Perempuan dalam Film Indonesia : Hiperrealitas dan Selera Pasar yang Tersinggung (Bag III- Akhir)

Feminisme, Film ,dan Perempuan

Film Pasir Berbisik

Film tentang perempuan berbicara sebagian besar tentang hak perempuan. Selain hak perempuan dasar seperti perlakuan yang adil atau image perempuan itu sendiri, film dan perempuan juga banyak menyinggung identitas kebangsaan Indonesia. Ada banyak sisi Indonesia yang ditonjolkan dalam film perempuan walaupun masih tetap saja hiperrealistis. Penulis tetap menyadari bahwa film itu sendiri adalah ilusi realitas. Pembuat film akan terus berusaha mendekati pada kenyataan yang ada, semakin mendekati realitas maka akan lebih representatif.

Di satu sisi film adalah gambaran realitas yang diberi bumbu khayalan, harapan atau mungkin kekhawatiran dari si pembuat film. Pemberian makna akan tetap kembali pada masyarakat yang menonton. Namun, hal itu juga tidak serta merta membungkus hubungan hanya diantara pembuat film ( \penulis skenario dan sutradara) dengan penonton yang menikmati. Hubungan film dengan masyarakat adalah sesuatu yang kompleks. Negara dilibatkan dalam sensor film, belum lagi kepentingan bisnis yang kadang juga menjadi musuh idealisme para sineas muda idealis.

Produser film yang menginginkan untung yang besar dalam pembuatan film akan sangat memperhitungkan apa yang dimaui pasar. Seperti halnya saat film horor merajalela, belasan produser film akan berbondong-bondong membuat film bergenre horror yang lagi-lagi hiperealistis dengan kenyataan sehari-hari. Film perempuan zaman sekarang, seperti Pasir Berbisik dan Arisan berhasil keluar dari permintaan pasar yang banyak meminta film horor berhantu perempuan.

Nia Dinata

Nia Dinata

Pesan yang disampaikan Arisan dan Pasir Berbisik tidak terlampau jauh juga. Dialog yang disampaikan tidak begitu jauh dari realitas. Pasir berbisik mampu menyajikan gestur pemain yang baik, tanpa kehilangan pengambilan gambar yang baik. Lain dengan Arisan yang memang masih jauh dari realitas sebagian besar perempuan Indonesia, tetapi setidaknya Nia Dinata berani menghadirkan sisi perempuan yang lain yang ada di Indonesia, yaitu para sosialita ibu kota. Sisi feminisme yang coba ditonjolkan dalam film tersebut antara lain hak dasar perempuan seperti mendapatkan pekerjaan, menentukan nasib sendiri dan tidak mendapatkan kekerasan dari pekerjaan maupun lawan jenis.

Dialektika hiperrealistis dan pasar yang meminta masih menjadi hal yang menarik. Di satu sisi, sebagian besar masyarakat masih ingin melihat sisi perempuan yang lain yang jauh dari realitas. Namun , di sisi yang lain, ada penggambaran yang sedemikian jauh dari kenyataan yang ada. Apakah masyarakat malu bercermin tentang dirinya sendiri lewat film? Atau terlalu takut menghadapi kenyataan dalam film bahwa perempuan Indonesia sedemikian kompleks?

Bahan Bacaan :
Kristanto, JB. Nonton Film Nonton Indonesia . Jakarta : Penerbit Buku Kompas .2004 Larry, Grooss. Sol Worth and The Study of Visual Communication pada introduction http ://astro.temple.edu/~ruby/wava/worth/sintro.html
John Fiske. Introduction to Communication Studies. London : Routledge. Hlm 135.
Sasono, Erik. Film, Teks dan Penonton. Diakses melalui http://www.layarperak.com/news/artikel/2005/index.php?id=111273428barthes

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s