Mengintip Anak-Anak Lereng Lawu

Mengintip Anak-anak Lereng Lawu*

Kami tidak ingin dibilang sebagai pahlawan. Yang punya tujuan mulia mencerdaskan kehidupan bangsa, mengubah nasib hidup masyarakat luas  atau apapun itu. Toh, yang kami lakukan hanya setitik kecil perbuatan. Kami yang justru belajar dari mereka. Mereka-lah pahlawan kami. Anak-anak kecil itu.

Perkenalkan… kata ganti ‘kami’ di sini merujuk pada kami, mahasiswa gila kurang kerjaan yang hobi jalan-jalan sekaligus belajar. Ada Ike Astriningtyas(Ike), Febriani (Febri), Nicko Rizqi (Nicko), Doni Febriando (Doni) dan saya sendiri (Brita). Berawal dari ketertarikan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang ditawarkan kampus, kami menyusun program, yaah iseng-iseng siapa tahu dapat membunuh waktu selo (senggang-red) kami. Konsep mengenai pendidikan dan media yang telah kami ributkan pada proses pembuatannya akhirnya disetujui dan diberi dana oleh Dirjen Perguruan Tinggi (Dikti) Voila!

Doni, Febri, Ike, Brita, dan Nicko memakai kaos saringan tahu Mas SAid

Doni, Febri, Ike, Brita, dan Nicko memakai kaos saringan tahu Mas SAid

Sesaat setelah outbound di lapangan Doplang

Sesaat setelah outbound di lapangan Doplang

Medan yang akan kami taklukan sebagai daerah sasaran kami adalah daerah Karanganyar, Jawa Tengah! Basis sarang kami sehari-hari jelas seputaran Sleman- Jogja, karena kami memang menuntut ilmu di Jogja, salah satu kota paling asyik yang pasti akan kami rindukan di masa depan nanti. Sampai sekarang saya pun masih bertanya-tanya, kenapa Karanganyar? Kenapa tidak seputaran Jogja saja yang tak terlalu jauh dari kampus? Ah, coba tanya pada Nicko. Katanya, di daerah Kabupaten Karanganyar masih kurang akses medianya. Katanya media massa seperti koran tak sampai ke daerah desa Kabupaten. Daerah Karanganyar, tepatnya Karangpandan desa Tohkuning, Doplang dan Karang pandan itulah yang kami tuju.

Karangpandan, dilihat dari Candi Sukuh

Karangpandan, dilihat dari Candi Sukuh

Lereng Gunung Lawu

Sejak pertama kali bergabung dengan kelompok dan tema yang dipunyai, saya sudah mengira bahwa kerjaan ini akan sangat menyenangkan, sekaligus mudah merindukan di masa depannya nanti. Bagaimana tidak?! Setiap akhir minggu kami akan berakrab ria dengan bau kecut keringat anak-anak dari 7 Sekolah Dasar (SD) dari 3 desa tersebut. Perjalanan hampir dua setengah jam dari Jogja tidak menyurutkan niat kami berbagi senyum dan  kebahagiaan dengan anak-anak desa. Berangkat uthuk-uthuk (pagi-pagi benar*red), lepas subuh kami niatkan agar sampai tujuan tepat waktu.

Menyiapkan hadiah untuk anak--anak😀

Kami akan mengunjungi tiga SD setiap hari Sabtu dan giliran SD yang lain pada pekan depannya. Sebenarnya apa yang kami lakukan? Cita-cita sebenarnya simple, bukan ingin mengubah hidup anak-anak desa itu. Bukan pula ingin menancapkan paham-paham tertentu yang kami kira baik untuk mereka. Kami hanya ingin mengenalkan dunia yang luas pada mereka. Lewat bacaan-bacaan yang kami bawa, lewat cerita-cerita yang kami siapkan. Harapan kami tak banyak, supaya mereka berkreasi seperti anak-anakkota yang full akses permainan dan bacaan. Sedangkan anak-anak lereng lawu, pulang sekolah akan ngarit di perkebunan karet, membantu orang tua mereka.

Salah satu murid SD Tohkuning 2, membantu bapak mencari rumput di perkebunan karet

Bukankah anak-anak lereng gunung juga tak berbeda dengan anak perkotaan. Semangat mereka sama, bahkan bisa saya bilang, lebih tulus semangat anak-anak lereng gunung Lawu. Sambutan anak-anak saat kedatangan pertama kami sangat bermacam-macam. Adayang semangat sekali mengikuti kami bertepuk, ada yang sok cool juga sok-sok pendiam pada kami, padahal pengin tahu juga! Hihihihi.Biasalah, perjumpaan pertama kami akan sok akrab, menanyakan kabar mereka lalu kemudian disambung sama-sama bertepuk. Ah, anak-anak, saya pribadi sangat iri pada mereka. Apapun yang terjadi mereka akan selalu ceria, senyum mereka akan selalu tulus. Seperti tulus dan sederhananya ‘kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu’, jika boleh mengutip puisi Aku Ingin Sapardi djoko Damono.

SD Doplang 2, murid dan gurunya sama saja, HEBOH

Anak-anak itu bahagia sekali jika melihat kami datang dan membawa hadiah. Ya, namanya juga anak-anak, hadiah akan membuat mereka lebih semangat mengerjakan semuanya. Kami tak banyak memberi hadiah. Paling sebatas majalah anak-anak atau sekedar alat tulis. Itu saja sumbangan dari salah satu media besar. Oh iya, terima kasih kepada Kompas Gramedia yang telah memberikan 500 majalah anak-anak demi keberlangsungan program kami ini.

SD Karangpandan 2, anak-anaknya ganas-ganas, mungkin terlalu gemes dengan kami *😛

Program kami berjalan selama tiga bulan. Sungguh waktu yang singkat untuk bermain dengan anak-anak yang lucu-lucu, imut dan bau kecut-tapi ngangenin seperti mereka. Program kami seputaran meningkatkan kebiasaan membaca dan menulis. Anak-anak semangat sekali membuat puisi, cerita, cerpen setiap minggunya. Bahkan ada beberapa anak yang membuat satu buku tulis berisi cerita dan puisi mereka. Saya beri tahu suatu rahasia, ternyata banyak juga anak-anak yang nekad menyontek puisi di buku pelajaran tak lain agar mendapatkan hadiah. Hehehe, walaupun agak sedikit curang, akmi salut sekali dengan semangat mereka menekuni kegiatan Mas Said ini.

Mas Said ada di setiap tangan anak-anak di foto itu. Oh, tentu saja di hati mereka😛

Oh iya, sampai lupa. Media yang kami ciptakan untuk memuat karya mereka bernama Mas Said, Media Asyik Sahabat Murid. Karya yang lolos seleksi dari kami akan dimuat di majalah Mas Said itu. Bagi yang berhasil dimuat akan mendapatkan hadiah. Biasanya buku atau peralatan sekolah.

itu karya yang terkumpul, ada juga yang nggombal dalam puisi mereka. Ah, kecil-kecil, bakat terpendam boleh juga!

Banyak kejadian lucu yang kami temui selama wira-wiri mulai bulan Maret 2010 kemarin. Dari sambutan yang luar biasa dari anak-anak. Suara motor kami seolah ‘membangunkan mereka’. Dari kelas satu sampai dengan kelas enam keluar kelas dan menyalami kami. Duh, serasa selebritis saja! Belum lagi mereka sering kali meng-sms beberapa dari kami. Pertanyaan ‘Kak, lagi apa?” atau “ Kak, karyaku dimuat yaa…hadiahnya besok apa?”. Yang paling lucu adalah sms  “Kak,pulsaku abis, beliin pulsa dong”. Hahaha sejak kapan anak-anak ketularan sms penipuan “mamah lagi di kantor polisi, tolong beliin pulsa dong” Hahahahaha

Mereka senang sekali berfoto bersama

Agenda : salam-salaman. Backsound : Waaah Mas Said dataang..Mas Said datang!

Belum lagi respon dari guru-gurunya.Adabeberapa guru yang semangat sekali bahkan mengosongkan jam pelajarannya untuk kami masuk kelas.Ada guru yang sempat miss communication dengan kami. Agak sebal dan gemes juga kalau mengingat hal itu. Tetapi sekarang, jujur saya sangat rindu.

Doplang 2, kami artis di sana..HAHAHAHAHA *ketawa setan

Ah ada banyak sekali momen kami bersama anak-anak lereng lawu. Kami menjadwalkan outbound setiap SD-nya. Outbond pertama kami ke sungai Mojo, kalau tidak salah namanya. Kami menjadwalkan mereka akan menulis puisi, cerpen atau cerita apapun dari keadaan sungai tersebut. Mereka melakukannya, tapi tak sabar untuk ceburan ke sungai. Momen itu seruuuuu sekali. Hampir semua anak menceburkan diri ke sungai yang lumayan besar. Bau tai bebek sebelah sungai sama seklai tidak mengganggu mereka. Saat di sungai itu, saya justru merasa yang paling ndeso di antara anak-anak itu. Mereka akrab sekali dengan alam. Sedangkan saya, ah sibuk diri sendiri, teknologi, tak sempat bercengerama dengan alam.

Hari itu ada Marlina dan Devi. masing-masing teman Ike dan Nicko

itu jam 12 siang hloo.Puanas banget tapi segerrr!

Gadis-gadis centil Karangpandan. Idola mereka SM*SH

😀

Kondisi alam Karangpandan memang indah. Lereng Gunung Lawu yang tidak telalu banyak bangunan tinggi. Jalan menanjak lalu menurun, sawah di pinggir jalan, adalah teman baik kami selama akhir pekan.

Belum lagi persinggahan outbound kami ke Perkebunan Karet Mojogedang. Ah, itu salah satu yang paling asyik juga. Banyak yang datang dan seruu sekali!Adabanyak games dan anak-anak sangat antusias.Ada konflik juga, sepatu salah satu anak ada yang menyembunyikan. Hampir terjadi tawuran anak SD di tengah perkebunan karet yang biasanya sepi. Si Anak nangis dan sempat marah-marah kepada kami. Untungnya bisa diselesaikan dengan damai dan sejahtera. Walaupun si anak pulang dengan sumpah serapah.

Getah Karet karangpandan

Sebelum ada konflik hilangnya sepatu sebelah😛

Kegiatan kami juga mengundang teman-teman lain yang tidak ikut kelompok kami, tertarik mengunjungi anak-anak lereng Lawu. Ada Mbak Any, Wulan, Devi, Marlina,Natia, Via, Indah, Maya, ah, terima kasih atas bantuannya ya, teman-teman!

Adabanyak pula kejadian malangyang kami temui. Dari penolakan proposal beberapa instansi, belum lagi kecelakaan yang sempat dialami oleh Febri. Juga pertengkaran-pertengkaran kecil khas kami. Hahahaha, ngakak kalau mengingatnya kembali. Sampai sekarang, kadang anak-anak masih sms kami. Menagih kapan kembali ke sekolah mereka.

Salah satu anak yang paling banyak mengirim karya!

Ah, tentang sapaan kepada mereka yaitu ‘anak-anak’ sepanjang cerita ini agak mengundang rasa risih di diri saya. Mereka, anak-anak itu, lebih cocok saya undang sebagai teman-teman. Teman belajar. Semangat mereka sungguh luar biasa. Pulang sekolah mereka akan membantu orang tua di perkebunan karet. Pergaulan juga sebatas kampung, sungai dan kebun karet. Hebatnya lagi, mereka tidak minder sebagai anak-anak yang gaul di sungai atau perkebunan karet. Man, menurut saya mereka gaul sekali, pulang sekolah membantu ibu, kadang menyempatkan diri mandi di sungai. Hahaha.

Main pake kertas koran geje di lapangan Doplang

Mereka sok-sok rapat gituu hehe lucu

Walaupun SD Tohkuning 2 kadang bikin gemes, mereka yg sering sms setelah program selesai :')

Kami yang justru belajar dari mereka. Tentang keceriaan, indahnya masa depan dan tentu saja, kerinduan. Menurut saya,hati dan pikiran anak kecil penuh dengan kerinduan, tentang hari esok, tentang pelajaran apa lagi yang mereka dapat esok hari. Hah! Tampar saja kami-kami yang sok dewasa dan selalu khawatir tentang esok hari. Bukankah kekhawatiran tentang esok hari itu penghinaan terhadap Yang Mencipta kita? Mungkin itu yang ada di pikiran anak-anak. Keceriaan dan penuh harapan. Tak heran, Peter Pan selalu berharap menjadi abadi menjadi anak-anak. Menafikan diri untuk tumbuh dewasa.

Anak-anak ini adalah bagian dari kita,Indonesia. Semoga harapan mereka akan keindahan dan keceriaan menjadikan mereka untuk tetap mejadi diri mereka sendiri.

Ceria😀

Lihat sorot mata mereka, tulus, penuh harapan dan semangat!Merdekaaa!

Sekian cerita dari saya. Titip salam rindu saya untuk anak-anak lereng Lawu dan angin yang menemani kami tahun lalu!

*nb :

Catatan perjalanan ini kegiatan seputaran awal sampai pertengahan tahun 2010.Seharusnya catatan kecil ini selesai bulan-bulan kemarin. Alasan tidak sempat menulis tidak seharusnya saya pergunakan, juga alasan tidak punya laptop. Yah tapi bagaimana lagi, memang itu kenyataannya. Mahasiswa zaman sekarang, selain jago teori doang, memang jago ngeles. Jadi, ya selamat menikmati!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s