Imajinasi Banal Diktator Chaplin

 

Ingin lihat dictator mahsyur Adolf Hitler dalam bingkai yang lebih kocak?Menari-nari dengan balon bergambar bola dunia atau Hitler yang menghargai kemanusiaan dan bicara tentang anti-rasisme? Charlie Chaplin menjadikannya nyata dalam layar perak.

The Great Dictator, rilis tanggal 15 Oktober 1940 adalah ‘anak’ kreativitas seniman besar Charlie Chaplin (1889-1977). Multitasking sebagai sutradara, produser sekaligus aktor. Charlie Chaplin mengerjakan proyek film bicara The Great Dictator dengan propagandis, banal dan tetap satir. Berlatar belakang Perang Dunia I, Charlie Chaplin menyita perhatian dengan memainkan tiga peran sekaligus.

Yang pertama adalah sebagai seorang prajurit perang yang linglung. kemampuan komedi slapstick Charlie Chaplin Tak diragukan lagi dalam peran ini. Seperti dalam film sebelumnya (Modern Times, 1936) Charlie ciamik dalam akting tanpa kata, karena sebagai prajurit dalam The Great Dictator, adegan berkisar tentang Charlie dan senjata yang dibawanya. Peran yang kedua yaitu sebagai tukang cukur Yahudi. Charlie Chaplin tak lagi diam, ia berdialog dengan lawan mainnya, Paullette Goddard. Aktris Amerika ini meneruskan kerjasamanya dengan Charlie setelah Modern Times, sebagai Hannah, istri sang tukang cukur Yahudi.

Adenoid Hynkel, tokoh fiksi ciptaan Charlie Chaplin yang terinspirasi dari Adolf Hitler. Bagaimana tidak? Kumis aneh, logat Jerman kental dan plesetan lambing nazi dipakai oleh Charlie Chaplin sebagai perwujudan Hitler versinya. Sebagai penguasa di Tomaina, Hynkel dingin dan galak. Berbeda dengan versi Charlie Chaplin yang lain dalam film ini. Charlie Chaplin sangat mumpuni untuk menjadikan karakter Hynkel sebagai pusat perhatian. Hampir 2/3 film ini bercerita tentang Hynkel. Tak mau saling lepas antara tiga peran tersebut, Charlie Chaplin membuat konflik dengan membuat dua karakter bertemu. Si tukang cukur Yahudi dan si Diktator Hynkel. Bahkan mereka bertukar peran. Si tukang cukur tiba-tiba bicara tentang anti rasisme dan kemanusiaan. Di sini sisi banal Charlie Chaplin. Ia membalik 180 derajat image Hitler.

Menurut saya, film ini sangat menarik. Kita dapat melihat Charlie Chaplin dalam 3 karakter sekaligus dalam satu film, begitu ia ingin diperhatikan. Film komedi tetapi tidak meninggalkan latar belakang social politik masa itu. Saat Nazi merajalela menganggap ras arya adalah ras terbaik di dunia dan tidak memanusiakan ras yang lain, dalam hal ini Yahudi. Charlie membungkusnya dalam propaganda terang-terangan dalam pidatonya sebagai Hynkel. Hynkel sendiri sesungguhnya adalah lelucon, tapi pidatonya tak pernah main-main.

You, the people, have the power to make this life free and beautiful?to make this life a wonderful adventure. Then?in the name of democracy?let us use that power?let us all unite. Let us fight for a new world?a decent world that will give men a chance to work?that will give youth a future and old age a security!

Cuplikan pidato Hynkel tersebut sesungguhnya kritik habis-habisan Charlie Chaplin terhadap Hitler sendiri, bahwa ia tidak setuju dengan kekerasan. Saya sangat tertarik dengan konsep universal yang diberikan Charlie Chaplin dalam pidato ini. Namun, ia tidak meninggalkan kesan pribadi, face to face yang ditujukan ke Hannah. ‘Look up, Hannah’, “Hannah, Can you hear me?” Permintaan Charlie kepada Hannah supaya didengar nyatanya tidak ditujukan kepada perempuan itu sajatetapi juga untuk kita semua.

Teknik framing dalam film ini juga luar biasa. Charlie Chaplin ingin menjadi pusat perhatian dan ia berhasil. Kamera fokus kepada Charlie dan aktingnya. Belum lagi, speech Charlie yang membebaskan penonton dari pidato menggebu Hitler yang terlalu sombong dengan rasnya. Untuk ukuran film saat itu, The Great Dictator mampu menyihir penonton dengan menampilkan Charlie dalam tiga karakter kuat. Charlie tetap tidak meninggalkan teknik montage, kamera yang ikut bermain. Setting film dan suasana di sekitarnya juga kuat, suara bom dimana-mana belum lagi suara tembakan.

( Kutipan pidato Adenoid Hynkel) Dunia ini adalah ruang untuk semua. Begitu pula dengan Charlie Chaplin. Dunia film adalah ruang baginya untuk mengeksplorasi imajinasinya yang gila-gilaan!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s