakan masih paradigma charity atau bantuan , menganggap bahwa difabel adalah orang yang selalu bergantung dengan orang lain. Padahal, difabel bisa mengerjakan  apayang dikerjakan oleh nondifabel, tak jarang malah difabel melakukannya lebih baik. Hal tersebut menjadi tidak relevan dengan konsep hak asasi manusia yang memandang manusia secara subyek yang utuh dan otonom.

Pergerakan difabel untuk mempunyai undang-undang baru saat ini tengah diperjuangkan. Rancangan Undang-Undang tentang penyandang disabilitas sudah masuk ke Badan Legislasi Nasional (Balegnas) di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Masa jabatan anggota dewan yang akan segera habis seharusnya tidak menjadi alasan pengesahan yang terburu-buru untuk mengejar tenggat waktu. Undang-undang yang akan disahkan seharusnya mengakomodasi kepentingan difabel.

Prinsip inklusivitas dan universal-lah yang coba didorong oleh pergerakan difabel. Break barriers open doors, for inclusive society and development for all. Hapus hambatan, buka kesempatan demi terwujudnya masyarakat inklusi untuk semua. Perbincangan masalah difabilitas seharus tidak eksklusif oleh dan dari difabel saja, tapi juga semua orang.

Indonesia mempunyai nafas baru dengan presiden terpilih Joko Widodo dan Muhammad Jusuf Kalla. Harapan, mimpi, cita, dan doa rakyat panjatkan untuk pemimpin baru Indonesia.  Hal ini juga menjadi Tetapsemangat baru pergerakan Indonesia yang lebih inklusif.

Joko Widodo dalam masa kampanyenya  5 Juli 2014 lalu menandatangani sembilan piagam, salah satunya Piagam Prof. Soeharso untuk menunjukkan keberpihakannya terhadap difabilitas. Janji untuk memberikan kepastian perlindungan  difabel dalam  memperoleh hak  ekonomi, sosial, politik, pekerjaan, kebudayaan, jaminan pendidikan, kesehatan,  dan jaminan sosial sudah tertera hitam di atas putih.

Dalam  piagam tersebut, Joko Widodo juga berjanji untuk membangun pemerintahan yang memiliki persepsi bahwa difabel adalah aset bagi negara, bukan beban.  Difabel adalah subyek dalam pembangunan, bukan obyek. Sebuah langkah yang patut diapresiasi.

Program dan kebijakan pemerintah harus berintegrasi dan bersinergi dengan perspektif difabilitas dan inklusivitas. Toh, yang akan menikmati kebijakan tersebut juga seluruh rakyat Indonesia. Jadi, tidak ada  ruginya untuk menjadikannya ramah untuk difabel.

Mimpi akan selamanya menjadi angan-angan apabila tidak ada tindakan riil untuk mewujudkannya. Sebuah tantangan untuk presiden dan wakil presiden terpilih serta kabinet yang akan dibentuk untuk menjadikan Indonesia yang inklusif menjadi sebuah kenyataan. Jika semua mimpi dapat diwujudkan melalui pemimpin yang inklusif, maka saya tidak ragu untuk berkata bahwa Indonesia yang harmoni adalah Indonesia yang inklusif.

*tulisan ini pernah dimuat di http://www.solider.or.id dengan judul “Menjadi Indonesia yang Inklusif”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s