Film : (Bukan) Ilusi Cipta, Rasa, dan Karsa

Penulis bertanya-tanya,apa yang ada dalam pikiran Luemiere Brothers saat menciptakan cinematographe. Apakah ingin sengaja ingin tampil dalam deretan penemuan yang paling berpengaruh? Atau malah iseng mempunyai cita-cita sebagai Bapak Perfilman? Tentu Lumiere Brothers menciptakan alat yang memudahkan melihat gambar bergerak bukan untuk main-main. Lumiere brothers mungkin terobsesi dengan kekuatan ilusi realitas. Berawal dari cinematographe, film berkembang menjembatani ilusi kenyataan, mendewakan kekuatan visual.

“Young man, you can be grateful that my invention is not for sale, for it would undoubtedly ruin you. It can be exploited for a certain times as a scientific curiosity, but apart from that it has no commercial value whatsoever” ( Auguste Lumiere, co-inventor of Modern Cinematography, 1895)

Awal tujuan penemuan jelas sebagai tujuan ilmiah, manifestasi pengetahuan untuk mengasilkan pengetahuan yang lain. Benar adanya,jika tidak ada cinematographe, kita tidak akan bisa menikmati sekumpulan gamba bergerak yang menceritakan tetang sesuatu seperti selama ini kita nikmati. Film pun mengalami evolusi.  Patokan asal muasal film tidak bisa dipatok dari penemuan Luemiere brothers, jauh sebelum itu manusia sudah mengenal gambar bergerak. Lewat gambar-gambar di dinding goa dan kemampuan bercerita, cikal bakal film sudah ada saat zaman primitive. Film sendiri sudah menjadi bagian dari budaya, tak terpisahkan dari kedinamisan pikiran manusia. Film akan terus ada dan berkembang selama manusia ada dan berkreasi.

Belajar tentang film itu mau tak mau membuat kita semakin peka, semakin cinta akan detail. Kita tak bisa langsung asal jeplak berkomentar atas film tertentu. Ada latar belakang  atau pengetahuan tertentu yang harus diikutsertakan karena lagi-lagi kita belajar film lewat Kajian Film.  The Kiss sebagai film cerita yang pertama dibuat pada tahun 1896 menjadi saksi bisu perubahan era film bisu ke film suara sekaligus komersialisasi film. Pertunjukan gambar bergerak sepanjang urang lebih 47 detik itu hanya merekam kegiatan berciuman seorang dengan berkumis tebal dengan seorang wanita. Hanya berciuman? Itu Saja? Jangan salah, The Kiss garapan William Heise itu adalah lompatan besar dalam sejarah perfilman.

The Great Train Robbery adalah salah satu lompatan lain dalam sejarah perfilman. Bubuhan acting dan cerita serta efek-efek tertentu adalah hasil kontempelasi beberapa cabang seni lain dalam satu film. Bercerita tentang perampokanan dalam kereta berjalan The Great Train Robbery arahan Edwin S Potter tahun 1903 sekaligus menandai perubahan film sebagai komoditas bisnis. Amerika Serikat sebagai pondasi awal industry film lewat Hollywood  turut mengmbangkan film sebagai komoditas ekonomi. Tahun 1920-an adalah semarak geliat film sebagai industri. Genre film seperti melodrama, biblical epics, misteries, comedies, war, westerndan lainnya mulai dikenal.

Belajar tentang film mau tak mau juga belajar tentang identifikasi terhadap kondisi social masyarakat saat itu. Film Rusia yang kondang dengan sebutan “Russian Style” sangat identik dengan semangat revolusi dan pemberontakan. Battleship Potemkin arahan Sergei Eisenstein sangat kental dengan perjuangan kaum tertindas khas sosialisme yang bergaung pada masa itu. Pembuatan film mulai mengerucut terhadap tujuan-tujuan tertentu. Tujuan propagandis misalnya, Battleship Potemkin sebagai contoh yang tepat bahwa sang sutradara bisa menancapkan pengaruh ideologinya dalam pembuatan film.

Pembelajaran tentang film sendiri tidak berhenti kepada teknik-teknik perfilman seperti montage atau yang lainnya. Belajar tentang film jelas belajar beradaptasi dan apresiasi. Karena film buatan manusia dan dinikmati oleh manusia sendiri maka akan bersentuhan dengan moral maupun norma yang mengatur masyarakat tersebut. Belajar film berarti belajar adaptasi moral, ada negoisasi tertentu dalam tujuan unutk apa film itu dibuat. Implementasinya adalah sensor film.  Sedangkan, belajar apresiasi adalah belajar bersikap. The Great Dictatoroleh Charlie Chaplin sebagai contoh apresiasi Chaplin terhadap keotoriteran Hittler.

Belajar tentang film tak jauh dari belajar kemanusiaan dan budaya manusia. Ada cipta, rasa dan karsa di dalamnya. Dalam judul ‘ilusi visual’ ,film adalah manifestasi cipta, rasa dan karsa manusia terhadap sejarah yang  hidup di dalamnya.

 

 

Referensi :

Gordon, Lester. 1982. Let’s Go To The Movies! A Collection of Tales, Trivia and Quotes. CA: Santa Monica Press

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s