Obrolan Bobo di Warung Kopi

(Sebuah kritik dan otokritik)

Sebuah pesan dari seorang kawan masuk ke telepon selular. “Ngopi, Yuk!”. Selang beberapa jam setelahnya, saya sudah duduk sambil menunggu pesanan makanan di sebuah warung kopi (yang katanya) terbesar di Yogyakarta.  Malam itu saya menuliskan es cokelat (chocholate milkshake) dan sepiring sandwich dalam kertas pesanan makanan.  Kala itu adalah kedua kalinya saya berkunjung ke kedai kopi, warung kopi, atau istilahnya populernya coffee shop yang sudah membuka banyak cabang di Jogja.

Banyak yang kami bicarakan, tapi jangan bayangkan obrolan tentang penangkapan seorang hakim, atau kasus kemanusiaan tentang bayi sembilan bulan yang mati, organ vitalnya rusak diduga akibat kekerasan seksual oleh keluarganya sendiri. Kami tidak membicarakan hal itu, kami sama-sama capek dengan koran nasional Senin sampai Sabtu yang beritanya selalu membuat kami berkerut dahi sambil bersumpah serapah (Kami sama-sama lebih menyukai koran Minggu, walaupun tetap saja tidak bisa menghindari untuk tidak membaca koran hari kerja).  Kami berbagi aktivitas masing-masing, apa yang sedang kami lakukan, bagaimana keluarga di rumah. Saya bercerita tentang keadaan skripsi saya, dan kawan saya itu berbagi cerita tentang kehidupan cintanya. Kami saling bercerita dan saling mendengarkan.

Di sela-sela kegiatan curhat dalam ajakan “ngopi, yuk!” ini, saya sempatkan melihat situasi sekeliling saya.  Suasana coffee shop ini tidak jauh berbeda dengan kunjungan terkahir saya. Interiornya masih sama, enam pasang meja kursi  model betawi, hiasan berupa foto-foto jaman dulu, beberapa ukiran khas jawa menempel di dinding. Di sebelah barat lantai pertama coffee shop ini ada sebuah tempat dapur minuman kopi dibuat, belakangan saya mengetahui istilah dapur kopi itu sebagai barista bar, pembuat kopinya disebut sebagai barista. Di atas barista bar itulah berbagai macam menu dituliskan dengan kapur warna-warni memakai huruf tegak bersambung di sebuah papan tulis. Espresso, cappuchino, latte, milkshake, smoothies, fruit juice adalah beberapa menu yang tertulis indah, klasik, dan unik di papan tulis. Oh iya, ada Indonesian Origin Coffee juga, kopi aceh, lampung, dan lain-lain. Sementara mengalun lagu dari operator kafe, “don’t carry the world upon your shoulder…” rupanya Beatles sedang memainkan Hey Jude.

Aktivitas orang yang mengisi ruang tema “Indonesia” dalam coffee shop tersebut beragam. Ada yang mengobrol berdua, seperti kami, sambil menyeruput lemon tea di depan mejanya, di sudut sebelah barat seorang pemuda gondrong sedang asyik menulis melalui komputer jinjingnya, sambil sesekali menyeruput cangkir kecil kopi hitam yang sudah hampir habis. Sekumpulan anak muda sebaya kami, sebanyak lima orang sedang serius rapat (sambil serius bercanda), dua di antaranya membuka macbook sambil tidak mau ketinggalan obrolan. Dua orang yang lain sibuk menggeser gambar dari tab-nya.  Mereka kompak memesan minuman dengan krim di atasnya, dua minuman dengan hiasan wafer di samping gelas.

Saya sempat berpikir, mungkin sebagian besar dari 71 coffee shop yang tersebar di seluruh Jogja mempunyai situasi yang persis sama seperti sekarang. Suasana yang tidak terlalu terang, cenderung remang, beberapa orang mengobrol, jumlah gawai (gadget)mulai menyamai keberadaan manusia di sana, dan tentu saja musik yang tidak kamu dengarkan melalui stasiun TV lokal.  Ada banyak warung kopi yang menjual kopi (tentu saja, beberapa di antaranya juga menjual donat, tapi sebagian besar akan ke warung kopi untuk ngopi, ya). Mulai tahun 2000-an, banyak sekali warung kopi hadir di Jogja dengan berbagai segmentasi. Misal, anak kuliahan dan para aktivis banyak berkumpul di warung kopi (katanya warung kopi pertama di Jogja) di daerah Seturan. Saking banyaknya kedai kopi di Jogja, belakangan saya juga baru tahu kalau ada sekolah barista Jogja.  Sekolah tersebut menyediakan fasilitas pengajaran ilmu meracik kopi, lalu membuat hiasan dari busa kopi. Wow, peluang bisnis yang amat besar dari komoditas kopi ini.

Obrolan saya dan teman saya beralih ke topik buku.  Teman saya, yang sekarang sedang menunggu panggilan kerja itu, menceritakan ketertarikannya pada puisi-puisi Joko Pinurbo. Ia tertarik membeli beberapa buku kumpulan puisi Jokpin, dan satu buku kumpulan twit puisi Jokpin. Karena ia juga tertarik dengan gagasan Goenawan Mohammad,saya beritahu bahwa Goenawan Mohammad juga punya kumpulan twit dalam buku. Lalu saya menceritakan tentang buku yang sedang saya baca, berjudul Bobos in Paradise penulisnya bernama David Brooks.

Saya bercerita dengan sangat bersemangat bahwa David Brooks ini benar-benar seorang etnografis sejati.  Ia menangkap fenomena hadirnya kaum borjuis yang tidak borjuis-borjuis amat, dan kaum bohemian yang tidak boho-boho amat. Pertama-tama, kawan saya itu bingung dan capai dengan istilah ‘borjuis’ saya. Oke, borjuis menurut Brooks (dan saya mengamininya) adalah adalah kaum yang mendefinisikan keberhasilan, kesusksesan dalam bungkus uang dan produktivitas. Kata Brooks, dunia borjuis adalah dunia bisnis dan pasar,  mereka yang memuja kesopanan, elegansi, dan kepantasan. (Katanya) logika berpikir kaum borjuis ini numerik dan mekanis. Semuanya dihitung dengan angka. David Brooks mengidentifikasi meningkatnya kaum borjuis ini melalui amatannya di koran Amerika yang memuat pesta pernikahan orang-orang terpandang.

Brooks mengatakan bahwa kaum bohemian merupakan sekumpulan orang yang suka otonomi, mendefinisikan sukses bukan dalam angka-angka melainkan sebuah kebahagiaan yang tidak mempunyai standar nilai tertentu. Mereka memaknai kebahagiaan dalam logika berpikir yang intuitif dan organik, serta anti-kemapanan. Brooks menjelaskan kaum bobo sebagai percampuran dari borjuis dan bohemian, sebagai seseorang yang ingin mapan dan sukses secara finansial, tapi tidak mau ketinggalan dengan ide-ide bohemian yang nyentrik, unik, dan nonmainstream. Mereka jebolan-jebolan universitas peringkat atas di dunia, menggelar resepsi pernikahan yang amat mewah dengan kutipan Das Kapital di setiap tulisannya.

Mereka sering mendengar kata ‘grass root’, tapi (mungkin) belum pernah menjalaninya, Mereka mengerti permasalahan grass root biasanya dapat dari konsumsi koran setiap pagi, bukan karena memang  tidak bisa membeli lauk setiap hari. Mereka mendengarkan musik-musik perlawanan, membaca buku Jack Kerouac, mungkin kalau di Indonesia mengimani nyayian Iwan Fals, sambil membicarakan produk terbaru Samsung Galaxy yang bisa beroperasi tanpa disentuh tangan. Teman saya berceletuk “oalah, hipster, tho!”. “Mungkin,” kata saya.

Hipster Bobo dan Budaya Ngopi di Jogja

Saya berkelakar, jangan-jangan coffee shop ini tempat bersarangnya Bobo-bobo Indonesia, Jogja khususnya. Cobalah cermati, “ngopi” menjadi gaya hidup.  Saya menemukan sebuah artikel di koran hufftington post malam itu (saya juga ikut-ikutan buka laptop karena teman saya meminta pertanggungjawaban atas sumber obrolan tidak jelas itu) “Kedai Kopi adalah salah satu tempat terbuka untuk menemukan kesenangan dengan mengobrol sekaligus meminum kopi. Mengopi sebagai salah satu cara untuk ‘melambatkan’ hidup dan menikmati waktu bersama.” Jebret! Hal tersebut ditangkap oleh selera pasar masyarakat Jogja, lalu voila!, 71 coffee shop di Jogja siap memanjakan hasrat bersosialisasi anda, menggantikan angkringan yang dulu pernah melegenda.

Komodifikasi kopi di Jogja sebagai kota pelajar, bejibun mahasiswa, menemukan titik temunya yaitu membidik kaum muda untuk mempunyai peradaban baru selain kampus, yaitu kedai kopi. Hehehe, sekedar informasi, ternyata dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Bank Indonesia dan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran menunjukkan bahwa sejak tahun 2008 sampai dengan 2012, biaya hidup mahasiswa yang tinggal di Jogja terus mengalami kenaikan. Kebutuhan hiburan dan rekreasi mahasiswa Jogja tercatat cukup tinggi, mencapai Rp137.824, melebihi biaya untuk membeli buku mata pelajaran yang hanya Rp93.406. Salah satu kebutuhan rekreasi mahasiswa Jogja, selain nonton dan jalan-jalan, tak pelak adalah kebutuhan ‘ngopi’.

Teman saya bertanya, “Lalu, kami-kami mahasiswa ini kamu anggap Bobo si Brooks itu?”. Jawab saya, “Haha bisa jadi..” Saya tidak ingin menyimpulkan Bobo versi Indonesia adalah salah satunya kaum mahasiswa. Namun, hei, saya pikir setiap orang boleh merasa. Kampus-kampus sudah mulai menyiapkan pusat pengembangan karir, supaya orang seperti kami ini (mahasiswa yang belum lulus-lulus) siap menghadapi masa depan, dengan menyelenggarakan seminar karir. Kurikulum-kurikulum di kampus juga mulai mengetatkan matakuliah dengan “ini cocok dengan perkembangan pasar bursa kerja sekarang” atau kamu harus lulus cepat demi akreditasi jurusan. Bahkan, beberapa saat yang lalu saya dicurhati oleh orangtua wali mahasiswa, “Mbak, kira-kira anak saya harus ikut organisasi apa ya, yang bisa menunjang karirnya di masa depan, kira-kira perusahaan multinasional butuh kompetensi seperti apa ya?” Saya bingung bagaimana menjawabnya.

Di sisi lain, di kampus, mahasiswa masih diajarkan semangat reformasi. Bahwa mahasiswa adalah agen perubahan, lalu reformasi 98 menjadi tolak ukurnya. Mahasiswa disuguhi cerita-cerita masa lampau tentang organisasi ini pernah menjadi tempat singgah aktivis itu, sekarang menjadi pejabat itu (ternyata sekarang tertangkap korupsi juga). Kemudian beberapa di antaranya melalui curhatan pribadi mengeluhkan daya kritisisme mahasiswa yang menurun, saya juga sempat membaca beberapa opini di koran tentang kegelisahan tersebut. Lalu sebagian besar dari mereka akan membaca Pram, bahkan Das Kapital, dan buku-buku yang dianggap melawan, setelah itu dibuat kutipan di media sosial.

Saya pikir, mahasiswa ada di dualisme bobo itu. Di satu sisi ada dorongan kuat dari komunitas lingkungannya untuk menjadi mapan dan memperoleh masa depan ideal, tetapi di sisi lain ada jiwa anak mudanya yang tidak mau diatur, organik, kreatif, dan fresh. Warung kopi yang kini menjadi komodifikasi pasar di Jogja juga ada adalam dualisme budaya (yang katanya) borjuis dan bohemian itu, misal warung kopi dan budaya ngopi menjamur, tapi seberapa banyak kopi lokal yang digunakan untuk memuaskan pelanggan. Berapa perbandingan jumlah pesanan americanno, macchiato, cappucino dengan kopi aceh, kopi lampung, kopi wamena, dan kopi toraja juga belum ada hasil penelitiannya. Musik yang mengalun tak jarang apa yang disebut dengan musik indie yang antimainstream.

Hal lain yang menarik perhatian saya di sini adalah obrolan di warung kopi. Apakah obrolan di warung kopi, kedai kopi, atau coffee shop itu masih cocok dengan sejarah warung kopi yang erat kaitannya dengan revolusi? Kata Martyn Cheaper dalam tulisannya, Coffee and Revolution, kopi adalah obat mengembalikan kesadaran dari pengaruh alkohol sekaligus bagian dari aktivitas revolusi pada abad ke-16. Terus, bagaimana dengan kedai kopi di Jogja, apakah menyalahi ‘khittah’ nya sebagai tempat diskusi tentang perubahan? Saya sendiri juga belum tahu. Yang saya tahu, saat berkunjung ke warung kopi, setidaknya saya harus menyiapkan uang minimal delapan ribu rupiah (itu saja di warung kopi yang tidak terlalu besar) untuk membeli secangkir kopi dan mengobrol seperti sekarang ini, masalah curahan hati khas anak muda.

Beberapa coffee shop memutar lagu-lagu indie dan jazz yang enak didengarkan, banyak di antara coffee shop yang tidak membiarkan ruangan sunyi senyap begitu saja. Sebagian pengunjung mengobrol asyik berdua, segerombolan anak muda dengan fesyen tertentu (seperti topi dan busana yang vintage yang sedang inn)akan menunjukkan mempromosikan bisnisnya masing-masing, sementara tab ditangannya sedang sibuk mengunduh PDF bahan skripsi tentang teori tertentu, lalu pesanan dark americcano datang. Menurut saya, keduanya (mahasiswa dan warung kopi) ada dalam dualisme yang sama seperti Bobo-nya Brooks. Semuanya ada dalam lingkaran komodifikasi dan konsumerisme. Konsumen kopi di kedai kopi yang menjamur tak ubahnya memuaskan tuntutan gaya hidup. Kata Baudillard, membeli sudah tidak lagi menjadi sebuah rangka guna, tapi juga sebuah tanda (sign, values). Tinggal keputusan kita saja, mau bersikap seperti apa dalam kerangka komodifikasi dan konsumerisme itu sendiri.

Teman saya keburu mengantuk dan mengajak saya pulang. Makanan dan minuman pesanan kami masing-masing sudah habis, topik obrolan juga semakin kering. Selanjutnya kami mengagendakan untuk mencoba coffee shop yang katanya asyik, ada beberapa kutipan dari penulis idola kami di dinding warung kopi itu. Nah!

Daftar pustaka:

Baudrillard, Jean. 2006. Masyarakat Konsumsi. Yogyakarta: Kreasi Wacana

Brooks, David. 2000. Bobos in Paradise. New York: Simon and Schuster

Heath, Joseph and Andrew Potter. 2004. The Rebel Sell. (Toronto, Canada: Harper Collins Publishers Ltd.)

http://www.mcmenamins.com/blog/2012/3/19/107-Coffee-and-Revolutions

http://www.solopos.com/2012/09/25/survei-biaya-hidup-mahasiswa-diy-2-kali-lipat-ump-biaya-hiburan-tinggi-332495

http://www.huffingtonpost.com/tom-morris/coffee-culture_b_836486.html

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s