Rumah di Pinggir Sawah

Screenshot_2020-05-07-23-44-56-573_com.instagram.androidAku datang ke rumah yang baru dibangun itu kira-kira pukul satu siang. Setelah surelku dibalas, aku dikirimi sms untuk datang mengobrol tiga hari setelahnya.

Seingatku rumah itu belum selesai dicat. Temboknya masih batu bata yang belum dihaluskan. Kata Mbak Neneng, perempuan yang kutemui, masih dalam proses pembangunan, ia sekalian minta doa semoga cepat jadi.

Aku diminta bertemu dengan Pak Haris dan Pak Joni. Mereka ada di ruangan depan. Sambil melihat-lihat bangunan rumah, aku membatin. Bangunan ini berdesain rumah, tapi berfungsi kantor. Aku masuk. Pak Joni menghadap laptopnya dengan menggunakan earphone. Mereka menanyaiku tentang aktivitas dan kesediaanku untuk menjadi bagian dari organisasi ini. Aku bilang bersedia, tapi juga dengan kondisi aku sedang mengerjakan skripsi.

Tidak lebih dari seminggu, aku ditelepon Mbak Neneng, yang kemudian aku tahu ia adalah tim keuangan, untuk mulai bekerja pekan depannya. Aku satu tim dengan Mbak Purwanti yang akrab dipanggil Mbak Ipung, ia adalah paralegal yang mendampingi kasus-kasus difabel berhadapan dengan hukum. Juga dengan Pak Ismail, yang jadi rekan satu timku di divisi media dan Pak Antok yang jadi tempat konsultasi masalah IT

Tugasku mengedit berita dan tulisan untuk ditampilkan di website Sigab dan Solider, juga membuat konten-konten lain. Aku sering diajak Mbak Ipung untuk ikut mendampingi dan mencatat kasus difabel berhadapan dengan hukum. Paling banyak kasus yang didampingi adalah difabel perempuan korban kekerasan seksual.

Mbak Ipung difabel daksa, ia mengendarai motor roda tiganya berkeliling ke pelosok desa untuk mendatangi langsung korban. Aku membonceng Mbak Ipung ke KulonProgo, Bantul, Sleman. Semua temuan itu selalu didiskusikan dengan teman-teman saat makan siang di ruang belakang.

Tak banyak personel Sigab saat itu, tak ada 10 orang. Kami membeli lauk untuk dimakan bersama-sama. Biasanya, kita bergilir membeli lauk dii desa sebelah. Menunya sederhana, sayur dan lauk tahu tempe.

Di meja makan siang itulah kami sering berdiskusi. Mbak Ipung dengan semangatnya menmenceritakan temuan kasus. Pak Syafiie mendraf riset yang akan dilakukan, Pak Udin mengupdate kabar dari teman-teman komunitas. Pak Joni selalu memantik dengan caranya yang santai, tapi bernas. Mbak Wanti dan Mbak Neneng biasanya anteng menyimak. Juga Pak Rohmanu yang senyam senyum kadang menimpali dengan gojek. Kadang Pak Ismail ketiduran. Thekluk.

Itu gambaran sebulan aku bergabung bersama SIGAB tahun 2012 lalu. Aku merasa tidak hanya menemukan tempat bekerja, tapi juga menemukan keluarga, teman, dengan semangat dan cita-cita yang menyala-nyala.

Rumah kecil di pinggir sawah itu bukan hanya tempat bekerja. Ia pemantik, sasana, dan tempat pembelajaran yang paling membuatku berkesan. Banyak hal yang sudah Sigab kerjakan untuk kemanusiaan dan perubahan, tapi bukan berarti cita-cita inklusi sudah tercapai.

Aku sudah tidak lagi di Jogja dan menghabiskan hari-hariku di SIGAB. Empat tahun lebih di sana memberikan kenangan, kekeluargaan, dan pembelajaran yang kusimpan erat di saku bajuku.

-sebuah catatan kangen Sigab.

#31harimenulis

Tentang Menyapih

Aku sudah tidak menikmati lagi memberikan ASI. Di bulan Mei ini, hampir genap dua tahun Aku menyusui Heidi. Aku tidak lagi merasa kegiatan ini baik untukku maupun untuk Heidi.

Merrefleksi perjalanan dua tahun memberikan nutrisi kepada Heidi, ternyata prosesnya tak mudah. Di awal kelahirannya, Heidi sempat kuning dan menjalani terapi bilirubbin. Susu ibu merupakan ‘obat terbaik,’ karena lewat menyusui, makin lama Makin tak nampak kuning dan boleh pulang ke rumah.

Entah mengapa dulu, saat pertama kali melahirkan, susah sekali lancar mendapatkan ASI yang keluar deras. Suatu saat seorang bidan datang ke rumah saat aku tidak tahu harus bertanya kepada siapa, karena kami sedang hidup jauh dari orangtua. Ternyata posisiku Salah.Bidan yang bernama Sarah itu bilang, kita harus punya posisi yang nyaman dulu untuk menghasilkan ASI yang lancar. Sejak kunjungan Sarah, ASIku mengalir deras. Heidi tidak lagi gelisah saat kususui. Semua hal terjadi sesuai keinginanku.

Sebenarnya kami sudah ikut kursus menyusui sebelum melahirkan, tapi tetap saja. Pengetahuan tentang menyusui, tertimbun banyak info yang harus dicerna seputar melahirkan. Padahal pengetahuan tentang menyusui sama pentingnya dan akan berlangsung lama.

Aku anggap, menyusui itu pilihan bagi setiap Ibu, bukan kodrat. Beberapa orang memilih menyusui anaknya karena suatu alasan, tapi tak sedikit perempuan yang tidak mau menyusui. Semua pilihan baik, karena itu hak prerogatif si Ibu untuk memutuskan mau yang mana. Jelasnya, semua hal punya konsekuensi masing- masing.

Aku dulu memilih untuk mengusahakan ASI karena itu hal yang memudahkanku untuk memberikan nutrisi. Aku terlalu malas untuk bangun menyiapkan susu. Kalau memberi ASI, tinggal dekatkan anak ke dada, nutrisi itu langsung mengalir.

Semua pilihan punya konsekuensi. Memberikan ASI berarti harus rela memberikan otonomi tubuhmu kepada makhluk kecil yang membutuhkannya. Aku seakan tidak memiliki utuh seluruh tubuhku karena harus berbagi untuk bayi. Menyusui sangat efektif membunuh waktu, tapi juga aku jadi merasa tak punya banyak waktu untuk mengerjakan yang lain. Teritoriku jadi milik orang lain dan aku tidak bisa ngapa-ngapain selain diam atau sambil sesekali baca buku. Tiba-tiba saja sejam berlalu, setengah jam berlari cepat sekali. Sekian banyak waktu itu aku diam menyusui.

Dua tahun ke belakang, aku sangat menikmati memberikan nutrisi lewat tubuhku. Partnerku juga mendukung untuk jadi bapak ASI. Tapi rulanya perasaan itu hilang belakangan.

Heidi makin tumbuh besar. Aku merasa ia sudah tak cocok lagi minum ASI dan 2 tahun ini sudah cukup. Ia sudah bisa makan layaknya orang dewasa. Artinya, ASI tak lagi jadi sumber utama. Proses menyusui beralih fungsi, bukan jadi penyedia utama nutrisi, tapi kadang jadi ‘penyelamat’ atau tempat ternyaman dia kalau sedang tidak enak perasaan.

Saat aku dulu ibu yang bekerja di dalam rumah, tak jadi masalah. Belakangan kerja di luar rumah mengharuskan ada penyesuaian. Aku tidak telaten memeras air susu,jadi selama beberapa bulan belakangan Heidi minum susu soya saat di daycare.

Aku menginginkan tubuhku kembali. Pandemi ini memberikan tantangan yang lebih karena kami tak terpisahkan dan Heidi masih minta disusui. Aku sendiri sering tidak tega, tapi juga tidak lagi menikmati.

Heidi sudah jadi anak pembelajar yang baik dalam proses mengASIhi ini. Aku belajar banyak dari dia yang selalu memaklumiku yang keras kepala. Namun, ini saatnya Heidi tidak lagi mengandalkanku untuk nutrisinya. Ia beranjak jadi anak besar yang tidak perlu ASI untuk menenangkannya.

Kami sedang belajar saling melepaskan kelekatan lewat ASI ini dengan baik-baik. Aku berusaha tidak memberikan perpisahan yang “pahit” untuknya dengan memberikan jamu-jamu super pahit. Setiap ada kesempatan aku berusaha mengingatkan dia kalau dia tidak lagi membutuhkan ASI.

Semoga perpisahan dengan ASI ini berlangsung lembut bagi kami berdua, sebagai usaha-usaha untuk terus tumbuh dengan baik.

IMG_20200222_200503

Bido

IMG_20200429_133541Pesanan mie dok-dokku belum juga datang. Aku sudah sangat lapar dan bosan melihat garis-garis hijau bacaan fotokopian yang kubawa ke burjo. Sudah akan menuju tengah hari, mie itu akan jadi santapan pertamaku.

Aku belum tidur dari semalam. Bahan bacaan itu juga belum selesai kusarikan. Skripsi harus selesai bulan depan dan aku masih saja merasa harus menyelesaikan membaca semua buku ini, padahal tidak semuanya dipakai.

Aku membawa Kumpulan Cerpen Puthut EA”Seekor Bebek yang mati di pinggir Kali” ke burjo itu. Kali waktu aku bosan membaca tentang
gerakan sosial dan beralih ke fiksi saja. Burjo itu selalu sepi, jadi aku selalu bebas di sana lama-lama untuk membaca atau ngobrol dengan penjual.

Warung indomie itu terletak di seberang kosku di sebuah jalan ramai seputar Jembatan Merah Jogja. Dulu saat aku mulai pindah ke sana sekitar awal tahun 2015, hanya ada warung nasi biasa. Tak berapa lama, beberapa orang datang mengecat dengan warna biru tua dan hijau terang dengan papan tulisan “Burjo” jual: mie rebus, mie goreng, dok-dok, es teh, es jeruk, dll.

Sepintas yang kuingat, hanya ada empat meja dengan bangku panjang. Sesekali ramai anak SMA yang bolos, tapi seringnya sepi. Aku dan sahabatku yang kos di seberangnya kadang menjadikan burjo itu jadi tempat pilihan makan terakhir. Makan di mana, jadi pertanyaan paling sulit, dan dengan jawaban yang membosankan kalau kamu tinggal di Jogja: makan di burjo.

Aku ingat betul, hari itu Sabtu, jadi burjo nampak lebih lengang dari biasanya. Aku memutuskan membaca kumpulan cerpen itu dan sampai pada cerita tentang seorang bernama Bido. Ia pemilik warung kopi yang pemarah dan pemabuk. Ia dipanggil Bido karena pernah sewaktu kecil menangis sepanjang jalan sambil melempari batu pemburu elang berjenis bido…Anak kecil itu menangis sambil berkarta, “Bidoku…!” Orang-orang lantas memanggilnya Bido.

Aku terhentak karena tiba-tiba ada suara rem motor berdecit. Tak berapa lama motor itu kembali melaju. Aku melanjutkan membaca.

Aku duduk menghadap ke jalan di dalam ruangan dekat jendela yang terbuka lebar. Dari tempat dudukku, aku bisa melihat lalu lalang kendaraan.

Di sudut bawah pandanganku, ada kucing kecil, seukuran genggaman telapak tangan sedang bersusah payah berjalan menujuku. Ia menyentuhkan badannya ke ujung kakiku. Matanya melotot satu, kaki belakangnya berdarah. Ia tampak ingin mengeong tapi tidak keluar matanya.

Aku buru-buru berdiri menghampirinya. Rupanya, mungkin ia tertabrak motor tadi. Beberapa organ perutnya keluar dari anus. Ia mencoba bertahan hidup. Aku panik tidak karuan.

Mas-mas burjo itu menanyaiku ada apa. Aku berusaha tenang dan tanya apakah kita bisa melakukan sesuatu untuk kucing nestapa itu. Mas Burjo yang sedang membawakan mie dok-dokku itu tadi bilang, sudah biarkan saja. “Nanti juga mati,”

Aku ingin marah tapi tidak ingin membuang waktu. Teman kosku mahasiswa kedokteran hewan tapi ia sedang pulang kampung.

Kucing itu makin terlihat susah payah bernafas. Aku membayar mie yang tidak sempat kumakan sambil menelepon sahabatku Ike. Dia bilang dia bisa ke kosku untuk menjemput Aku dan kucing itu dan membawanya ke rumah sakit hewan di kampus.

Kami memasukkan kucing warna putih abu-abu itu ke dalam kardus bekas. Sepanjang jalan diboncengkan Ike, aku nangis minta kucing itu bertahan. Tolong, jangan mati.

Rumah sakit hewan itu bertuliskan “Tutup” tapi pintunya terbuka sedikit. Ada beberapa orang memeriksakan hewan peliharaannya. Nampaknya yang buka hanya IGD. Tolong, bisakah menyerobot antrean? Kucing ini sedang sekarat. Tubuhnya dingin, tapi ia masih bernafas.

Seseorang itu berkata padaku sinis. Tak perlu diusahakan, toh juga kucing kampung. Aku tidak terlalu menggubris dan mengurus administrasinya. Aku ditanyai siapa nama kucing itu, berapa umurnya dll. Aku bilang tidak tahu, aku baru mengenalnya siang ini. Ia jalan ke aku dengan keadaan sekarat.

Dokter menyuruh kami masuk ke ruang tindakan. Kucing itu masih bernafas. Beberapa kali kejang. Dokter itu bilang suhunya sudah dingin sekali. Sambil memeriksa dan menyuntikkan sesuatu,tiba-tiba kucing itu berteriak kencang sekali. Aku dan Ike kaget sampai menutup telinga.

Kucing itu baru saja mati. Kata dokter, datar. Dokter lalu membungkusnya dengan kain putih dan berkata kepadaku untuk ke administrasi.

Aku masih sangat syok dan tidak bisa menangis. Muka Ike merah sekali. Ia mengusap air matanya.

Di ruang administrasi, petugas itu tanya padaku kucing itu mau dikubur di mana. Aku bilang tidak tahu. Kata orang yang mengantre, bisa dikubur di belakang rumah sakit. Petugas bilang tidak bisa, karena sudah mau tutup dan itu bukan kucing peliharaan.

Ia menyuruhku membayar 80 ribu. Uangku tidak cukup, sisanya aku berhutang ke Ike.

Ada pekerjaan sulit yang harus kami pikirkan, mengubur kucing itu. Tidak mungkin di kubur di kos, Karena masing-masing kos kami tidak punya halaman yang bertanah. Kami menelepon teman menceritakan singkat kejadian super cepat itu. Akhirnya teman kami, Rita, memperbolehkan kami mengubur kucing itu di rumahnya.

Sepanjang perjalanan, aku dan Ike sering mengusap air mata. Tidak banyak bercerita. Di boncengan belakang, sambil membawa kardus bekas berisi kucing yang sudah diselimuti kain putih, aku berkata kepada Ike. “Kunamai kucing ini, Bido”

Selesai menguburnya, kami berpelukan dan masih mencerna kejadian siang ini. Kami saling menanyakan kewarasan masing-masing karena kami menangisi kematian kucing yang baru saja kami kenal. Kami menanyakan mengapa tidak bisa menguburnya di rumah sakit hewan itu. Mengapa saat itu orang-orang bilang untuk tidak terlalu khawatir, toh hanya kucing kampung.
Aku dan Ike akan selalu ingat hari itu dan akan selalu ingat Bido.

Setahun setelahnya, aku bertemu Puthut EA, yang menulis cerita tentang Bido itu. Aku bercerita singkat. Aku tidak terlalu ingat apa reaksinya. Sebagai seorang pengagum, aku membawa buku kumcer itu untuk minta tanda tangan persis di halaman cerpen “Ibu Tahu Rahasiaku”, yang ada Bido di dalamnya.

Bido, di dalam karangan fiksi ia adalah pemilik warung kopi pemabuk yang waktu kecil rajin membantu mamaknya mencari kayu di hutan. Di duniaku, Bido kucing kecil yang baru kukenal, menyebrang ke bagian kehidupan yang lain, kematian.

Pandemi

Orang-orang sebenarnya ingin sekali peduli kepada pandemi, tapi lapar dan tanggung jawab mengalahkan keharusan untuk di rumah saja. Hari ini aku pergi ke Jakarta untuk mengganti laptop milik kantorku yang bermasalah.

Gerbong KRL padat dalam suasana semi karentina. Kamu tahu kan, model KRL Di Jakarta, kursinya berhadapan? Kursi panjang saling tatap, Yang berjarak dengan jalan Di kereta itu sekarang berubah penduduk. Tiap tempat duduk di antara dua orang, terdapat lakban solatip merah yang mengisi dua tempat itu. Kursi yang biasanya muat sampai 9 orang, sudah hampir dua bulan ini berbeda. Kursi itu hanya diperuntukkan untuk enam orang penumpang.

Masker adalah persyaratan masuk kereta. Juga suhu yang sesuai. Beberapa kali waktu, menurut alat pengukur punya mereka, suhuku 32 derajat celcius. Wow, suhuku dingin sekali seperti mayat hidup yang ingin ngetap jaklinko.

Biasanya orang bersumpah serapah karena banyak sekali sepeda motor di jalan, tapi tidak sekarang ini. Jalanan tidak seramai dulu, tapi juga tidak sepi-sepi amat.

Pekan lalu aku ke Pasar sebentar untuk membeli sayuran segar. Orang-orang tetap ramai berlalu lalang. Banyak juga yang memakai masker, tapi tak sedikit pula yang tak acuh. Aku tidak lagi bisa cermat melihat lipstik ibu-ibu yang kutemui di jalan. Tidak lagi bisa berkomentar di dalam hati, “Oh lipstik warna nude itu pas sekali dengan warna baju ibunya yang kalem,”. Aku sendiri juga sudah malas menggunakan lipstik saat keluar rumah.

Keadaan yang sama sekali baru ini seperti tak asing bagiku karena kupikir-pikir aku dulu jarang keluar rumah. Tapi tetap saja, kadang ada ombak jengkel datang karena setelah sampai dari luar rumah aku harus selalu langsung mandi keramas.

Aku sendiri tak punya banyak andai-andai, atau keinginan khusus kalau-kalau pandemi ini berakhir dan keadaan seperti sebelumnya. Semisal, tak ada keinginan tertentu yang akan kulakukan sehabis ini semua berakhir. Mungkin aku sendiri juga jarang memiliki keinginan tertentu. Kita pasti akan melalui ini semua. Aku hanya yakin, manusia pasti akan menemukan cara untuk bertahan dan mencari masalah lain.

Menurutku, keadaan tidak serta merta langsung seperti kemarin sebelum ini semua. Orang-orang terlanjur di-PHK, cicilan-cicilan menumpuk, dan penghasilan belum sepenuhnya pulih.

Beberapa malam yang lalu aku sempat baca Natgeo tentang Happiest Place. Editorial majalah itu menempatkan Kosta Rika, dan Denmark, merupakan beberapa negara dengan manusia yang tinggal merasa bahagia.

Di Kosta Rika, orang merasa bahagia saat ia punya pekerjaan mapan, waktu luang untuk sarapan dan makan malam bersama tiap hari, dan punya asuransi & fasilitas kesehatab yang memadai. Menanam dan ikut komunitas non profit di akhir pekan jadi tolak ukur bahagia. Denmark menjadi tempat yang bahagia karena masyarakatnya hidup dalam komune-komune yang memiliki dapur dan tempat nyuci bersama. Rasa bahagia diartikan sebagai kesadaran kolektif yang baik dan saling menguntungkan satu sama lain.

Aku jadi bertanya-tanya dan ingin ngulik Google kedua negara itu dalam menghadapi pandemi. Apakah mereka masih bisa memastikan bahwa tempat mereka adalah yang paling membahagiakan?

Sementara waktu, selama pandemi ini, aku sedang tidak ingin bertanya kepada diriku, apakah aku bisa berusaha bahagia? “Kadang hidup nggak harus selamanya hepi-hepi”, mungkin sekarang ini adalah waktu yang paling tepat untuk mengatakan itu. Kupikir memastikan bahwa semua orang sehat, saling jaga dan saling bantu dulu, adalah prioritas, tapi juga nggak serta merta gampang.

Nasihat Mbah yang Perlu Kupatuhi (dan yang Tidak)

Screenshot_2020-05-04-01-00-39-256_com.instagram.androidAda orang-orang yang gemar sekali bercerita dan ada yang hanya suka mendengarkan. Saat mati listrik atau hujan deras, adalah waktu yang paling kuingat, untuk nenekku, bercerita. Ia menyalakan lampu teplok, yang tersedia di setiap ruangan, dengan korek yang siap di setiap lemari. Setelah lampu teplok menyala, kami akan tidur-tiduran di bawah , atau kalau terlalu dingin di kasur.

Di saat hujan dan mati listrik itu, Mbahtri, sapaan untuk nenekku akan banyak bercerita tentang leluhur-leluhur kami. Di sela-sela cerita, Mbahtri akan menyelipkan beberapa nasihat untukku.

Saat aku masih sekolah dasar, setiap akhir pekan, aku tidur di rumah Mbah, yang sekarang ini ditempati adikku.Halamannya luas dan ada banyak sekali tanaman. Mbahtri juga memelihara banyak ayam, kucing, dan soang. Kami tidak tinggal di desa. Kami tinggal di gang sempit di tengah kota Solo.

Akhir pekan itu jadi waktuku untuk membantu membersihkan tanaman, memberi makan ayam, dann mendengarkan cerita.

Setiap orang mempunyai perjalanannya masing-masing. Mbahtri pun demikian, mungkin, Ada pilihan-pilihan hidup yang diambilnya yang mungkin berbeda dengan orang lain, memberikan pelajaran baginya, ada pula yang tidak. Aku coba mengumpulkan beberapa nasihatnya yang kupikir baik untuk diingat-ingat.
Mbahtri single parent saat usia amat muda. Ia dihadapkan pada pilihan-pilihan rumit, di usia yang seharusnya bersenang-senang. Ia bekerja sebagai baby sitter, meninggalkan dua anaknya demi membiayai hidup. Ia tak lulus SMA Dan tidak banyak pekerjaan bagi perempuan berijazah SMP. Ia bertekad bahwa anak-anaknya harus sekolah tinggi dan berkeadaan lebih baik darinya. Ia mengirimi biaya sekolah anak-anaknya karena harus bekerja di Kalimantan. Di saat itu tak banyak yang bisa sekolah sarjana di kampungku, tapi Mbahtri-ku mengupayakan anak-anaknya tak boleh bernasip sama seperti dirinya.

Di saat bercerita tentang betapa susahnya cari uang, biasanya ia akan membombardirku dengan petuah-petuah kalau perempuan lebih baik punya penghasilan sendiri sehingga ia tidak jadi beban secara finansial ke siapapun.

Waktu lain untuk Mbahtri sering menyampaikan petuah adalah saat membantunya memasak. Mbahtri adalah seorang Jawa. Di satu sisi, ia amat kolot dan patriarkhis, di sisi lain, menurutku ia tidak demikian. . Ia selalu bilang kalau perempuan harus bisa masak. Nah, ini petuah yang aku amini dan modifikasi. Perempuan harus bisa masak, juga laki-laki. Memasak adalah cara bertahan hidup, bukan sebagai takdir peran sebagai seorang perempuan.

Ia banyak memberikan rahasia-rahasia dapur, yang sangat detil. Tidak boleh ada sampah saat aku menyiapkan bahan-bahan, hati harus senang karena itu mempengaruhi rasa masakan, dan yang teroenting harus mencicipi masakan. Kita harus tahu benar apa yang kita sajikan untuk orang lain.

Ia juga menurunkan mitos-mitos memasak, yang herannya, aku ikuti. Misalnya, harus hanya satu orang yang menguleg sambel, kalau berbeda/berganti maka rasa sambel itu akan tidak jelas.

Ia juga percaya kalau perempuan harus makan terakhir, setelah suaminya makan. Ini yang aku langgar dan aku tidak bersedia mematuhinya. Bayangkan, urutan makan diatur oleh norma-norma adab, siapa yang dirasa paling terhormat, bukan yang paling lapar! Menurutku, makan ya makan saja. Memang lebih seru kalau makan bersama, tapi bukan berdasarkan urutan gender untuk memutuskan siapa yang ambil nasi dan sate duluan

Kadang, aturan-aturan adat Jawa ini yang bikin aku kesal dengan stereotipe-stereotipe sebagai seorang Jawa.

Mbahtri orangnya sangat rapi dan tertata. Malahan aku merasa mengenal minimalism lewat Mbahtri daripada Mari Kondo. Ia tak punya banyak barang, supaya gampang membersihkannya. Yang kuingat ia bahkan menyusun baju sesuai warnanya. Ia melabeli tanggal kapan barang itu dibeli supaya ingat ‘masa pensiun barang’. Hal itu baik menurutku untuk menakar bahan makanan dan kita bisa tahu pemakaian selama sebulan.

Nasihat tak masuk akal yang dia berikan padaku, tapi kupatuhi ada satu hal. “Jangan pernah ajak laki-laki yang kamu sebut pacar ke rumah, kalau dia tidak benar-benar serius melamarmu”.Katanya, tetangga akan melihat, mencatat dan membicarakanku.

Hasilnya, aku benar-benar tidak mengajak teman dekat laki-lakiku ke rumah saat aku masih sekolah karena memang aku tidak punya pacar. Saat kuliah, ada beberapa teman laki-laki yang ingin main ke rumah, tapi kutolak. lebih karena ribet, hla wong aku kuliah di Jogja, rumahku di Solo. Ribet.

Nah, waktu aku dekat dengan Nicko dan kebetulan sering dolan bareng di Solo, aku memperbolehkan dia ke rumah. Saat beberapa waktu sebelum Mbahtri meninggal, Mbahtri sakit. Ia minta dijenguk oleh Nicko. Ia belum pernah melihatnya secara langsung, hanya lewat ceritaku saja.

Nicko datang dan menjenguk Mbahtri. Mbahtri ketawa-ketawa walau tidak bisa duduk. Beberapa bulan setelah Mbahtri meninggal, Nicko melamarku. Sebuah kebetulan dari nasihatnya.

Pendidikan dan Resep Donat

Hari ini cukup judheg alias sebal dengan diri sendiri karena writer’s block alias buntu ide. Aku kemarin sudah punya ide untuk menulis tentang bahwa sebagian dari kita itu “Bupati Klaten” tapi otak saya mengatakan, “mumpung Hari pendidikan Nasional” kamu harus menulis yang agak serius tentang pendidikan”

Ternyata ide tersebut diprotes oleh banyak aku- di kepalaku sendiri yang terus menegasinya. “Ah berat sekali, basi ah sok asyik ‘pindidikin’ kayak kamu orang penting yang opininya didengar,”

Kubiarkan pikiran-pikiran itu mengobrol dengan sibuk di kepalaku sambil aku melakukan aktivitas yang lain. Pagi-pagi, aku menyiapkan sarapan untuk Heidi bareng Nicko. Ia ingin memasak Aloo gobi, masakan India yang rasanya khas seperti bumbu kari dan garam masala. Sayurannya kentang dan sayur kol, dimakan dengan roti gandum, roti naan. Nicko yang buat aloo gobinya, aku menguleni gandum, sekalian membuat donat ubi.

“Lihat, hand sanitizer ada gambar bupati,” Nicko menyodorkan teleponnya untuk memperlihatkan foto bupati itu.

“Ya ampun narsis banget. Oh iya, apalagi ini kan mau Pilkada, harusnya dikasih sanksi, to ya…”

Uwis ditegur BPK, jare, (Udah ditegur BPK, katanya)”

“Orang yang modyelane kayak bupati Klaten tuh sebenarnya banyak hlo. Narsisnya mendarah daging, ya tapi nggak pakai duit negara sih. Sini bisanya cuma nyinyir, nggak ada BPK-nya yang negur haha,” ujarku gemas sambil nguleni adonan.

Heidi makan lahap aloogobi dan roti naan, yang akhirnya bantat itu. Adonan donat ubiku jadi sempurna, tidak bantat. Heidi tidur siang, aku menggoreng donat dengan tenang

Pikiranku tidak jadi tenang karena kepikiran mau nulis apa hari ini.

“Nulis tentang pendidikan saja, penting hlo mumpung hari Pendidikan Nasional. Nggak usah terlalu memikirkan penting atau tidaknya opinimu untuk khalayak, sing penting tulis!” kata aku versi Pro-Nulis Pendidikan.

“Misal nih ya, kucontohin, kamu bisa nulis gini:

“Sel otak atau cerebrum bayi, berjumlah kurang lebih 100 milyar, tetapi belum banyak yang tersambung. Sementara itu, tetiap satu sel otak dapat berhubungan dengan sel otak lainnya sebanyak 15.000 sampai 20.000 sambungan. Saat anak berusia 0-2 tahun, terjadi proses penyambungan awal sel otak. Nah, pada usia 0-2 tahun itulah kesempatan emas orangtua untuk membuat sebanyak-banyaknya sambungan sel otak.

Jika dibagi rata, akan ada sekitar 1.83 juta sambungan per detik. Setiap detik sangat
berharga bagi pertumbuhan anak untuk menerima rangsangan stimulasi sehingga sel otaknya bertumbuh. Bayi manusia, lahir dengan sel otak yang masih belum terhubung, jadi hal yang bisa dilakukannya hanya menangis. Berbeda dengan bayi binatang, beberapa jam, setelahnya mereka dapat langsung berdiri sendiri. Lise Eliot, seorang neurolog dari California Amerika Serikat, menulis buku “What’s Going on There” mengatakan “Apa maksud Tuhan membiarkan sel otak manusia belum ada sambungannya? Sebenarnya hal tersebut memberikan kesempatan orangtua untuk membuat sel otak itu saling menyambung dan tumbuh, sebanyak ia mau dan mampu. Itulah tujuan pendidikan. Pendidikan manusia dimulai saat ia ada di dalam rahim ibu, pertemuan dengan anak setelah ia dilahirkan menjadi satu titik awal pembelajaran dari hari ke hari. Makanya, orangtua adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas pendidikan
anaknya. Adanya sekolah tidak serta merta menjadi tumpuan pendidikan anak. Sesungguhnya, anak belajar dari tiga tempat, orangtuanya, sekolah, dan lingkungan sekitarnya. Sehingga, sinergi antara orangtua dan sekolah adalah sebuah keniscayaan, harus dilakukan demi kebaikan anak, juga demi tujuan pendidikan itu sendiri.”

Aku menuliskan draf itu di sela-sela menggoreng donat. Aku merasa pusing karena tulisan begitu berat kubaca. Di masa pandemi ini, kupikir orang mana mau membaca hal-hal seperti itu, terlebih dari aku?

Donatku sudah jadi. Kali ini ketiga kalinya aku bikin donat, dan baru pertama kali ini aku merasa sangat berhasil. Sebelas donat ubi itu adalah produktivitasku siang itu yang sebenar-benarnya, daripada keributan kepalaku yang tidak pernah selesai sampai sekarang.

IMG_20200502_121545

Mungkin, ini saatnya mengejawantahkan slogan a la ‘pemuda harapan bangsa’ yaitu “lebih baik menyalakan terang daripada mengutuk kegelapan”: yaitu berbagi resep donat.

Selayaknya, pengetahuan yang tidak datang dari langit secara tiba-tiba, yang merupakan turunan dari berbagai invensi yang sudah dilakukan oleh ratusan maupun ribuan pembelajar lain, donatku-pun demikian.

Dengan hormat,Aku mempersembahkan Resep Donat di bawah ini, yang merupakan Resep Asli dari Mbak Avimahaningtyas, peneliti yang sekarang tinggal di Canberra:

Screenshot_2020-05-02-23-37-34-593_com.instagram.android
Yang beda dariku: aku tambahkan 1 sendok tepung maizena, agar donat itu empuk.

Selamat Hari Pendidikan, yang mungkin tak terlalu bermakna apa-apa. Selamat menjajal resep donat.

 

 

Heidi dan Takut

Aku memutuskan untuk membawa Heidi keluar rumah pagi itu. Ada lapangan rumput di ujung gang rumah kami. Belum terlalu panas, rumput-rumput masih iibasah bekas hujan tadi malam.

Kemarin Heidi agak pilek, Jadi kupikir sinar matahari akan membuat badannya lebih segar.
Ia membawa bola kesayangannya yang berwarna ungu dengan inisial namanya “H”. Heidi berlari-lari mengejar bola itu. Sandal yang dipakainya mengeluarkan bunyi ‘toeet.. .toeet…toeet..’ seiring langkah kecilnya yang rapat mengejar bola.

Tanah lapangan rumput itu tidak rata. Ada gundukan tanah yang tepinya banyak sekali tanaman putri Malu. Tanaman yang kalau dipegang akan menguncup sendiri sebagai bentuk pertahanan diri. Daunnya kecil-kecil, seperti versi mini petai cina, dengan duri dib  Tumbuhnya merambat seperti rumput. Bila tak jeli, mungkin tidak tahu kalau di situ ada Putri Malu.
Aku memanggil Heidi.

“Heidi…sini…ada Putri Malu,” ujarku.
“Uti…Mau…”tirunya
“Lihat tangan ibu,”kataku.

Aku menyentuhkan jari telunjukku ke daun putri malu. Daunnya buru-buru mengatup. Heidi berteriak kaget. “Aaaa ..uti….mau..,Ibu”
Ia takjub mengamati putri Malu itu. Jari telunjuknya ikut ingin menyentuhnya sambil mulutnya maju ingin meniruku. Telunjuknya mengarah ke putri malu sambil bergetar gemas ingin menyentuhkannya. “Atuut …ibu.. atuut ..uti..Mau…”

“Apa?”tanyaku.

“Atut…” jawab Heidi.

“Heidi takut?” tanyaku lagi, memperjelas

“He em…”katanya.

IMG_20200501_222725

Aku baru sekali itu mendengar Heidi ngomong “takut”. Selama ini aku tidak ingat, kapan mengajarkannya kata ‘takut’ untuk mendeskripsikan kata sifat itu saja aku merasa tidak terlalu tahu. Aku menghindari untuk menggunakan kata sifat yang terlalu rumit. Takut, menurutku termasuk kata sifat yang rumit. Aku ingat betul momen saat ia bilang untuk pertama kalinya bahwa ia merasa takut.

Aku tidak terlalu tahu harus berreaksi apa. Aku sentuhkan lagi tanganku ke putri malu. “Coba lihat tangan ibu, tidak apa-apa,”
Heidi kaget, tapi takjub, tapi masih takut. “Takut, ibu,”katanya

Aku berhenti menunjukkan peragaanku. Aku kembali menanyakan Heidi, apa nama tanaman yang baru pertama kali ia temui itu. “Siapa yah namanya?”

“Uti….mau…”

“Putri malu menutup karena itu reaksi kalau dia disentuh. Supaya Putri Malu aman…mungkin Heidi kaget, bukan takut,”

“Atut…Ibu”

“Heidi mau peluk?” kataku sambil membuka tangan. Heidi menyambut pelukanku.

Aku kembali beberapa kali menyentuhkan tanganku ke putri malu itu lagi. Sambil tertawa-tawa dan menganggap itu lucu. Heidi melihatku dan ikut tertawa-tawa. Semakin lama ia semakin penasaran. Ia mulai mengambil batang kayu dan menyentuhkan batang kayu kecil itu ke putri malu. “Hihihi…uti mau…hii atuut”

“Wah kamu sudah mau penasaran ingin pegang ya…” Beberapa kali kusodorkan tangannya ke putri Malu tanpa batang kayu kecil, ia masih tidak Mau. Heidi masih takut putri malu, tapi ia sudah mulai berani memegang via batang kecil tadi

Sampai rumah kukabari Mas Nicko, kalau Heidi mengucapkan kata Baru, ‘takut’.

Momen kata ‘takut’ itu lumayan menyita pikiranku seharian, bahkan sampai sekarang. Heidi belajar tentang rasa takut lewat putri malu. Aku belajar lewat Heidi bagaimana mengenali rasa takut dan mengendalikannya.

Aku jadi kelewat kepikiran sampai sekarang. Perasaan takut menurutku bagian paling primitif menjadi manusia. Di saat yang tidak pasti ini, ketakutan-ketakutan menyelimuti. Takut sakit, takut lapar, takut miskin,takut gagal, takut hidup, takut mati.

Kupikir, orang-orang membutuhkan rasa takut untuk bertahan hidup. Beberapa orang merasa tak butuh rasa takut atau bahkan terlalu banyak memiliki rasa takut tanpa tahu bagaimana mengendalikannya.

Saat momen putri malu itu, terbesit keinginan sekali berkata ke Heidi “Ada banyak hal yang sepertinya lebih menakutkan,dibanding kumpulan putri malu” tapi aku terkesan sombong sekali kepada anak yang belum genap berusia dua tahun.

Aku ingat sebuah perkataan, tapi lupa siapa ya yang pernah menuliskannya. Intinya begini, “Ada banyak hal di dunia ini yang seolah olah menakuti kita, tapi tidak benar-benar menghancurkan kita. Sebenarnya rasa takut itu hidup dalam imajinasi, bukan di dunia nyata,”

Aku akan bilang itu suatu saat nanti.

Sementara waktu untuk menjawab kata “takut” Heidi, pagi itu aku tawarkan pelukan.

 

Tulisan pertama untuk #31harimenulis.

Cerita tentang melahirkan dan rasa-rasa setelahnya

Kami,aku  dan suami, pagi itu luar biasa bahagia. Tes kehamilan menunjukkan berita baik. Aku mengandung anak, kembali. Setelah bayi pertamaku gugur di minggu ke-sepuluh kehamilan, dua bulan setelahnya aku mendapatkan dua garis itu lagi. Kami berpelukan sambal menangis, saking senangnya.

Kehamilan berjalan sangat manis dan indah. Sepanjang Sembilan bulan mengandung, mood-ku selalu baik dan semangat. Tidak ada masalah serius selama kehamilan. Aku beraktivitas seperti biasa, makan-makanan yang bergizi, olahraga rutin, kami sempat dua kali bepergian jauh dan bahkan kami sempat pindah rumah. Aku berjumpa dengan gadis kecilku setelah empat jam melahirkan tanpa intervensi obat penghilang nyeri. Heidi langsung beradu kulit di dadaku, mencari sumber kehidupannya, air susuku. Momen itu titik kulminasi aku merasakan pengalaman sangat magis atas rahimku, dan manusia yang hidup di dalamnya. Persalinan yang indah, tanpa trauma yang tentu akan selalu kukenang dan aku akan selalu bersemangat menceritakan pada Heidi, nanti.

Yang ingin  kukatakan dalam unggahan ini, tak perlu kelahiran yang traumatis, komplikasi, untuk mendapatkan depresi pasca melahirkan, post natal depression.

Aku mengalaminya tepat tiga hari di rumah sakit. Bayiku butuh diberi sinar biru karena terlahir kuning. Bidan berkata, bayi kuning di sini, seperti sudah biasa. Bayiku kuning karena golongan darah kami berbeda. Berkutat dua malam minim tidur, membuat emosiku turun naik, campur baur jadi satu. Sangat bahagia, sangat khawatir,dan sangat ingin cepat pulang.

Sebetulnya, tidak ada yang salah dengan bidan itu yang menegurku karena menurut dia, aku salah menyendawakan Heidi. Ia membentak sambil mengarahkan jari telunjuknya ke mukaku. Lain waktu ia menyalahkan aku karena telat sepuluh menit memberikan dia minum. Bidan itu berkata, pantas saja bayiku tak lekas keluar dari fototerapi, aku telat memberikannya susu.  Aku seperti dilabrak habis-habisan. Seolah-olah aku, yang baru dua hari jadi ibu, sudah gagal dan (sepertinya) akan gagal seterusnya karena tidak becus memberikan ASI.

Tangisku pecah saat bidan yang lain setelahnya mengusap punggungku, menanyakan apakah aku baik-baik saja. Aku menangis seperti anak kecil yang tidak sengaja menumpahkan eskrim kesayangannya. Aku menjadi sangat sensitif, rapuh, dan pesimis apakah aku dapat menjadi ibu yang baik. Bidan yang kutemui sebelumnya tidak ada yang seperti itu, mereka semua ramah dan penyayang. Entah mengapa, mungkin aku salah mengartikan ketegasan bidan yang mengarahkan jari telunjuknya tadi. Kata bidan, depresi pasca melahirkan akan muncul tiga hari setelah persalinan. Benar saja. Namun, aku dapat menenangkan diri dan pulang setelahnya dengan gembira.

Perasaan sedih, khawatir itu kadang-kadang masih muncul. Aku tiba-tiba ingat karakter Kaonashi, No-face di film Spirited Away yang selalu mengikuti dan terobsesi kepada Chihiro, tokoh utama film itu. Bentuknya bayangan hitam besar, dengan topeng putih pucat tanpa ekspresi. Ia selalu mengikuti dan menawarkan iming-iming,dan jika terjerat, maka si No face itu akan menghilangkan kepribadian korban dan menelannya bulat-bulat.

Aku harus menghadapi diriku sendiri, yang berbeda dengan diriku sebelum melahirkan. Tubuhku berbeda, air susu tembus kaos, rambut rontok, dan oh apa kabar dengan vaginaku di sana. Si Kaonashi seperti muncul tiba-tiba dan bilang, aku jelek dan tidak menarik. Aku berusaha tidak mengiyakan, bahkan sampai sekarang aku berusaha keras melawannya. Tidak, ini hanya sementara, aku akan mendapatkan kembali tubuhku seperti dahulu, yang tidak buru- buru ngos-ngosan padahal baru jalan cepat 500 meter.

Belum lagi apologi-apologi “baby brain”, akan cepat lupa dan lambat berpikir setelah seseorang melahirkan. Ini terror yang mencekam buatku. Ada satu peristiwa, aku lupa mengingat suatu istilah yang seharusnya aku hafal betul, karena telah menekuni isu itu selama tiga tahun. Aku blank, lupa sama sekali. Berakhir menangis kencang-kencang di bawah shower khawatir aku akan kehilangan kemampuan berpikir. Si Kaonashi muncul tiba-tiba bahwa aku akan menjadi orang yang hanya memantau akun-akun gosip (yang menurutku) tidak ada gunanya atau menggosip teman lain (yang seharusnya tidak aku pedulikan). Aku khawatir akan berakhir seperti itu, yang tidak ada manfaatnya, karena otakku tak maksimal setelah melahirkan. Sebuah apologi yang sangat menyiksaku. Aku masih ingin melakukan sesuatu, aku ingin sekolah lagi, aku ingin bekerja ini itu, aku ingin mencentang daftar “yang ingin aku lakukan” yang kubuat sejak SMP lalu.

Si Kaonashi tak menampakkan wajahnya saat aku bersama Heidi. Saat aku menggendongnya, memberikannya susu, menemaninya bermain, menggelitiknya sampai ia marah, tidak ada kekhawatiran itu. Apalagi saat bangun pagi dan melihat gadis kecil itu tersenyum padaku dan seolah berkata, “Semua baik-baik saja dan aku menyayangimu,”. Aku peluk Heidi erat, sambil memeluk hatiku sendiri.

Aku menerima perasaan sedih dan khawatir itu karena aku masih manusia biasa. Yang perlu terus kupikirkan dan kurasakan adalah menerima waktu sekarang, hidup di detik ini, dan bernafas dalam-dalam. Semua akan ada waktu baiknya. Dan yang terbaik saat ini adalah Heidi.

Untuk seluruh perempuan yang merasakan kesedihan tiba-tiba, yang entah apa sebabnya, khawatir sesuatu hal yang tidak terlihat. Perempuan yang mencemaskan tiga dunia, masa lalu, sekarang, dan masa depan. Untuk perempuan setelah melahirkan dan menghadapi perannya yang baru.

Untuk seluruh laki-laki yang di dalam hati kecilnya bingung menenangkan bayi menangis. Untuk seluruh laki-laki yang ingin dekat kepada anaknya, tapi masih dikungkung stigma laki-laki tak pandai urus anak..

Kamu tidak sendirian.

 

Terima kasih untuk anak perempuanku, Heidi, dan partnerku yang memelukku saat aku butuh pelukan dan ujaran, “Semua akan baik-baik saja”.

#PostNatalDepressionAwarenessWeek

Hari Pertama Masuk Sekolah

Mamah mengantarku dengan sepeda Phoenix berwarna biru ke TK Aisiyah Semanggi, 500 meter dari rumah. Depan pagar sekolah ramai sekali, karena TK satu lingkungan dengan SD yayasan yang sama, Muhammadiyah. Aku ingat, kami berdesak-desakan masuk ke kelas dengan seragam kuning hijau, dan bedak di leher yang masih kelihatan (juga di dahi, pipi, dll), rambut pendek, sedikit dan masih disisir rapi ke belakang, tidak berjilbab.
Aku anak kecil yang “clingus”, pemalu, takut, kalau tidak ditanya ya bakal diam sampai petang. Hari pertama masuk sekolah aku merasa grogi dengan  kerumunan banyak seperti itu. Aku lupa, aku menangis di bagian mau masuk kelas atau menahannya dan pecah saat kelas usai, yang jelas, aku menangis. Nama ibu guruku, Bu Tatik. Masih ingat, teman yang kukenal pertama kali di kelas itu adalah Putri, yang belakangan jadi anak “nakal” di kelas karena sering mencubit temannya, aku yang paling sering. Teman yang lain, tentu, Ayu, kami tetangga dekat. Beberapa waktu setelah hari pertama, Mamah masih mengantarku tiap pagi dengan sepeda, setelahnya aku jalan kaki sendiri bareng Ayu.

Hari pertama masuk SD, aku bareng dengan Ayu. Sekolah kami tak jauh dari rumah, hanya mengitari tiga gang. Tasku bergambar Mini Mouse berwarna pink, dengan resleting berbentuk karakter itu juga (kurasa bagian resleting itulah yang paling kusuka), tempat pensilku berwarna hijau, buku-buku juga bercorak Mickey dan Mini Mouse. Banyak orangtua yang mengantar anaknya, dan bahkan melihat dari pintu, sampai-sampai, Bu Agnes guru Kelas Satu, menutup pintu kelas. Aku dan Ayu memilih tempat duduk nomor tiga dari depan dekat tembok. Belakang kami, adalah Itha, juga tetangga, kami sempat berselisih sebentar tentang siapa sebangku dengan siapa. Ending-nya, sepertinya aku sebangku dengan Ayu. Aku dan Ayu menjadi semacam sejoli yang tak terpisah, sampai kelas empat karena aku pindah sekolah.

Aku harus pindah sekolah, karena kami tinggal di Solo Baru. Niatnya, Papah cari sekolah yang dekat rumah, tapi akhirnya juga sama-sama jauh. Namanya SD Negeri Kemasan 1, SD-nya di pusat kota termasuk 10 besar SD terbaik di Solo. Papah sempat mau memasukkanku ke SD yayasan islam, tapi aku tidak terlalu suka dengan banyak pelajaran agama di sekolah. Akhirnya, aku sekolah di SD negeri, yang dekat dengan SD islami itu, SD N Kemasan 1.

Hari pertama sekolah sebagai anak pindahan aku super grogi. Aku ditanyai oleh Bu Naniek, wali kelas 4, mengapa aku pindah.Aku jawab :karena rumahku pindah. Aku ditanyai lagi, kenapa aku pilih SD ini, aku jawab aku tidak tahu karena Papah yang memilihkan. Di hari pertama itu, aku duduk bersebelahan dengan Rizky Apriliana. Sebagai anak baru, aku juga berusaha berkenalan dengan temanku yang lain. Mereka juga datang menyalamiku ingin berkenalan. Aku juga sempat ditanya apakah aku ini anak tinggal kelas, masih di Solo kok pindah. Aku tersenyum dan menggeleng. 

Di hari pertama itu, aku sudah hafal beberapa teman baruku, Rizky, Edo, Roy, Hana, Dhea, Ivon, dan Dita. Erwan dan Anwar, saudara kembar, ternyata rumahnya tak jauh dari rumahku. Mereka menawariku main sepeda bareng. Erwan dan Anwar juga cerita, kalau ada anak namanya Vicky, yang sebenarnya rumahnya dekat sekali dengan rumahku. Vicky saat itu tidak masuk karena masih mudik. Besoknya, aku bertemu Vicky. 

Ternyata, Vicky adalah anak yang sering kutemui saat di jalan selama berangjat sekolah. Kami sama-sama naik becak, tukang becak kami bersahabat, saat berpapasan, tukang becak itu sering mengobrol. Aku dan Vicky hanya curi pandang karena belum kenal. Semenjak tahu rumah kami dekat, dan pengemudi becak kami bersahabat, kami juga menjadi teman. Vicky dan Aku berbagi becak dari Solo Baru ke Tipes (kemudian kami memutuskan untuk satu becak saja, tapi bergantian pengemudinya). Lalu, kami memutuskan untuk naik angkot saja setiap hari. Ia sahabatku menunggu angkot, belajar bersama,dan bersepeda bersama.Aku sering menemani Vicky di rumah karena orangtuanya sering ke Jakarta.Darinya, aku belajar menjadi anak yang mandiri. Kami pernah jalan dari Tipes ke Tanjung Anom, karena tak dapat angkot, akhirnya menyerah naik becak. Aku dan Vicky akhirnya berpisah di kelas 5, ia pindah ke Jakarta. Aku selalu merindukannya saat itu. Kami sempat berkirim surat dan berkirim kartu lebaran.

Hari pertama masuk sekolah di SMP tak begitu kuingat. Aku diantar Papah naik motor sampai depan gerbang. Papah sering mengantarku dengan memakai jaket jeans.Tak banyak teman SD yang sekolah di SMP-ku, hanya lima orang.  Praktis, aku beradaptasi dengan teman-teman baru lagi. Teman sebangku di hari pertama sewaktu SMP adalah Meirina. Aku masih malu-malu dan minder karena yang sekolah di SMP-ku itu berasal dari SD favorit di Solo. Aku berkenalan dengan Rina, aku ingat betul saat itu ia menyebut rumahnya di Jalan Srigunting. Pulangnya aku naik angkot nomor 09, menunggu di selatan sekolah. Selama SMP kadang Papah mengantar dan menjemputku karena saat itu juga sekalian dengan Asa. Aku lebih sering naik angkot, menghadangnya dengan jalan 500an meter dari rumah, pukul 06.00 wib.

Hari pertama masuk SMA. Masa Orientasi Siswa membuat aku lagi-lagi grogi. Aku tak ingat, siapa teman sebangku SMA ku saat pertama kali masuk, kalau tidak salah Fauziah. Yang nempel diingatan, kami anak baru sering  lari-lari karena disuruh cepat-cepat. Saat kumpul di aula pun, kakak kelas meneriaki kami “satu anak satu tegel” alias, barisan harus rapi. Kami menghapal beberapa yel-yel untuk dinyanyikan saat ketemu kakak kelas. Kami juga harus mengumpulkan biodata anak kelas kami dan kelas lain agar tidak mendapat poin. Jika kami melanggar peraturan maka kartu peserta MOS kami akan dijeglog dengan pembolong kertas. Yang paling banyak dapat bolongan, akan dapat hukuman. Yang ketahuan salah atau melanggar, dikumpulkan di aula dan antri jeglogan. Aku ingat betul peraturannya, karena panitia MOS meneriakkan peraturan itu keras sekali. Pasal 1: Panitia selalu benar… dll sampai pasal 13 yang berbunyi: Jika panitia salah, kembali ke pasal satu. Menyebalkan.

Sedikit tentang Robben dan kado puisi

Aku lupa-lupa ingat dengan percakapan yang terjadi di telepon itu. Kalau tidak salah, orang yang ada di seberang percakapan itu bilang
kepadaku bahwa ia akan pulang sebulan lagi. Ia berkata bahwa iamerindukan kami semua yang ada di rumah. Percakapan di pesawat telepon rumah itu tak berlangsung terlalu lama, mungkin dua atau tiga menit.Biaya telepon antar negara memang mahal, ia memakai telepon hotel untuk memastikan kami semua di rumah baik-baik saja.

Kepergiannya ke kota lain merupakan hal yang biasa bagi kami semua.Suatu saat ia harus ke Jakarta, Yogyakarta, atau Surabaya, tapi tidak sampai dua bulan. Aku belum begitu paham dengan alasannya untuk meninggalkan kami selain alasan bekerja.
Biasanya, jika ia pergi lama untuk bekerja, ia akan meninggalkan pakaian atau sarungnya untukku di rumah. Katanya, bila orang yang kau sayangi pergi jauh, obat paling manjur agar orang yang ditinggal tidak terlalu sendu akibat rindu adalah menyelimutinya dengan pakaian yang biasa dipakai. Aku ingat betul sarung hijau dan kemejanya menjadi andalanku. Aku menyimpannya sampai kain sarung itu sobek-sobek dan bulukan, kira-kira sampai aku SMP.

Ia akhirnya pulang dengan barang-barang yang kusukai. Yang kuingat,badannya juga tidak berubah, tidak gemuk dan tidak kurus, bahkan sampai sekarang. Ia mempunyai postur yang sama, tidak terlalu tinggi
dan tidak mempunyai lipatan perut.

Seingatku, ia datang sebelum aku bangunt idur. Pagi-pagi sebelum aku berangkat sekolah sudah ada koper besar dan barang-barang yang berjejer di dekat sofa abu-abu depan televisi. Aku dipeluknya sebentar
dan tersenyum seperti biasa, tidak menunjukkan gigi-giginya.  Aku bukan anak yang cerewet, melihatnya ada di sekelilingku setelah beberapa lama tidak bertemu, sambil mencuri pandang oleh-oleh yang dibawanya, sudah membuatku bahagia kala itu.

Seperti perjalanan-perjalanan sebelumnya dengan pesawat, ia selalu rajin memberikan tisu basah merk maskapai pesawat itu padaku. Dan aku selalu suka tisu basah pesawat karena memang jarang kutemui di rumah.

Aku masih ingat betul bau tisu itu, dan adegan saat ia menyerahkannya padaku, di dekat pesawat telepon. Ia berujar, “sana cepat mandi, buka oleh-olehnya setelah pulang sekolah,” seperti biasa, aku selalu
menuruti perintahnya.

Sepulang sekolah, sudah banyak berjejer oleh-oleh dari nya. Beberapa gulung klise yang harus dicuci cetak  fotonya, ada beberapa boneka yang terbuat dari butir-butir mote dengan warna yang mencolok,kalung-kalung mote,tas bergambar bendera negara yang dikunjunginya,ada juga beberapa kaus, gantungan kuci, tempelan kulkas. Ada salah
satu barang yang amat menarik perhatianku, selembar daun yang sudah mengering.

Ia bercerita, daun itu adalah daun dari pohon yang terbesar di negara itu, mungkin terbesar di benua. Diameter pohon itu digambarkan dengan tak cukup pelukan sepuluh orang dewasa. Aku diam sebentar membayangkan
betapa besar pohon yang dikunjunginya. Ia berpesan pada kami untuk menyimpan daun dari pohon itu karena berasal dari pohon terbesar di seluruh dunia. Daunnya sekarang mungkin masih tersimpan di laci salah
satu buffet di lantai rumah atas, yang sekarang penuh debu.

Ia juga memberi oleh-oleh pensil yang panjangnya semeter dengan tulisan huruf warna-warni SOUTH AFRICA dengan gambar matahari di dekat penghapus ujung pensil super besar itu.  Aku tidak pernah membawanya ke sekolah karena pasti akan ditertawakan teman-temanku. Ia membawa barang asing yang belum pernah kutemui. Seperti kumpulan foto-foto yang belum benar-benar tercetak, seperti klise, tapi kamu
tidak perlu mencetaknya. Kumpulan gambar itu berukuran setengah dari kartu ATM, jika ingin melihat gambarnya, aku harus menerawang dengan menghadapkannya ke lampu, atau sumber cahaya. Dari sana aku melihat pemandangan padang-padang savana yang hijau, padang rumput dengan
singa dan dua anaknya, tepi pantai yang biru dan pasir yang putih. Beberapa gambar tak jauh beda dengan pemandangan Indonesia,
hutan-hutan tropis yang masih rimbun, sungai-sungai. Gambar dari segi empat itu juga memantulkan orang-orang berkulit hitam tanpa pakaian.

Mereka memakai kalung-kalung mote seperti yang ia bawa pulang ke rumah dan memakai kain polos berwarna coklat untuk menutup bagian alat kelamin.

Ia, seperti biasa, membawa pulang buku-buku. Tiga uku yang paling kuingat adalah buku bersampul coklat muda dengan halaman depan foto seorang kulit hitam dan buku kecil berjudul “Afrika yang Resah” karangan Okot p’ Bitek, dan buku-buku promosi berjudul “Kwa-Zulu Natal” dengan huruf yang besar-besar.

Belakangan setelah aku kelas enam, aku benar-benar berniat membaca buku berhalaman depan pria kulit hitam itu. Buku tebal itu ternyata bercerita tentang Nelson Mandela. Presiden kulit hitam pertama yang terpilih melalui pemilihan umum.

Ia pergi ke Afrika Selatan untuk meliput
peristiwa kali pertama rakyat Afrika Selatan menggunakan hak pilih, meludahi politik apartheid yang saat itu membelenggu “benua hitam”.

Aku membaca buku yang berbeda kemarin malam, yang berisi gambar-gambar
pemilihan umum pertama kali Afrika Selatan seperti apa yang diliputnya. Waktu seperti berhenti sebentar dan aku seperti kembali ke
empat belas tahun silam. Saat ia menceritakan perjalanannya ke Pulau Robben, pulau tempat orang-orang kulit hitam di sana ditawan ditemani seorang laki-laki sebayanya yang katanya sedikit mengerti bahasa Indonesia karena beberapa pengalaman menemani orang Indonesia.  Mereka sempat makan daging buaya.

Ia berfoto di sebuah kapal penuh coretan dekat pelabuhan menuju Pulau Robben dengan pemandu tadi. Di salah satu foto, ekspresinya lucu sekali. Tak sengaja ada kuskus lewat dan masuk dalam frame foto, ia
nampak kaget. Ia tak pernah selucu itu di dalam foto, biasanya nampak kaku dan serius.

Membaca lagi tentang Afrika, Nelson Mandela, pemilihan umum, ras, apartheid, penjara, tawanan, rugby, kerja-kerja peliputan, penulisan, selalu terus menuju padanya. Melihat sarung-sarung hijau, menuju bandara, ke stasiun mengantar kepergian dan isak tangis dalam mobil setelahnya, akan selalu terus menuju padanya.  Dan entah kebetulan atau apa, kegiatanku selama ini juga tak jauh-jauh dari apa yang digelutinya lampau.

Banyak hal terjadi setelah kepergiannya ke Afrika. Banyak hal tentang kebahagiaan, kesederhanaan yang harus kami lakoni karena ia tak lagi bekerja meliput, juga peristiwa yang tidak bicara tentang kebahagiaandan tawa-tawa yang cair. Melainkan suasana dingin yang kikuk, atau
foto yang dipaksakan. Beberapa hal yang tidak enak memang harus terjadi dan kami harus menelannya tega-tega. Namun aku tahu, kami selalu terhubung lewat doa-doa.

Aku juga tidak pernah ingin melewatkannya dalam keputusan-keputusan besar dalam hidupku. Ia juga tak ingin melewatkan itu.

Mungkin, aku juga banyak mengecewakannya dalam beberapa hal. Aku juga pasti sering membuatnya bersedih dan marah sampai keadaan ini belum benar-benar mencair. Kami jarang bertemu. Ia juga tidak meninggalkan pakaiannya seperti saat ia bertugas ke beberapa daerah.

Kepergiannya saat itu mengepak buku-buku, termasuk buku dengan sampul Mandela, membuatku benar-benar terpukul. Orang pergi dan mengepak buku-buku kesayangannya, bukan pertanda baik.

Sama saat seperti kepergiannya mengunjungi tanah Mandela, aku tidak pernah benar-benar paham alasannya meninggalkan rak-rak buku di rumah.

Aku tidak pernah benar-benar paham, tapi aku terus mencoba paham, setiap hari, setiap doa.

Ia mungkin juga kaget dan tak paham benar denganku sekarang dengan beberapa perubahan dan keputusan yang kubuat. Satu hal yang pasti, aku tetap anak perempuan satu-satunya yang ia beri kado cuplikan puisi
saat hari kelahiranku. Aku melaminasi cetakan yang sudah berwarna coklat tua itu dan menempel di dinding kamar lama.

Bait terakhir puisi karangan Jenderal Douglas itu begini:

“Jika semua itu terjadi, beranilah aku berbisik “tak sia-sia aku menjadi ayahnya”

Doa-doa baik selalu tersemat untuknya, semoga ia menemukan rumah yang
membahagiakan .