Mati Lampu

Seminggu yang lalu, tepat hari Sabtu, saya pulang (tidak seperti biasanya memang, tapi memang sedang ingin rajin pulang saja). Sebelum maghrib listrik mati, hujan sangat lebat. Bagi yang belum pernah ke rumah saya, hujan lebat mungkin biasa saja, tetapi yang sudah tahu rumah saya, hujan lebat adalah pertanda penting. Hahahaha. Semanggi adalah daerah mmm langganan banjir. Namun, daerah saya masih beruntung hlo, banyak daerah lain yang lebih tinggi banjirnya, di gang rumah saya sih paling setinggi mata kaki. Jadi kebayang kan, setelah hujan reda akan ada event besar di rumah saya, ngeluarin air dari rumah (di beberapa bagian saja sih) sapu-sapu dan jemur jemur. Bytheway,cukup ya, saya tidak akan curhat penderitaan korban banjir, hehehe.

Jadi sore itu ada pemadaman. Kalau hujan deras begini biasanya pemadaman listrik akan lebih lama, tidak seperti biasanya yang hanya setengah atau satu jam. Hujan deras dan mati lampu, duet maut yang asyik (apaan sih). Setelah rampung menutupi buku-buku ayah saya dengan jas hujan, perangkat bekerja yang juga ketrocohan (ketetesan air) sambil kriyip-kriyip pakai lilin, tuntaslah semua tugas gawat darurat. Mbah saya juga sudah menyiapkan beberapa lampu minyak untuk dipasang di beberapa tempat.

Oh iya, keadaan semakin ‘sempurna’ karena sabtu malam adalah malam minggu dan saya di rumah (seperti biasa) bersama lampu minyak, keluarga dan cucian basah. Telepon seluler saya juga mati karena baterainya habis. Kegiatan berkirim pesan juga tertunda.

Sempurna.

Di samping ‘kesempurnaan dengan tanda petik’ itu, saya selalu suka event mati lampu. Keadaan gelap, tidak ada suara televisi, deru dynamo, atau musik dangdut dari kejauhan. Suasana hening, silence dan khusyuk menunggu nyala lampu. Kalau mati lampu begini, saya jadi ingat momen-momen mati lampu saya yang lain. Dulu, saat rumah saya masih di Solo Baru dan masih ada adik perempuan, mati lampu adalah momen berhangat-hangat. Saya, ibu saya dan adik perempuan saya (Wulangreh belum lahir) berkumpul dalam satu ranjang, menghangatkan diri dan bersayang-sayangan sambil saling bercerita.

Momen mati lampu dengan mbah saya juga selalu asyik. Dulu sewaktu kecil, setiap akhir pekan saya menginap di rumah mbah saya (ya di Semanggi ini). Kalau mati lampu (dalam bahasa Jawa disebut oglangan), mbah saya sering bercerita tentang masa lalunya, tentnag buyut saya, tentang sejarah kami dahulu. Bahkan saya tahu kalau bapaknya mbah buyut saya ( nah lo! Mmm itu kalau tidak salah namanya canggah-dalam bahasa Jawa) adalah seorang pawang gajah di Kraton. Beliau meninggal karena gajah yang diurus. Beliau diangkat oleh belalai gajah itu dan dihempaskan.Wow.

Momen mati lampu Sabtu kemarin lain. Saya diajak membicarakan diri saya yang sekarang dan nanti mau jadi apa. Masih tanpa listrik, masih menunggu nyala dengan lampu minyak. Oh shit. Saya merasa tertampar dengan pembicaraan kami. O, ternyata begini to saya, o ternyata begini to lingkungan saya. Masih banyak sekali yang harus saya perbaiki dalam diri saya. Masih banyak sekali hasl yang belum saya capai, masih banyak orang yang ingin tahu cerita bahagia dari saya. Dan tentu, masih banyak hal buruk yang mesti saya kenali bahwa itu buruk dan perlu saya tinggalkan.

Mati lampu malam itu adalah sekitar tiga jam. Mmm, saya tidak akan membagi pembicaraan tiga jam itu apa saja dalam catatan ini, karena yaa saya enggak suka aja, ini media sosial, kontes melihat kepribadian orang, :p. Dan bayangkan pembicaraan selama tiga jam tanpa distraksi yang lain. Saya ulang lagi, saya suka sekali event mati lampu. Saya jadi berfikir, korelasi mati lampu ini dengan masalah-tak kunjung selesai, keburu semangat hilang- dari ‘keluarga kecil’ saya di kampus. Mungkin kita butuh mati lampu atau pemadaman sejenak untuk mengetahui siapa kita dan apa tujuan kita. Endapkan hati dan pikiran dalam hening sejenak, cukup sejenak, tak perlu lama-lama seperti mati lampu.

Matilampu membuat kita ‘sayang ‘ dengan diri sendiri dahulu, dalam bentuk was-was terhadap sekitar karena saking gelapnya. Mati lampu membuat kita ‘perhatian’ dengan sekeliling kita, apakah mereka masih di dekat kita atau ada di jauh. Jika berada di jauh, maka akan kita hubungi, memberi tahu bahwa di rumah mati lampu, hati-hati. Apabila berada di jauh, mari saling mendekatkan saling menghangatkan, saling menjaga. Mati lampu membuat kita intim, khusyuk saling mengenal tanpa gangguan. Karena keadaan yang memaksa kita begitu. Mati lampu membuat kita sama-sama berharap, lampu cepat nyala dan segera melaksanakan apa yang tertunda. Harapan kita sama, perasaan kita tak beda.

Kemungkinan lain ketika mati lampu dan itu malam hari adalah tidur. Kebayang enaknya kan, mati lampu, hujan deras dan tidur? Tapi sayang, bagi kalian yang memilih tidur akan menyia-nyiakan kejutan saat lampu menyala.

Saat lampu menyala adalah saat yang paling membahagiakan. Kalau di kampung saya, saat lampu menyala akan ada teriakan “ Waaaaaa!” atau “ Yeeeee”. Begitu pula di rumah saya. Setelah itu akan ada event tiup-tiup lampu minyak. Itu yang paling saya sukai. Sambil sebelumnya nyanyi “ Selamat Ulang tahun..” padahal tidak ada yang ulang tahun. Setelah itu kita melakukan hal yang tertunda, melakukan hal yang sudah kita bicarakan saat mati lampu tadi.

Yang terpenting adalah kita merasa bersama saat mati lampu itu. Walaupun sebentar dan saling berharap akan sangat banyak manfaat. Tapi tak baik juga terlalu banyak mati lampu. Banyak pekerjaan yang kacau, kita tak habis-habis bicara tanpa bekerja.

Saya suka pemadaman, karena itu saya merasakan kebersamaan. Tetapi saya juga tak sabar lampu cepat menyala, kita lakukan mimpi kita.

2 comments

  1. Hi Brit (bukan orang Inggris kan?)
    Tulisannya bagus, mengingatkan saya saat kecil, sering mati lampu, tapi tidak ada yg mendongeng. cukup cari kesibukan dengan bonekanya sendiri, oleh-oleh paman dari Jerman yang bisa bunyi owek owek kalau badannya di bolak balik.

    Mungkin semakin sering mati lampu, masyarakat kita akan lebih sehat, tidak terlalu banyak dijejali acara televisi yang semakin tidak mendidik (kecuali beberapa stasiun TV a.l. DAAI TV, Metro kalau tidak sedang mengampanyekan Nasdem dg Surya Palohnya).
    Tidak alergi apa pun? Harusnya ada. Alergi kpd koruptor..

    Salam.
    eyang putri

    1. Hai Laksmi, senang kenal denganmu. Hehe itu saya salah, seharusnya bukan mati lampu, tai mati listrik…Hehe iya,ya, harusnya saya alergi terhadap koruptor, oh iya, satu lagi, alergi terhadap kampanye partai politik hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s