KKN, Lewat Djam Malam, dan Kesendirian

Tiga frasa di atas setidaknya menggambarkan euphoria aku sekarang, yang baru-baru ini kualami. Entahlah, catatan ini sepertinya menambah catatan geje dan dodolku lainnya, tidak pernah ada yang jelas~~ ah bo do amat~~. Bulan puasa ini aku sedang menjalankan kegiatan kampus yang bernama Kuliah Kerja Nyata (KKN) tinggal selama 38 hari untuk ‘mengabdi kepada masyarakat’. Jujur aku agak sulit untuk mendeskripsikan ‘mengabdi masyarakat’ di sebelah mananya. Pendaftaran 3 sks untuk KKN ini saja sejuta lebih, waktu yang amat singkat, belum lagi destinasi tempat KKN yang aneh-aneh, intinya kami bekerja amat keras untuk mengabdi *atau sekalian senang-senang.. Kadang ada yang sekalian liburan, sebagian lain tak mau jauh-jauh karena banyak alasan. Entahlah, banyak alasan lain untuk mengikuti KKN menumpang ‘pengabdian kepada masyarakat’, misal sekalian liburan atau tidak terlalu memikirkan yang penting dapat nilai A persetan dengan pengbdian. Ah, aku tidak mau terlalu banyak mengeluh tentang KKN yang sedang kujalani. Setidaknya aku merasa bahagia KKN di Gunung Kidul, teman-teman yang asyik, lingkungan yang ramah, dan banyak pelajaran.

Tenang saja, judul notes ini tetap ada hubungannya kok. Ceritanya begini, pekan pertama menjalani KKN adalah pekan yang belum terlalu sibuk. Kami baru melakukan sosialisasi dan perumusan program. Intinya banyak waktu selo. Kebetulan waktu itu berbarengan dengan tayang perdana film Lewat Djam Malam, film garapan Usmar Ismail yang direstorasi kembali tahun ini, kabarnya adalah film Indonesia terbaik sepanjang massa dan ditayangkan di Festival Cannes. Aku tahu, aku harus menonton film ini, dan harus ada catatan khusus untuk film itu selain catatan bodoh ini~~. Siang itu, aku berkesempatan untuk sementara waktu turun ke kota Jogja untuk keperluan mengambil bahan program KKN. Kesempatan itu kugunakan untuk melihat jadwal tayang Lewat Djam Malam dan segera menonton di bioskop, sorenya aku harus kembali ke pondokan KKN -___-

Aku melaju kencang ke bioskop di lantai lima Ambarukmo plaza, sampai di sana melihat jadwal tayangnya dan ternyata telat setengah jam. Jadwal yang kulihat di internet ternyata salah, asem! Daripada sudah sampai sini dan tidak ngapa-ngapain, akhirnya aku mengantri tiket menonton Spiderman 3. Aku sudah pesimis tentang film ini, gosipnya film ini tidak terlalu bagus. Benar saja, sejam menonton aku tidak lagi antusias. Aku pulang dan film masih main. Aku meninggalkan Spiderman begitu saja, balik ke kos dan menyiapkan kembali ke pondokan KKN. Ah, rugi 25 ribu! Tidak dapat LewatDjamMalam, nonton Spiderman yang tidak terlalu memuaskan, dan sendirian *nah, lak lebai*

Minggu berikutnya aku mendapatkan kesempatan lagi untuk balik ke Jogja..hehehe *KKN macam apa ini, balik muluuuu* Eits, ini untuk keberlangsungan program mencari bahaaaan! *semoga bukan alibi* Lagian hari itu ibu ke Jogja, ingin bertemu denganku,alasanku KKN tidak terlalu jauh adalah supaya ibu bisa menemuiku, aku kan anak yang cukup nganeni *tenane?*

Karena ibu datang sore, maka aku akan kembali berjuang nonton Lewat Djam Malam, aaaa! Semoga masih main, dan tenyata masih main! Aku senang bukan main. Tahu tidak? Antriannya puanjaaang sekali di bioskop yang sama seperti aku nonton Spidey kemarin. Antrian panjang itu ada karena Batman The Dark Knight Rises sedang main, aku ikut antrian untuk film yang lain dan itu rasanya aneh sekali. Belum lagi ada yang menyerobot antrian. Ih! Benci sekali! Tahun 2012, masih saja ada yang menyerobot antrian? Duh, rupanya orang ini kenalnya BUDAYA MATRE, bukan BUDAYA ANTRE! Geraaam!

Kurang lebih satu jam aku berdiri menunggu sampai ke mbak tiket bioskop. Untuk selanjutnya, aku sebut Mbak Tiket Bioskop ini sebagai (MTB—singkatannya). Ini adalah percakapan yang menurutku epic, aku masih ingat betul ekspresi MTB, sangat menggelikan!

MTB : “ Nonton apa mbak?”
Aku : “ Lewat Djam Malam, 1 tiket mbak..”
MTB : “Lewat Djam Malam jam 12.30 ya? Berapa orang?”
Aku : “ Ya mbak, satu tiket..”
MTB : “Satu mbak?”
Aku : “ Iya mbak”
MTB : “ Sendirian aja mbak?”
Aku :“ Iya Mbak, sendirian aja” *tidak heran ditanyai beginian, karena aku sering nonton bioskop sendirian*
MTB : “ beneran mbak sendirian? Nggak ada temen yang nyusul? Ini anda sendirian nanti di teaternya,belum ada yang pesen tiket?
Aku :“ Iya mbak, sendiri aja, nggak ada temen. Hah? Di teaternya sendirian?Beneran? Wah asyik nggak papa mbak” *asemik, Mbak-e ngenyek po piye kiii..*
MTB : “ Berani mbak? Sendirian hlo nanti..”
Aku : “Berani Mbak, nggak papa…”
MTB : “ Beneran Mbak? Nggak ada temen yang nyusul? Tiket tidak bisa dibatalkan hlo mbak!’
Aku : “ Iyaaaa Mbak, bener….” *sambil senyum tulus ikhlas. Asem mulai nganyelke dan mengintimidas ki pertanyaane..*
MTB : “ Mbak beneran? Ini film tentang perjuangan hlo, film jadul..malah hitam putih..Berani?”
Aku : *Muka udah mulai kesel tapi berusaha tersenyum geje* “ Iya mbak, saya tahu. Ini Film Usmar Ismail,hitam putih, direstorasi lagi jadi bagus, termasuk film terbaik sepanjang masa dan saya harus nonton”
MTB : “ Oke mbak, satu tiket, Lewat Djam Malam pukul 12.30 ya? 35ribu.” *mbaknya mulai senyum lega*
Aku : “ Sip”
MTB : “Berani mbak, sendirian hlo di dalem..” *masiiiiiih aja*
Aku : “ Hahahahaha….. berani mbak, tenang aja” *pergi sambil ketawa ngekek*

Itu adalah percakapan yang tidak bakal kulupa sepanjang hidupku. Hahaha. MTB ini seperti menekankan kesendirianku dan aku akan benar-benar sendiri. Tapi aku kan terbiasa menonton bioskop sendirian dan momen-momen sendiri yang lain, wek! *apakah di dalam hati miris? Entahlah :P* Aku sangat menikmati menonton bioskop sendiri, sering aku menonton bioskop sendirian dan menganggap tidak ada yang salah dengan hal itu. Aku juga sering berjalan-jalan sendiri kemana-mana sesuai keinginanku. Ke pasar barang bekas di Solo, ke alun-alun Kidul sendirian mengamati kerbau, atau pergi keliling begitu saja naik sepeda motor dan berhenti di tempat yang random. Tapi tenang saja, aku masih punya teman-teman yang kadang beramai-ramai ke bioskop., yang juga mengajakku jalan-jalan. Jadi aku tidak se-foreveralone itu. *Alhamdulillah* Setidaknya, aku punya dan menghargai momen kesendirian, saat yang kuajak bicara adalah hatiku sendiri.

Di dalam ruangan bioskop itu aku benar-benar sendirian., yang menonton hanya aku! Bahagia sekaliiii! Bioskop seperti milik sendiri, layar lebar di depanku ini adalah milikku. Lewat Djam Malam, film yang ingin sekali kutonton ditakdirkan spesial untukku, hari itu *lebai maneeeh*yo ben*

Ah, filmnya juga bagus sekali! *seharusnya ada tulisan yang lebih intelek dari notes ini, iya aku tahu* Salah satu film terbaik yang pernah kutonton. Sebentar, kuselesaikan dulu notes ini, aku *mungkin* mencoba untuk menuliskan notes yang lainnya khusus tentang film itu.

Aku senang sekali hari itu, nikmat! Aku keluar bioskop dengan senyum-senyum geje, puas sendirian! Puaskan, Brit! Senaaaang! Selama hampir 2 jam, aku memiliki ruangan bioskop setelah melalui percakapan geje dengan MTB. Hahaha! *paragraf geje*

Yowis lah, intinya, aku menikmati KKN , Lewat Djam Malam, dan kesendirian (di bioskop, bukan kesendirian untuk semuanya – clear clarified, penting) Ya, terima kasih jikalau ada yang baca notes ini dan semoga menerima ke-geje-an ku apa adanya. Aku hanya ingin menuliskannya saja, Terima kasih !😀

Ciao!

Pondok KKN, 24 Juli 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s