perpisahan

ImagePerpisahan. Aku tidak acuh dengan kata ini sebelum peristiwa beberapa bulan terakhir. Mengetahui orang-orang rumah mulai meninggalkan atap bersama ini, aku mulai memaknai kata itu. Memang, secara hubungan personal, tidak ada keterpisahan apalagi  dalam hubungan darah-daging. Tapi ini aneh, aku merasakannya, perpisahan ini sebuah niscaya.

Dunia ternyata tidak baik-baik saja. Dunia tidak seklise dongeng anak, bahwa semua kisah cinta mungkin akan berakhir dengan kata –happily ever after–. Bahwa kata happy itu sendiri bisa menemukan maknanya sendiri, happy tak selalu bermakna selalu bersama selamanya, stereotype itu. Happily ever after itu mungkin akan ditemukan saat berpisah dengan satu orang, lalu bertemu dengan orang yang baru. Yang lain.

Jika memang begitu adanya (bertemu dengan orang yang baru, atau memutuskan untuk sendiri, itu tadi) akan mengorbankan orang-orang sekitarnya, apakah itu layak disebut kebahagiaan? Apakah langkah kita untuk memulai senyum yang baru dengan membiarkan orang sekitar kita menangis,apakah langkah yang tepat? Apakah takdir mengatakan seperti itu?

Jika memang begitu adanya…Aku sekarang sedang sinis dengan apapun kebahagiaan orang lain. Mungkin di luar orang lain yang tertawa bahagia, atau mungkin terbahak-bahak, ada orang lain sekitarnya yang menangis diam-diam, di atas bantal yang tiba-tiba basah. Jika pengorbanan itu harus dilakukan untuk mencapai kebahagiaan sendiri, itu tidak harus mencabut hak bahagia orang lain, bukan?

Kita berhak tersenyum dan terbahak tanpa harus mencubit orang lain. Tanpa harus menghunus pedang pelan-pelan dari belakang, tanpa harus memotong rambut panjang yang ia nantikan selama bertahun-tahun.

Aku memang terbiasa sendirian di mana pun. Tapi aku tahu, saat aku pulang, semua akan berada di sana. Aku akan merindukan mereka yang  menyambutku dengan sikapnya masing-masing,. Namun, tidak untuk sekarang dan masa depan (mungkin). Ada yang pindah dan mengemasi barang-barangnya. Ada yang memutuskan untuk pergi dari kebersamaan ini, kebahagiaan selama ini.

Aku hanya mendapatkan kabar tentang itu. Ada yang mengemasi barang-barangnya, mengepak buku-bukunya, mungkin menyapu abu rokok yang lama menambahkan aroma dalam ruangan itu. Lalu aku membayangkan orang itu membersihkan semuanya,  mempertanyakan mengapa ini terjadi, dan mengapa keputusan ini harus diambil, sambil sesekali mengutuki dirinya sendiri.

Aku hanya bisa membayangkan, tidak bisa berbuat apa-apa selain mengimajinasikan. Aku tidak bisa melarang orang untuk pergi, memegang tangannya, bahwa kita bisa memulai kembali. Menghamba padanya untuk tidak melakukan ini. Meninggalkan adalah menyakitkan.

Tidak ada lagi kenangan yang dilanjutkan setiap hari berganti. Tidak ada cerita bersama, kemudian kenangan itu usang, disimpan di dalam gudang akan muncul saat dibutuhkan.

“Nobody said it was easy..” (The Scientist, Coldplay)

Aku akan merindukanmu.Aku akan merindukan rumah, saat di sana ada siapa saja. Aku pun harus menemukan kebahagiaanku sendiri.

Cepit Baru, 30 Desember 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s