Solo itu Sederhana

Sebuah kota terasa hidup karena manusia-manusia yang memberikan nafas melalui hiruk pikuk kegiatannya. Pun dengan kota Solo.  Cukup sulit sekaligus lumayan mudah untuk menangkap kesan tentang kota yang sedang banyak dibicarakan orang ini.

Saya adalah perempuan asli solo. Saya dan orangtua lahir di kota yang dilewati aliran Sungai Bengawan Solo ini. Saya akrab dengan Solo selama 18 tahun. Pasca lulus SMA, saya memutuskan untuk merantau di Yogyakarta.  Walaupun jarak Solo-Jogja tidak terlalu jauh, saya termasuk mahasiswa yang jarang pulang ke rumah.

Delapan belas tahun akrab dengan Kota Solo tidak membuat saya mudah untuk menangkap kesan tentang kota ini.  Saya menyerap kesan kota Solo setelah tiga tahun lepas darinya. Sedikit berjarak dengan Solo membuat saya sering memunculkan kembali memori masa kecil.

Memori kebersamaan keluarga menjadi kenangan yang tidak bisa dipisahkan dari Solo. Dahulu sewaktu saya masih kecil, keluarga saya sering mengajak piknik ke Taman Satwataru Jurug. Ayah saya menggelar tikar, sedang ibu saya menyiapkan bekal yang akan kami makan bersama. Saya masih ingat betul, pulangnya kami menaiki delman. Atau kebiasaan ayah saya mengajak anak-anaknya untuk menikmati hidangan istimewa kampung (HIK) di depan Monumen Pers. Ibu saya juga sering mengajak saya pergi ke Pasar Klewer. Kebetulan ia dulu pernah menjadi bakul batik untuk dijual lagi.

Pemaknaan saya tentang kota ini hadir lewat kebersamaan saya dengan orang-orang yang saya kasihi dan lewat aktivitas sehari-hari. Seperti pergi ke sekolah, berkumpul dengan teman-teman alumni, atau sekedar berjalan kaki saja. Kehangatan Solo saya peroleh dari momen-momen pribadi, tidak ada yang sifatnya grandiose. Saya ingin mengingat Solo sebagai sebuah kesederhanaan, seperti rumah, tempat berpulang.

Mengingat Solo melalui Pasar Gedhe

Beberapa waktu yang lalu saya diajak ibu saya untuk menemaninya ke Pasar Gedhe. Katanya, ia ingin meluangkan waktu bersama saya karena saya jarang pulang. Kami berencana untuk membeli tengkleng di depan pintu Pasar Gedhe dan jajan es dawet yang terkenal itu. Tengkleng dengan kemasan pincuk (kemasan dengan daun pisan-red)  itu kami santap di tempat, dengan menumpang lapak penjual angkringan yang sudah kosong di seberang klenteng.

pasargede5

Rupanya, suasana pasar Gedhe tak banyak berubah. Terakhir kali ke sini, sekitar dua tahun yang lalu, saya membawa sebuah misi. Kala itu, saya dan teman-teman  sedang mengikuti Workshop Puisi Afrizal Malna. Kami semacam ‘praktek lapangan’ untuk ‘menangkap’ imajinasi yang sebenarnya ada di mana-mana. Salah satunya ada di Pasar Gedhe. Saya menemui banyak puisi dari aktivitas ‘penduduk’ pasar yang bernama asli Pasar Gedhe Hardjonagoro ini.

Ini adalah salah satu puisi tentang Pasar Gedhe.

Catur gatra tunggal
Perkenalkan. Aku empat bersaudara. Kakak pertamaku ,Ratu tinggal di Selatan, ia mempunyai istana, di dalamnya ada pasir-pasir laut. Katanya sekarang ia bingung, hatinya terbagi dua, mengaku benar semua. Kakak keduaku tak jauh dari kakak pertamaku. Aku sering memanggilnya Suket. Ia lapang, kaya dengan rumput kadang permainan anak-anak, bahkan kau bisa gunakan untuk berlari-lari. Kakak ketigaku memang sedikit aneh. Ia mau bersuara di jam-jam tertentu, kadang aku tak mengerti bahasanya. Banyak orang datang memanjat doa, yang lain mengamini, lalu mengusap muka. Terakhir aku, hehe. Aku tak bisa diam, seperti detak jam yang batere tak habis-habis, seperti langkah ibu-ibu menggendong tenggok yang tinggal di perutku. Kadang aku bau, eits, tak berarti aku tak pernah wangi. Aku berhias cahaya-cahaya, berpendar kembang api, gong xi gong xi. Namaku Harjonagoro.*

(puisi lainnya bisa dilihat melalui tautan ini)

*Pasar Gedhe dikenal sebagai salah satu catur gatra tunggal atau empat kesatuan. Empat bersaudara dari ikon kota Surakarta yaitu Kraton Kasunanan sebagai pusat pemerintahan, Alun-alun sebagai tempat berkumpul, masjid sebagai tempat berdoa, dan pasar sebagai tempat jual beli.

Modernitas masuk ke Pasar Gedhe. Lantainya sekarang dikeramik, beda dengan sewaktu saya masih kecil dulu. Dulu lantainya masih berupa tegel abu-abu, lain dengan sekarang yang sudah aksesibel bagi penyandang disabilitas.

Kesederhanaan yang dihadirkan Pasar Gedhe sangat identik. Pertama, jam di depan pasar tersebut. Tidak banyak yang berubah dari jam itu. Setahu saya dulu jam yang tertempel pada sebuah tugu itu pernah nyala, tapi beberapa kali saya melihat jam itu mati.

Kedua, suasana akulturasi budaya yang sangat harmonis. Perayaan Grebeg Sudiro setiap tahun baru Imlek merupakan salah satu contoh pentingnya. Semua orang Solo (tidak peduli etnis Cina atau bukan) tumplek blek(membaur-red) di bawah jam Pasar Dedhe. Langit-langit Pasar Gedhe indah dengan lampion-lampion. Orang-orang merasa memilikinya, tidak hanya etnis Tiong Hoa saja, tapi juga seluruh warga Solo akan menanti-nanti perayaan Gong Xi Fat Choi.

pasargede2

Sejarah panjang etnis Tiong Hoa di Solo pernah menjadi cacatan bagi bangsa ini sejak zaman Belanda dengan adanya Geger Pecinan, belum lagi dengan adanya perusakan saat Mei 1998, juga diskriminasi lain. Hal tersebut sukar dilupakan dan patut dijadikan pelajaran bahwa semua orang itu berhak mendapatkan perlakuan setara tanpa diskriminasi.

Pengamatan ketiga saya adalah suasana unik Pasar Gedhe. Banyak pedagang Pasar Gedhe yang masih menggunakan sempoa untuk membantunya menghitung. Di tengah banyaknya alat bantu digital, banyak pedagang Pasar Gedhe masih fasih memainkan sempoanya dan menghasilkan bunyi ‘krek krek’ hasil sentuhan kayu satu dengan kayu yang lain. Praktik jual beli yang sangat otentik.

Langit Pasar Gedhe saat Imlek

Langit Pasar Gedhe saat Imlek

Pola yang tetap berupa kesederhanaan tanpa melarang modernisasi hadi di Pasar Gedhe. Sebuah ikon khas Kota Solo yang kadang diingat saat libur keluarga tiba. Banyak yang mampir ke Pasar Gedhe untuk mencari oleh-oleh. Mau tak mau Pasar Gedhe bersaing dengan toko-toko modern yang semakin marak di Solo.

Gambaran Pasar Gedhe yang menghadapi modernitas dengan kesederhanaan yang khas itulah yang menjadikan tempat ini berkesan bagi saya. Interaksi harmonis antar etnis, langit-langit yang indah saat tahun baru Imlek, bangunan-bangunan ikonik seperti tugu jam dan klenteng Tien Kok Sie lah yang membuat saya selalu ingat rumah saya, Solo.

Melihat Solo tak perlu melulu dari jargon-jargonnya saja. Kadang kita perlu mengalaminya sendiri, seperti saya mengalami kenangan dengan keluarga di suatu tempat, kenangan saya bersama ibu saya membeli tengkleng di Pasar Gedhe.

Ibu penjual pepaya di depan pasar

Ibu penjual pepaya di depan pasar

Kita bisa memberi kesan terhadap sesuatu melalui momen. Kesan keharmonisan yang sederhana tentang akulturasi budaya bisa ditemui di Solo, khususnya di Pasar Gedhe. Kesederhanaan melalui kehangatan interaksi antarmanusia inilah yang bisa diberikan Solo. Jika kesederhanaan itu tetap dipertahankan untuk menjaga keharmonisan, maka saya tak ragu untuk bilang ‘bangga dadi Wong Solo”.

Foto diambil oleh : Brita Putri Utami pada Februari 2011

 

banner

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s