Intimasi Anak Muda a la Abad 21

Interaksi dan Mitos intimasi

“ Kuberikan padamu
Setangkai kembang pete
Tanda cinta abadi
Namun kere..”

Petikan lagu “Kembang Pete” Iwan Fals di atas membuat saya terkekeh apalagi membandingkannya dengan zaman sekarang. Lagu itu diciptakannya tahun 1985 bersama Kelompok Penyanyi Jalanan cukup merepresentasikan kaum muda yang bercinta tak jauh-jauh dari setangkai kembang. Iwan memang sedikit nyeleneh, kaum muda umumnya akan memberi kekasihnya kembang mawar, bukan kembang pete! Tradisi mengungkapkan cinta era itu masih lewat perantara barang, misal kembang, surat, bahkan sobekan kertas yang diselipkan ke buku yang dipinjam dari si doi. Keintiman, atau intimasi(intimacy) dalam definisi Oxford definition, diartikan sebagai a cosy and private or relaxed atmosphere (kondisi yang privat dan nyaman, atau atmosfer yang rileks-red) dan  eufimistic sexual intercourse (hubungan seksual yang lembut) Perasaan grogi bukan main saatn saat menunggu pak pos datang, atau perasaan bahagia saat berjabat tangan atau berbalas senyuman,saya memasukkannya dalam kategori momen intim itu.

Menurut saya, setiap zaman akan mempunyai warna intimasinya sendiri. Bentuk intimasi saat nenek kakek kita memadu kasih akan sangat berbeda dengan bentuk intimasi cinta kaum muda sekarang. Namun, kedua situasi tak jauh-jauh dari topik yang tak (kunjung) selesai dibahas yaitu cinta! Saya tak heran mengapa Erich Fromm dalam buku The Art of Loving-nya begitu getol berpendapat bahwa cinta adalah jawaban atas segala problem ekstensial. Cinta dewasa menurut Erich Fromm adalah bentuk aktivitas yang mengisyaratkan kebebasan yang tertuang dalam perhatian, intimasi, tanggung jawab dan penghargaan. Intimasi menjadi elemen penting. Pernah sempat dibahas oleh Robert J Standberg, seorang tokoh psikologi kognisi dari Yale University dalam bukunya, Stenberg’s Triangular Theory of Love, bahwa tiga komponen penting dalam cinta adalah intimacy (keintiman), passion (gairah), dan commitment (komitmen). Stanberg menggarisbawahi intimasi adalah sesuatu yang membuat pertemuan dua orang menjadi hangat, cair, dan khusyuk. Jelas intimasi tersebut akan didapat saat dua orang pencinta berinteraksi secara langsung dan pesan lebih tersampaikan daripada menggunakan media perantara dalam berinteraksi.

Jika keintiman diidentikkan dengan interaksi sosial, maka ia akan identik dengan kontak ‘rasa’ atau ekspresi secara langsung. Misalnya, seberapa lekat seseorang menatap pasangannya, atau mungkin seberapa sering kulit mereka bersentuhan dan menimbulkan rasa grogi. Atau bisa dengan ekspresi tersipu-sipu menerima bunga.Saya pikir, jika melihat perkembangan teknologi informasi sekarang ini, intimasi juga ikut terpengaruh. Lihat, orang begitu mudah untuk menghubungi orang lain. Dulu terbantu dengan adanya telepon rumah, justru sekarang mulai ditinggalkan. Tak perlu biaya mahal untuk berinteraksi dengan orang lain, ada internet. Internet mematikan jarak antar manusia. The distance is dead. Arus komunikasi dunia maya semakin ramai, mungkin lebih ramai dari dunia nyata. Semua orang saling terhubung dan bercakap tidak memakan banyak biaya, apalagi waktu.

Apakah tersebut mempengaruhi intimasi cinta seseorang, khususnya kepada kaum muda? Pertama, saya berpendapat bahwa intimasi mulai mempunyai bentuk lain. Atau, lebih tepatnya definisi yang baru. Seseorang dikatakan intim tak lagi melulu tentang eratnya berpegangan tangan. Intensitas seringnya berkomunikasi dengan perantara, misalnya handphone, atau mungkin melalui media sosial internet menjadi salah satu bentuk intimasi abad 21. Bentuk awal intimasi, yaitu berupa perlakuan khusus yang spesial atau khuyuk terhadap seseorang masih bertahan. Abad 21 yang identik dengan ramainya komunikasi bisa membuat indikator lain intimasi berbau teknologi. Misalnya, seberapa sering dia mengirimkan pesan singkat ke telepon selular atau mungkin seberapa sering anda melihat profil seseorang di media sosial atau berapa jam dalam sehari anda gunakan untuk chat (mengobrol) dengan orang spesial. Dalam obrolan di media sosial, atau pesan singkan di handphone bisa berbicara tentang apa saja, yang mugnkin luput dibicarakan saat bertatap muka. Di sisi itulah intimasi mengambil keuntungan dari perkembangan teknologi komunikasi.

Kaum Muda dan Fasilitas Keintiman

Di sisi lain, intimasi menjadi sesuatu yang sangat sensitif dan rapuh sekaligus vulgar. Apakah intim menjadi intim saat ia vulgar? Media sosial seakan ‘menyembah’ kepada keterbukaan. Internet memberikan kesempatan orang-orang untuk pamer tentang apa yang mereka lakukan. Seolah semuanya menjadi penting untuk dikabarkan, narsisme manusia semakin menjadi-jadi. Semua orang menjadi sangat terbuka memberitakan dirinya sendiri dan aktivitas yang dijalaninya. Menurut penelitian Western Illnois University Amerika Serikat, facebook dan media sosial lainnya meningkatkan narsisme agresif yang merugikan secara sosial. Dalam penelitian yang ditujukan pada mahasiswa yang berusia 18-56 tahun, ada dua elemen negatif narsisme yang diukur, pertama grandiose exibitionism (GE)  dan entitlement/exploitativeness (EE).  Seseorang cenderung ingin selalu menjadi pusat perhatian dan selalu ingin mengumbar sesuatu karena tidak tahan selalu diacuhkan oleh orang lain.

Banyak pasangan yang intim di ruang publik dalam lingkup media sosial. Sharing foto, mengumbar kata sayang, bahkan menciptakan/mempunyai anak fiktif media sosial virtual! Edan. Intimasi bisa dilihat di mana-mana, termasuk di status updates atau dalam perubahan status from single to in relationship with. Media sosial menyediakan fasilitas ruang identitas sekaligus intimasi bagi manusia. Apakah hal tersebut mengurangi makna intimasi –secara rasa- itu sendiri? Akan sangat lucu apabila pasangan muda sangat akrab di media sosial, tapi saat berjumpa tidak bisa mengatakan sepatah kata pun dan perbincangan akan anyep. Dingin.

Di satu sisi memang intimasi di media sosial sangat membantu jalannya komunikasi. Namun, apabila di dunia nyata intimasi tersebut hilang, apakah masih bisa disebut intim yang khusyuk yang intimate? Kenyataannya manusia menjalani hidup di dunia nyata, bukan di dunia maya yang virtual dan vulgar. Entahlah, mungkin intimasi abad 21 tak sekedar memberikan kembang (pete) seperti lagu Iwan Fals di atas. Perlu ada aksesoris intimasi yang lain seperti memajang foto berdua, atau sekedar menambahkan status in relationship with. Dunia tak lagi sederhana, begitu pula bentuk komunikasi, intimasi, apalagi cinta.

Bahan Bacaan :

Fromm, Erich. The Art of Loving . (New York : Harper &Row, 1956)

Jebadu, Liberti. Psikolog: Facebook Berhubungan Langsung dengan Narsisme Agresif.  Senin,19 Maret 2012 diakses melalui http://www.beritasatu.com/msnfeed/37658-psikolog-facebook-berhubungan-langsung-dengan-narsisme-agresif.html pada 9 April 2012

*Foto adalah salah satu adegan dalam film Before Sunrise (1995), diperankan oleh Julie Deply dan Ethan Hawke diunduh dari http://www.google.co.id/imgresq=before+sunrise+movie+come+here&um=1&hl=id&biw=1280&bih=709&tbm=isch&tbnid=tiumxV12Rx0LhM:&imgrefurl=http://www.youtube.com/user/Cziczeko&docid=1gVI3ZP2EjIeHM&imgurl=http://i2.ytimg.com/vi/5SbjL172kew/hqdefault.jpg&w=480&h=360&ei=0t-FT_2jFIPamAXRoPG3Bw&zoom=1&iact=rc&dur=512&sig=113072373568477033517&page=1&tbnh=162&tbnw=215&start=0&ndsp=15&ved=1t:429,r:0,s:0,i:60&tx=136&ty=83

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s