Kawah Ijen : Perjalanan Perdana Backpaker Pemula (Bag.2-akhir)

Kawah Ijen dan Nafas Penambang Belerang
Penambang belerang di tengah kepulas asap belerang Ijen

Sepanjang perjalanan saya sering sekali menghidup udara dalam-dalam. Tempat baru adalah nafas baru bagi saya, tak mau terlewatkan setiap hirupan. Siang menjelang sore kami tiba di Paltuding. Puluhan penambang menyambut truk, menyiapkan belerang yang akan diangkat ke dalam truk. Setelah menjejalkan uang rokok pada sopir, kami berlima turun dari truk, menginjak tanah menuju Ijen, surga para penambang belerang.

Matahari masih enggan tenggelam. Hari itu belum waktu senja muncul masih pukul tiga sore. Kami menuju pos penginapan Paltuding, menyewa kamar semalam 100ribu rupiah dan meletakkan barang-barang. Tak ada salahnya ‘menengok’ Kawah Ijen saat sore. Kami putuskan untuk menjajal mendaki Ijen, melihat Ijen saat sore. Lima belas menit mendaki, kami bertemu dengan penambang yang berjalan kaki turun sambil membawa belerang di pundaknya.

“Ngiik..ngiik..ngikk” Suara keluar dari panggulan bambu yang berada di pundak para penambang. Sunggingan senyum tidak mereka lepaskan saat bertemu kami. Padahal, beban yang mereka bawa lebih dari 50kg.Tak jarang kepala mereka ikut tertunduk seiring langkah, sambil sesekali melirik kepada kami berkata “Mari..”

Mas Paing dan giginya yang keropos.

Kami menghampiri penambang yang sedang istirahat. Penambang itu masih muda, nyentrik, memakai penutup kepala layaknya Bob Marley. Berbincanglah kami dengannya, namanya Mas Paing. Sudah menambang sejak SMP, mempunyai keluarga yang tinggal di sekitar Licin. Mas Paing adalah satu dari sekian banyak penambang yang hidup dari belerang Ijen, nafas hidupnya bertumbu pada warna kuning belerang.

“ Besok pagi aja mas, berangkat dari penginapan jam 2 malam, nanti bareng sama saya dan penambang lain. Sore seperti ini Ijen tertutup awan dan kabut” saran Mas Paing. Selanjutnya Mas Paing bercerita bahwa ia kini sedang mengikuti beberapa audisi untuk menjadi talent sebuah film tentang Kawah Ijen. Ternyata ia sudah beberapa kali ikut shooting, antara lain TVONE dan beberapa proyek film dokumenter dari luar negeri. Kawannya banyak, para wisatawan yang melancong ia akrabi, bahkan wisatawan asing. Saya tak menyangka ia sedikit bisa belajar bahasa Inggris. Perjumpaan kami dengan Mas Paing berakhir dengan ajakannya nanti malam untuk berkumpul bersama penambang, makan mie instan bersama.

Menuju sungai belerang, sesaat sebelum malam

Kami memutuskan untuk berjalan- jalan ke sungai belerang, melewati gunung Raung dan Gunung Merapi. Senja itu hanya kami berlima berjalan melewati bukit, sesekali bertemu petani dan sedikit berbincang. Sungai belerang bernama Banyupahit berwarna kehijauan, kami bergegas pulang sebelum gelap. Perjalanan ke penginapan diterangi bintang-bintang, sambil ketakutan kalau-kalau binatang buas menyerang.

Setelah beristirahat sebentar, bergegas ke warung tempat penambang istirahat. Bercengkerama dengan para penambang sambil membuat mie instan dan menghangatkan diri adalah suasana yang saya rindukan saat ini. Keramahan mereka mengalihkan dinginnya malam itu. Kami mengobrol di tengah gelap, tak ada listrik. Listrik di Paltuding mati seusai maghrib, sinar remang-remang pelita kami sambil sesekali tertawa mendengar cerita mereka.

Kebersamaan dengan para jagoan belerang ditunda karena kami harus menjaga fisik dengan tidur untuk pendakian pagi nanti. Pukul dua pagi kami sudah kembali ke sana, sambil berdekat-dekat, suhu pagi itu super dingin menembus sarung tangan kami, hawa dingin masuk di antara celah jari kaki. Perjalanan selama kurang lebih dua jam kami tempuh. Berharap melihat api biru sebelum fajar datang di atas Kawah Ijen. Mas Paing menemani kami bercerita tentang Ijen dan menasehati pernafasan saat mendaki.

Pernafasan saya payah sekali. Saya kalah telak dengan para penambang yang hampir setiap hari naik turun ke Kawah Ijen, dengan beban yang tak main-main, hampir 50 kg di pundak! Tak ada nafas yang tersengal keluar dari mulut Mas Paing. Ia bernafas begitu saja, seperti berjalan biasa saja. Jangan bandingkan dengan saya, tiap 10 menit sudah ngos-ngosan minta istirahat. Tanjakan mungkin hampir 60 derajat, untung saat itu masih gelap memudahkan tidak melihat kenyataan tantangan pendakian. Hahaha.

Kantin sekaligus tempat penimbangan belerang, sesaat sebelum puncak.

Kawah Ijen tertutup kabut, kami tak sempat melihat api biru. Kami turun sampai ke bibir kawah. Kawah Ijen indah sekali! Super Indah. Pesonanya adalah gradasi warna hijau lumut menjadi biru, dengan bingkai tebing tinggi di sekitarnya. Ah, sampai tak bisa di deskripsikan dengan kata-kata.

Ijen, tertutup kabut.

Dari kiri ke kanan, Ike, Any, nicko, Brita dan Febri.

Kami dan Mas Paing

Bambu dan belerang, teman setiap hari penambang.

Bibir kawah Ijen.

Mas Paing dan sahabat sejatinya. Hihihi.

Kami melihat para penambang mengambil cairan berwarna kuning menyala. Bau belerang sangat menyengat, seakan masuk ke kerongkongan kami dengan rasa manis. Jangan lupa membawa penutup hidung atau kain yang dibasahi air untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan. Para penambang mencetak cairan belerang menjadi pajangan lucu. Setelah puas melihat pemandangan dan mengambil air kawah, Mas paing mengajak kami kembali naik sebelum asap belerang mengarah kepada kami. Setelah bercerita kepada Mas Paing bahwa kemarin sore kami berjalan-jalan ke sungai belerang, Mas Paing berkata kalau tak jauh dari sungai itu adalah sarang macan. Tepat di bawah jembatan yang sempat kami lewati, di sanalah sarang macan kumbang. Tuhan, untung saat kami ke sana tidak ada macan yang kelayapan. T.T

Sampai di atas Gunung Ijen, banyak sekali wisatawan asing yang mengambil foto Ijen sambil berdecak kagum. Kebanyakan dari mereka berasal dari Perancis, sebagian berasal dari Australia dan daratan skandinavia. Tak ada kata lain selain ucap syukur atas perjalanan kami ke Ijen sambil melekatkan pandangan yang selama ini kami impikan. Akhirnya!

Saat itu pula saya bersyukur tinggal di Indonesia, berterima kasih atas nafas sampai ke bibir kawah Ijen, mensyukuri atas mata yang diberikanNya memperbolehkan saya melihat pemandangan seindah ini. Kami turun menuju penimbangan belerang. Decak kagum, salut sekaligus mirip sesak dalam hati saya. Satu kilo belerang hanya dihargai 650 rupiah! Setiap penambang rata-rata membawa beban 50 kg belerang di pundak mereka hingga tulang pundak mereka bengkok. Mas paing mendapatkan 38 kg hari itu, senyumnya cerah setelah mendapatkan nota untuk nati ditukar di Paltuding.

Jagoan Belerang

Kawah Ijen adalah nafas bagi penambang belerang. Denyut nadi kehidupan mereka berada di lelehan cairan kuning dan panggulan bambu yang setiap hari mereka bawa ke kawah. Saya berguru kepada mereka, para penambang, yang menghargai setiap langkah dengan rasa syukur. Mereka selalu belajar bahwa hidup tak mesti tentang harta, kecintaan terhadap pekerjaannya-lah yang menghidupi kehidupan mereka.

Kami pulang dengan rasa masing-masing. Saya pulang dengan bekal pelajaran luar biasa tentang hidup. Hal yang saya suka dari perjalanan adalah setiap orang mempunyai kisahnya sendiri. Kami menumpang kembali truk penambang. Perjalanan pulang juga menyisakan cerita tersendiri. Para penambang yang bercanda di atas truk membuat tawa kami tak tertahankan walaupun truk sempat mogok dan penumpang harus turun mendorong kendaraan. Stasiun Karangasem menjadi tujuan kami setelah menyewa angkot dari Licin. Kami menginap di stasiun, namanya juga backpacker, tidur di tempat umum kami lakukan untuk menghemat budget.

Penambang belerang pulang ke rumah untuk mandi.

Truk sempat ambles, tanah tak stabil.

Esoknya kereta ekonomi Sri Tanjung menjemput kami. Sri Tanjung mengantar kami kembali pulang membawa cerita dan pengalaman. Nafas kami terus berlanjut kembali ke rumah menghadapi kenyataan yang lain, bentuk perjalanan yang lain. Begitu pula dengan penambang Ijen yang masih berjalan dengan nafas syukur mencari rezeki melalui belerang.

Kereta pulang.

“ Jelajahi waktu
Ke tempat berteduh hati kala biru
Dan lalu…
Sekitarku tak mungkin lagi
Kini meringankan lara,
Bawa aku pulang, rindu..
Segera…. Dan lalu..”

Iringan lagu Float –Pulang membingkai perjalanan pulang saya. Hati saya tertinggal di Banyuwangi, dan Kawah Ijen yang sekarang sedang ‘sakit’. Sejuta salam kangen dari saya kepada Mas Paing, Mas Kecil,Pak Tarno, dan kawan-kawan penambang lain.

Beranjak pulang.
“Dan lalu..

O langkahku tak lagi jauh kini..
Memudar biruku..
Jangan lagi pulang..
Jangan lagi datang..
Jangan lagi pulang,
Rindu, pergi jauh…”

Dan lalu..
Dimulailah perjalanan saya yang lain.

(Rabu, 8 Februari 2012, 10:13)

Teks: britaputriutami
foto: team.

6 comments

  1. dua bulan sebelum dinyataken aktif, saya bareng teman-teman juga pergi kesana, tidak naik truck, tidak pula kereta api, tapi sepeda motor, itupun bukan lewat jalur banyuwangi melainkan bondowoso ya jalannya “masya allah” itu, kami tiba di parkiran ijen jam 3 malem.

      1. Ya… seru sih tapi penuh tantangan mbak, apalagi jalan menuju Ijennya yang “masya allah” itu, apalagi itu jam dua pagi, dingin sekali.

        Apakah sampena juga ke air terjun balawan dan pemandian air panas “damar wulan”??? bagus juga lho, meski khusus air terjunnya gak bisa dibuat mandi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s