Wiji Thukul, Dari Sastra Menuju Gerakan Massa

Pulanglah, pak
Apakah kamu tidak ingat aku lagi
Aku anakmu, Pak
Aku, adik, ibu dan semua orang merindukanmu, Pak
Apakah hanya dengan doa-doa saja aku harus menunggu?

Penguasa kembalikan bapakku!!

(15 Mei 2000)

Rindu Anak Wiji Thukul

Adalah puisi Fitri Nganthi Wani, seorang gadis yang amat merindukkan bapaknya. Dua tanda seru di akhir puisinya merupakan ungkapan menggebu kerinduan kepada ayahnya yang telah alpa, hilang tanpa keterangan. Belum juga pasti ketiadaan ayahandanya berarti mati, karena sampai sekarang tidak ada nisan kubur sebagai pertanda. Seniman ternama, Iwan Fals menyanyikan puisi yang berjudul ‘Pulanglah, Pak!” tersebut dalam sebuah peluncuran antologi puisi Nganthi Wani pada Juni 2009 silam. Hampir tiga tahun sejak peluncuran antologi puisi tersebut, Fitri Nganthi Wani masih merindu bapaknya, Wiji Thukul.

Tak ada yang tahu persis keberadaan Wiji Thukul, ada dan tiada Wiji Thukul masih menjadi kontroversi. KontraS sebagai organisasi penggerak demokrasi dan hak asasi menusia mengeluarkan Siaran Pers tentang Hilangnya Wiji Thukul pada 24 Maret 2000. Sungguh, bapak Fitri Nganthi Wani ini jelas bukan main-main. Ia adalah Wiji Thukul, seorang manusia yang telah berbuat banyak bagi hidup orang lain. Sulit untuk mendeskripsikan Wiji Thukul dengan salah satu jenis pekerjaan saja. Wiji Thukul adalah seorang penarik becak, pernah menjadi buruh di pabrik meubel, pedagang Koran, pengamen, penyair, aktivis, dan pejuang hak asasi manusia. Wiji Thukul adalah warga negara biasa yang sering lantang menyuarakan keluh kesah rezim Orde Baru lewat puisi,syair dan gerakan massa.

Lahir di Kampung Sorogenen, Solo pada 26 Agustus 1963, Wiji Thukul yang merupakan anak seorang tukang becak, hidup jauh dari kemapanan. Sejak Sekolah Menengah Pertama (SMP) Wiji Thukul gemar berpuisi, tak jarang ia membacakan puisi-puisiya dalam bis, dan membaginya bersama teman-teman sesama tukang becak. Puisinya bercerita tentang penindasan kepada rakyat, jurang yang terlalu jauh antara si kaya dan si miskin, juga tentang orang-orang yang membawa senapan untuk membungkam. Bunga dan Tembok (1988) adalah salah satu puisi Wiji Thul yang berani berkata tidak pada tirani. Rezim yang berkuasa saat itu dianggapnya suka merampas hak rakyatnya.

Seumpama bunga
Kami adalah buanga yang tak kau kehendaki tumbuh
Engkau lebih suka membangun
Rumah dan merampas tanah

Suara Wiji Thukul tidak berhenti pada pembacaan puisi di kalangan buruh, tukang becak, maupun kaum marjinal lainnya. Thukul, sapaan akrab Wiji Thukul yang bernama asli Widji Widodo juga aktif dalam berteater. Thukul juga mendirikan Sanggar Suka Banjir di sekitar rumahnya, memberikan ruang kepada anak-anak untuk berkesenian. Kegiatan mengarang, membaca,melukis dan teater hidup dalam kampong. Thukul menggunakan seni sebagai alat untuk melawan penindasan yang ia temui sehari-hari, yang ia jalani. Sampai pada suatu waktu ia berkesempatan untuk membacakan puisinya di kedutaan Besar Jerman di Jakarta pada tahun 1991. Di tahun yang sama, ia tampil mengamen puisi di acara Pasar Malam Pusi Kebudayaan Belanda di Jakarta. Bersama WS. Rendra, Wiji Thukul mendapatkan Wertheim Encourage Award yang diberikan oleh Wertheim Stichting Belanda.

Dari sastra ke gerakan massa
Thukul terus ada di pihak kaum marjinal dan ikut memperjuangkan hak buruh melalui Jaringan Kerja Kesenian Rakyat pada tahun 1994. Keterlibatannya dalam gerakan buruh membawanya turt aktif dalam Pusat Perjuangan Buruh Indonesia, underbow Partai Rakyat Demokratik (PRD). Ia turun ke jalan dalam aksi pemogokkan missal PT Sritex Sukoharjo. Pembacaan puisi berjudul “Peringatan” dalam Deklarasi Partai Rakyat Demokratik di YLBI Jakarta pada 26 Juli 1996 adalah aksi pembacaan terakhir Wiji Thukul.

Masa itu adalah sedang gencarnya pembredelan dan pembungkaman oleh negara. Media massa seperti Tempo, Detik, dan Editor dibredel karena dianggap melawan pemerintah. Aktivis PRD jelas menjadi incaran aparat negara, menurut rezim protes mereka tidak perlu. Peristiwa 27 Juli di kantor Partai Demokrasi Indonesia (PDI) berupa penyerbuan preman dianggap konspirasi PRD. Aktivis partai ini ditangkap. Wiji Thukul memilih tidak banyak muncul, ia tahu sedang diincar aparat. Melalui Pasukan komando Khusus Tim Mawar, beberapa aktivis gerakan massa ditangkap dan “diamankan”. Kata “diamankan” bisa jadi diculik dan dijebloskan ke penjara, tanpa ada alasan khusus.

Sifon, istri Wiji Thukul, terakhir kali bertemu dengan suaminya di KAliurang Yogyakarta pada tahun 1998. Sedangka n menurut Surat Hilang KontraS, Wiji Thukul terakhir kali terlihat sekitar Maret-April 1998 makan bakso bersama teman-temannya di Jalan Pemuda Jakarta.Tidak ada yang tahu pasti keberadaan Thukul setelah aktivitas politiknya yang melawan rezim. Entah turut “diamankan” bersama belasan orang yang sampai sekarang juga tidak tahu keberadaanya, atau sengaja menyembunyikan diri, atau terluka parah. Terlalu banyak “atau” maupun teori yang berkembang tentang keberadaaan Wiji Thukul. Keluarganya, Sifon, Fitri Nganthi Wani, anak pertamanya, dan fajar, anak keduanya, tidak pernah mendapatkan kabar tentang bapak mereka.

“Maka hanya ada satu kata: lawan!” adalah cuplikan puisi thukul berjudul “Peringatan” yang selama ini sering dipakai para aktivis dan mahasiswa untuk menghidupkan perjuangan hak mereka. Nyatanya, semangat Wiji Thukul melawan penindasan masih berderu. Seperti puisinya yang berjudul “Aku Masih Utuh dan Kata-Kata Belum Binasa”,

Kata-kata itu selalu menagih
Padaku ia selalu berkata
Aku memang masih utuh
Dan kata-kata belum binasa
(Solo,1986)
Semoga kita tidak lupa kepada orang-orang yang hilang karena menyuarakan tidak kepada penindasan.

NB : Tulisan ini adalah syarat mengikuti Pelatihan Menulis Kritis Menjadi Kreatif dengan Romo Sindhunata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s