Helaan nafas sehabis membaca puisi

Helaan nafas sehabis membaca puisi,aku menemukan ‘aku’. Aku menemui diriku sendiri di perjumpaan yang aneh lewat sebuah atau beberapa puisi. Sebelum aku mengikuti kelas puisi Afrizal Malna, aku buta dengan teori-teori orang ketiga dalam puisi, menghilangnya orang pertama, atau apalah itu. Yang aku tahu aku menemukan ‘aku’ prosesnya cukup singkat, hanya beberapa detik setelah membaca puisi, aku menghela nafas. Helaan nafas itu adalah sebuah pertanda, kata-kata yang dimiliki oleh puisi tersebut adalah sebuah mistis, mungkin mantra. Hatiku tergetar dan perutku dikoyak, seperti ada kupu-kupu di dalam perutku. Seperti orang yang sedang jatuh cinta, saat aku menemukan ‘aku’ , aku jatuh cinta kepada puisi tersebut.

Ada banyak penyebab mengapa aku menemukan ‘aku’. Biasanya aku tergetar, atau merasa memiliki puisi tersebut saat kata-kata di dalam puisi tersebut tak hanya kata-kata, kata-kata tidak hanya sebagai serpihan linguistik. Kata-kata tersebut menjelma sebagai sebuah translasi makna, menghilang dari fungsi ‘kata’ itu sendiri.Kata sebagai identitas dari obyek atau sesuatu yang dimaksudkan oleh si penyair berubah peran kadang membatalkan perannya sendiri. Afrizal Malna dalam sebuah aritikel koran pernah berkata, puisi adalah melupakan kata-kata. Ya…aku sedikit setuju dengan hal itu. Mungkin bisa aku tambahkan, kata-kata tersebut juga menemukan ‘aku’-nya sendiri, yang mungkin tidak lagi berbentuk kata, tapi makna-makna yang bisa ditelusur lewat pengetahuan atau mungkin nalar kemanusiaan.

Aku membaca banyak puisi sejak kecil. Ini semua salah ayahku, buku-buku di rak bukunya tidak ada komik, adanya buku-buku kumpulan puisi. Sejak SMP aku sudah tahu beberapa puisi Rendra dalam bukunya “Blues untuk Bonnie” yang bersampul warna ungu, atau beberapa naskah puisi Rendra yang bertulis tangan fotokopian ayahku. Saat kecil aku tidak terlalu tahu bagaimana cara memaknai puisi, yang aku tahu puisi adalah kumpulan kata-kata indah yang membuat hati bergetar atau membawaku ke dunia yang lain, aku belum tahu ada teori-teori, istilah narasi ruang dan benda apalah itu. Aku juga membaca puisi Afrizal Malna, dalam buku kumpulan puisinya” Dalam Rahim Ibuku Tak ada Anjing”, aku menemukan ‘aku dalam puisi “Pembunuh Rumah “(1998) dalam kalimat :

“Rasa pulang telah mati. Orang membuka pinntu seperti membuka jurang depan rumahnya. Menyenggur nyawa rawa-rawa, menghentikan air mengalir ke perut bumi,merenggut batang-batang pohon, mematahkan uluran tanganku ke hamparan waktu.”

Sajak itu sangat pribadi buatku. Biasanya aku menemukan ‘aku’ dalam puisi karena kisah dalam puisi tersebut yang indah, atau sekalian yang tragis. Sebagian besar aku menemukan ‘aku’, kudapatkan puisi yang mempunyai latar belakang peristiwa yang pernah kualami. Kesedihan-kesedihan yang tidak tersampaikan kepada orang lain, yang hanya kupendam, atau kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang mungkin orang tidak tahu atau tidak mau tahu. Bisa juga tentang ingatan-ingatan tentang peristiwa kecil seperti mengancingkan baju, mengucapkan kata perpisahan, kenangan masa kecil, peristiwa itulah yang sering membuat momentum ‘aku menemukan aku’.

Momentum ‘aku menemukan aku’ dalam sebuah puisi sangat terkait dengan kedekatan layer-layer kata yang diadakan dalam puisi tersebut dekat dengan kehidupanku sehari-hari. Atau layer-layer tersebut bersangkut paut dengan identitas yang kumiliki, seperti baju yang kupakai atau bahasa sehari-hari yang kuperbincangkan. Tapi tak jarang juga ‘aku menemukan aku’ lewat puisi yang penuh emosi, gelora perlawanan pemberontakan dan ketidak-terima-an. Seperti banyak dalam puisi Wiji Thukul, sedikit punya Rendra, atau puisi Saut Situmorang. Aku tertarik dengan puisi perlawanan mungkin terkait insting masa mudaku yang memang seakan selalu tak setuju dengan gagasan penguasa, atau kaum tua yang sering menganggap dirinya paling benar.

“DukaMu Abadi” milik Sapardi Djoko Damono, kubaca pertama kali saat SMP juga memberikan helaan nafas setelah kata terakhir yang terucap. Akutak habis pikir, Sapardi memberikan penglihatannya lewat puisi bahwa Tuhan juga mengkin berduka dengan penciptaan-penciptaannya, nasib-nasib yang ada di dunia ditandai dengan huruf “M” yang kapital. Juga puisi-puisi Sitor Situmorang yang berjudul “Duka : Kepada Chairil Anwar”, “Surat Kertas Hijau” dan “Perhitungan”. Belakangan ini aku juga menyukai Joko Pinurbo, aku memfavoritkan puisinya yang berjudul “Jendela (2010)” kutipannya :

“Di rumah itu mereka tinggal berdua.
Bertiga dengan waktu. Berempat dengan buku.
Berlima dengan televisi. Bersendiri dengan puisi.

“Suatu hari aku dan Ibu pasti tak bisa lagi bersama.”
“Tapi kita tak akan pernah berpisah, bukan?
Kita adalah cinta yang berjihad melawan trauma.”

Aku menemukan ‘aku internal’. Aku seperti mengalaminya sendiri dan mulai melepas ‘aku internal’ di kalimat yang terkahir, aku merasa dekat, kalimat tersebut sangat personal. Mungkin aku menemukan ‘aku internal’ku. ‘Aku internal’ di puisi tersebut percaya bahwa dua orang yang sudah terikat dalam perkawinan bisa saja tidak mematuhi ikatan perkawinan tersebut, bisa saja ia membatalkan premis bahwa orang yang sudah tercatat kawin akan abadi dan baik-baik saja. Premis tersebut batal. Aku kembali menghela nafas.

Aku juga menulis puisi. Aku sering kali menulis puisi dalam sebuah perjalanan. Aku menyukai jalan kaki, bisa dibilang aku seorang advonturir, suka mengelana. Setiap bulan, ada saja kota lain yang kusambangi hanya sekedar jalan-jalan. Ingin tahu pasar tradisional di kota lain seperti apa, ingin melihat sendiri bahu penambang belerang di Kawah Ijen, ingin melihat sendiri perempuan menjaja dirinya di Gang Dolly. Aku menemukan diriku dalam perjalanan,sekaligus dalam puisi.

Rel
kaki terus bergerak
tak nyaman
berderu nafas
juga kereta ini
matanya merah
hatinya lengah
“ayolah, jangan sok berpuasa mencopet”
ia menarik nafas dalam
menyeringai kelam
“demi anakku yang butuh susu”
happ!! ia berjingkat
satu orang yang lain berduka nestapa
dimakinya hari ini.
(rel solo-Banyuwangi, 22 januari 2012 11:49)
Tentang pulang
Selepas membunuh waktu
Mencaci diri
Tak kenal hati
Mari kita pulang
Merasa lelah
Menutup celah
Rindu terbayar sudah
Ada tatapan
‘hati-hati di jalan’
‘sampai bertemu esok’
Jumpa lagi seperti asing
Menemukan harta karunmu yang lain
tentang kamu yang alim
atau mungkin
lalim
(Terban, Hari Kabisat 2011, 11:49 pm)
Selaksa lentera Waisak
Lampion Waisak. bulan penuh.khusyuk. kebaikan. ribuan harapan. terbang ke langit.angkasa mendengar. angin bawalah. Tuhan, sambutlah asa-asa. Semesta saksinya (Borobudur, Waisak 2012, 23.00 WIB)

Aku menemukan ‘aku’ dalam puisiku sendiri. Dalam kesedihan, kelaliman, (mungkin) ke-agakbaik-an, masalah, duka, perjalanan, waktu, kenangan, aku menjumpai ‘aku’. Proses aku menemukan ‘aku’ kata-kata dalam puisi tersebut seakan hilang, aku merasa menjadi mistis, masuk ke dalam dunia yang tanpa kata. Pemaknaan tidak sekedar linguistik,tapi juga pelibatan rasa dan seluruh indera yang lainnya. Setelah begitu aku biasanya menghela nafas. Lalu, berimajinasi bagaimana bila dunia tanpa kata, tanpa puisi, apakah berjalan semestinya? Apakah aku menemukan ‘aku’? Ah, semakin pusing. Aku kembali menghela nafas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s