The Dancer : Kisah Cinta Sejati Sang Ronggeng

“ Sus , Ronggeng kiye duniaku… Wujud dharma bhaktiku marang Dukuh Paruk..”

Cuplikan dialog khas Banyumasan Srinthil (Pia Nasution) kepada Rasus (Oka Antara) ,cintanya, yang membujuk untuk tidak lagi menjadi ronggeng. Sesungguhnya Srinthil berada dalam dilema berat. Antara menjadi ronggeng atau menurut kepada Rasus, tidak meneruskan sejarah ibunya yang juga ronggeng, menjadi wanita biasa. Srinthil nyatanya memilih jalan hidupnya sendiri. Mengabdikan diri kepada tanah airnya, Dukuh Paruk.

Dukuh Paruk adalah desa yang kering kerontang, tanahnya pecah-pecah, dahan jati sering kali meranggas menyelamatkan diri dari panas. Sekian lama setelah pageblug (bencana) tempe bongkrek, Dukuh Paruk resmi nihil tanpa ronggeng. Sang Ronggeng sebelumnya, Ibu Rasus, nayatanya ikut tewas dalam wabah tempe bongkrek beracun buatan orang tua Srinthil. Tempe yang terbuat dari ampas kelapa itu juga turut menewaskan menewaskan bapa-biyung Srinthil. Mereka ingin membuktikan bahwa tempe buatan mereka tidak beracun, tapi tempe itu memang tak layak makan. Srinthil menjadi yatim piatu, dibesarkan suami istri Sakarya (Landung Simatupang), yang menggadangnya menjadi ronggeng. Indang ronggeng dipercaya bersemayam di tubuh Srinthil, atas restu arwah Ki Secamenggala, moyang Dukuh Paruk yang keramat.

Film Sang Penari (The Dancer) besutan Ifa Ifansyah ini adalah visualisasi Novel sastra Ronggeng Dukuh paruk karya Ahmad Tohari. Sangat menarik mendengar Novel ini akan difilmkan. Membaca novelnya saja begitu nikmat, seperti didongengkan. Novel yang terbit tahun 1982 ini sebenarnya sudah pernah dibuat sinema 2 tahun setelah buku muncul. Layar perak Ronggeng Dukuh paruk pertama mengusung aktris Enny Beatrix sebagai pemeran utama.

Tak mudah bagi Salman Aristo, penulis skenario Sang Penari untuk membuat script-nya. “ Butuh tiga tahun pembuatan scenario, saya merasa sangat tertantang untuk mengerjakan film ini “ ungkap Salman Aristo dalam Diskusi usai pemutaran perdana Sang Penari di Empire XXI Jogjakarta, 16 Oktober lalu. “Ronggeng Dukuh Paruk adalah novel legendaris yang tidak perlu ditanyakan lagi kekuatannya bercerita. Novel ini sekaligus bacaan wajib unutuk mendekati cewek aktifis yang kritis…hahahaa” seloroh Salman Aristo.

“ Novel dan film adalah dua media yang berbeda. Film mempunyai cara tersendiri untuk menyentuh penonton. Salut untuk film Sang Penari karena berhasil mendramatisasi novel dengan baik. Walau endingnya kalah kejam dengan ending versi novel..hahahah” ungkap Ahmad Tohari yang juga hadir dalam pemutaran dan diskusi di Yogyakarta. Raut Wajah Ahmad Tohari masih merah, ternyata memang habis menangis,larut dalam film.

“ Saya berharap film ini bisa menjadi pembanding film lain. Dapat menggerakkan tren perfilman yang melulu tentang kehidupan orang golongan atas. Kita juga perlu film dari sisi kehidupan orang bawah, dalam hal ini Dukuh Paruk, yang kalah oleh sejarah..”harapan Ahmad Tohari optimis film ini tidak mengecewakan pembaca novelnya.

Kehidupan Srinthil dan Dukuh Paruk adalah wajah Indonesia sesungguhnya. Kaya akan budaya, beragam perspektif tentang wanita dan sekaligus banyak sejarah kelam di dalamnya. Ronggeng bagi Dukuh Paruk bukan hanya budaya, tetapi kehidupan. “ Dukuh Paruk hanya lengkap bila di sana ada keramat Ki Secamenggala, ada seloroh cabul, ada sumpah serapah dan ada ronggeng bersama perangkat calung” (Ronggeng Dukuh Paruk, hlml. 16)

Pia Nasution memainkan perannya sebagai Srinthil perlu diacungi jempol. Ia berhasil menciptakan mistis saat pertama kali meronggeng, tanpa ada yang menonton. Hanya ada dia dan Sakum, sang penabuh gendang. Konflik terus berlanjut dalam hidup Srinthil, ia harus melalui acara bukak klambu, saat keperawanan seorang Ronggeng diperebutkan dengan barang-barang mahal. Namun, cintanya hanya kepada Rasus,keperawananannya hanya milik pemuda desa lugu itu. Pia dan Oka memainkannya dengan baik, penuh dengan chemistry.

Srinthil sebagai ronggeng mahsyur bahkan di luar desanya. Srinthil dan Dukuh paruk adalah satu. Banyak tawaran datang kepada Srinthil, Dukuh Paruk turut kondang dengan adanya Srinthil. Banyak pula orang yang menjamah tubuh Srinthil. Ia kian lama semakin tidak nyaman dengan hal itu. Srinthil galau dengan statusnya sebagai ronggeng, apalagi ia tahu bahwa ronggeng ditutup peranakannya. Srinthil tak bisa punya anak, tak bisa menjadi ibu, wujud kewanitaan sejati.

Rasus juga memilih jalan hidupnya sendiri. Ia pergi belajar unutk menjadi tentara, ia pergi meninggalkan Srinthil. Ia menolak perkawinan yang ditawarkan Srinthil, Ia memberikan Dukuh Paruk seorang Ronggeng. Sang penari yang dipercaya membawa kehidupan.

Semua berubah saat Dukuh Paruk dimasuki Bakar (Lukman Sardi) simpatisan partai dengan warna merah yang sering menyuarakan pergerakan petani dan budaya. Dukuh Paruk sering dianggap daerah merah Partai Komunis Indonesia (PKI) oleh para tentara, termasuk Rasus. Makam Ki secamenggala dihancurkan, tentara masuk mencari warga yang diduga terlibat dalam Gerakan 30 September 1965. Dukuh paruk adalah korban sejarah. Mereka semua digiring oleh para tentara, disiksa. Rasus teringat Srinthil. Srinthil mencari Rasus, mereka ingin menyelamatkan Dukuh Paruk atas nama cinta. Tak bisa berbuat apa-apa, sejarah berkata lain pada Dukuh Paruk, Ronggeng dan cinta dua anak manusia di dalamnya. Bukan akhir yang bahagia.

Ada beberapa catatan tentang film-isasi novel ronggeng Dukuh paruk ini. Bahwa gambaran Dukuh paruk tidaklah sehijau dalam layar perak. Panas dan kering justru dirasakan saat membaca novelnya. Hal ini yang dikeluhkan para kru film karena saat syuting hujan terus mengguyur lokasi. Kesan desa miskin, penuh kelaparan dan malnutrisi juga kurang maksimal ditampilkan, Dukuh Paruk dalam film terlalu hijau, terlalu makmur. Belum lagi gambaran Sakum yang memainkan gendang, padahal seharusnya memainkan calung, alat musik khas Banyumas

Film yang berdurasi selama 111 menit ini berhasil memainkan emosi penonton. Diramaikan oleh penampilan Slamet Rahardjo, Happy Salma, Landung Simatupang, Tio Pakusadewo, Lukman Sardi, dan Hendro Djarot, Sang Penari Siap tayang tanggal 11 November 2011. Sang Penari jelas merupakan rekomendasi baik, karena sarat akan berbagai pesan. Tentang sejarah Indonesia yang pernah luka oleh penindasan yang dilakukan oleh aparat kepada masyarakat tak bersalah. Tentang wanita Indonesia yang menjunjung harga diri. Tentang kisah cinta Srinthil- Rasus yang penuh pengorbanan. Dan yang terpenting, tentang kisah cinta sejati anak manusia kepada tanah airnya, Srinthil kepada Dukuh Paruk.

One comment

  1. ronggeng juga bisa galau rupanya, hehehe…
    meski “bukan akhir yang bahagia”, sepakat juga dengan pak tohari, film ini masih lebih ‘menyenangkan’ ketimbang novelnya–terutama endingnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s