Sajak -sajak Pasar Gedhe

Beberapa waktu yang lalu saya pergi ke Pasar Gede Solo. Haha, tidak ada yang menarik karena siapa saja bisa saja ke sana dengan tujuan masing-masing. Kunjungan saya ke PAsar Gede kali itu dengan misi spesial, jalan-jalan dan melihat-lihat! Belum terlihat terlalu spesial ya? Oke. Kunjungan terasa istimewa karena yang meng-order perjalanan ini adalah Afrizal Malna, penyair terkenal Indonesia. Seenaknya dia mengkomando saya dan teman-teman yang lain yang kebetulan mengikuti Kelas Puisi di Balai Soedjatmoko.

Catur gatra tunggal
Perkenalkan. Aku empat bersaudara. Kakak pertamaku ,Ratu tinggal di Selatan, ia mempunyai istana, di dalamnya ada pasir-pasir laut. Katanya sekarang ia bingung, hatinya terbagi dua, mengaku benar semua. Kakak keduaku tak jauh dari kakak pertamaku. Aku sering memanggilnya Suket. Ia lapang, kaya dengan rumput kadang permainan anak-anak, bahkan kau bisa gunakan untuk berlari-lari. Kakak ketigaku memang sedikit aneh. Ia mau bersuara di jam-jam tertentu, kadang aku tak mengerti bahasanya. Banyak orang datang memanjat doa, yang lain mengamini, lalu mengusap muka. Terakhir aku, hehe. Aku tak bisa diam, seperti detak jam yang batere tak habis-habis, seperti langkah ibu-ibu menggendong tenggok yang tinggal di perutku. Kadang aku bau, eits, tak berarti aku tak pernah wangi. Aku berhias cahaya-cahaya, berpendar kembang api, gong xi gong xi. Namaku Harjonagoro.

BAKMI
Merah ke kanan
Terus..terus..terus
Hingga membiru
Merah lagi
Terus..terus..terus
Lalat hinggap di dagangan
Menyerbu bakmi, bumbu pecel
Ia halau, hush hush!
Merah lagi
Terus..terus..sampai bawah
Sambil ia tutup hidungnya
Merah lagi
Terus..terus..terus..
Hingga merata
“Wis pak, wis roto” katanya
Ditutupnya botol berbau menyengat
Ia usir lagi lalat-lalat
Hush! Hush!

Datang pembeli bermata sipit
Tiga ribu saja katanya
Ia ambil bakmi, ia japit dengan tangannya
Monggo bu, bakmi tiga ribu
Katanya
Bakmi tiga ribu rasa minyak gosok bekas kerokan,
Kataku
Mengamati dari jauh
Si ibu lahap, sampai menjilat-jilat ingin lagi
Tak tahu ia, rahasia
Tangan itu lugu,
Lupa sejarahnya
Bekas kerokan

Toko kita
Aku merawat ritual-ritual
Yang biasa kau tekuni
Batang-batang hio yang kau selimuti doa-doa
Kucing-kucing emas kaulumuri mantra-mantra

Datang, datanglah ke sini
Memang, tak ada mesin penghitung cepat
Pengharum ruangan otomatis
Plastik putih yang bernama

Cukup sempoa peninggalan mak’e
Plastik bekas yang dilipat rapi segitiga
Dipakai lagi membungkus
Beras kwalitet pertama
Telur ayam yang mungkin busuk

Mengapa tak kau kunjungi warung kita?
Malu pada temanmu?Jijik bau ikan toko seberang?
Lihat jam itu, temanmu
Akrab dari kecil kau tatapi

Kini kau sibuk dengan tabletmu
Yang kau beli di toko berkeramik bagus
Berpendingin, dan dingin

Sesekali lah kau jenguk mamak, engkong, cici,kokoh
Sapalah kucing emas batu giok
Jangan lupa lahirmu di sini.

(Pasar Gedhe, 19 Mei 2012)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s