Hari Pertama Masuk Sekolah

Mamah mengantarku dengan sepeda Phoenix berwarna biru ke TK Aisiyah Semanggi, 500 meter dari rumah. Depan pagar sekolah ramai sekali, karena TK satu lingkungan dengan SD yayasan yang sama, Muhammadiyah. Aku ingat, kami berdesak-desakan masuk ke kelas dengan seragam kuning hijau, dan bedak di leher yang masih kelihatan (juga di dahi, pipi, dll), rambut pendek, sedikit dan masih disisir rapi ke belakang, tidak berjilbab.
Aku anak kecil yang “clingus”, pemalu, takut, kalau tidak ditanya ya bakal diam sampai petang. Hari pertama masuk sekolah aku merasa grogi dengan  kerumunan banyak seperti itu. Aku lupa, aku menangis di bagian mau masuk kelas atau menahannya dan pecah saat kelas usai, yang jelas, aku menangis. Nama ibu guruku, Bu Tatik. Masih ingat, teman yang kukenal pertama kali di kelas itu adalah Putri, yang belakangan jadi anak “nakal” di kelas karena sering mencubit temannya, aku yang paling sering. Teman yang lain, tentu, Ayu, kami tetangga dekat. Beberapa waktu setelah hari pertama, Mamah masih mengantarku tiap pagi dengan sepeda, setelahnya aku jalan kaki sendiri bareng Ayu.

Hari pertama masuk SD, aku bareng dengan Ayu. Sekolah kami tak jauh dari rumah, hanya mengitari tiga gang. Tasku bergambar Mini Mouse berwarna pink, dengan resleting berbentuk karakter itu juga (kurasa bagian resleting itulah yang paling kusuka), tempat pensilku berwarna hijau, buku-buku juga bercorak Mickey dan Mini Mouse. Banyak orangtua yang mengantar anaknya, dan bahkan melihat dari pintu, sampai-sampai, Bu Agnes guru Kelas Satu, menutup pintu kelas. Aku dan Ayu memilih tempat duduk nomor tiga dari depan dekat tembok. Belakang kami, adalah Itha, juga tetangga, kami sempat berselisih sebentar tentang siapa sebangku dengan siapa. Ending-nya, sepertinya aku sebangku dengan Ayu. Aku dan Ayu menjadi semacam sejoli yang tak terpisah, sampai kelas empat karena aku pindah sekolah.

Aku harus pindah sekolah, karena kami tinggal di Solo Baru. Niatnya, Papah cari sekolah yang dekat rumah, tapi akhirnya juga sama-sama jauh. Namanya SD Negeri Kemasan 1, SD-nya di pusat kota termasuk 10 besar SD terbaik di Solo. Papah sempat mau memasukkanku ke SD yayasan islam, tapi aku tidak terlalu suka dengan banyak pelajaran agama di sekolah. Akhirnya, aku sekolah di SD negeri, yang dekat dengan SD islami itu, SD N Kemasan 1.

Hari pertama sekolah sebagai anak pindahan aku super grogi. Aku ditanyai oleh Bu Naniek, wali kelas 4, mengapa aku pindah.Aku jawab :karena rumahku pindah. Aku ditanyai lagi, kenapa aku pilih SD ini, aku jawab aku tidak tahu karena Papah yang memilihkan. Di hari pertama itu, aku duduk bersebelahan dengan Rizky Apriliana. Sebagai anak baru, aku juga berusaha berkenalan dengan temanku yang lain. Mereka juga datang menyalamiku ingin berkenalan. Aku juga sempat ditanya apakah aku ini anak tinggal kelas, masih di Solo kok pindah. Aku tersenyum dan menggeleng. 

Di hari pertama itu, aku sudah hafal beberapa teman baruku, Rizky, Edo, Roy, Hana, Dhea, Ivon, dan Dita. Erwan dan Anwar, saudara kembar, ternyata rumahnya tak jauh dari rumahku. Mereka menawariku main sepeda bareng. Erwan dan Anwar juga cerita, kalau ada anak namanya Vicky, yang sebenarnya rumahnya dekat sekali dengan rumahku. Vicky saat itu tidak masuk karena masih mudik. Besoknya, aku bertemu Vicky. 

Ternyata, Vicky adalah anak yang sering kutemui saat di jalan selama berangjat sekolah. Kami sama-sama naik becak, tukang becak kami bersahabat, saat berpapasan, tukang becak itu sering mengobrol. Aku dan Vicky hanya curi pandang karena belum kenal. Semenjak tahu rumah kami dekat, dan pengemudi becak kami bersahabat, kami juga menjadi teman. Vicky dan Aku berbagi becak dari Solo Baru ke Tipes (kemudian kami memutuskan untuk satu becak saja, tapi bergantian pengemudinya). Lalu, kami memutuskan untuk naik angkot saja setiap hari. Ia sahabatku menunggu angkot, belajar bersama,dan bersepeda bersama.Aku sering menemani Vicky di rumah karena orangtuanya sering ke Jakarta.Darinya, aku belajar menjadi anak yang mandiri. Kami pernah jalan dari Tipes ke Tanjung Anom, karena tak dapat angkot, akhirnya menyerah naik becak. Aku dan Vicky akhirnya berpisah di kelas 5, ia pindah ke Jakarta. Aku selalu merindukannya saat itu. Kami sempat berkirim surat dan berkirim kartu lebaran.

Hari pertama masuk sekolah di SMP tak begitu kuingat. Aku diantar Papah naik motor sampai depan gerbang. Papah sering mengantarku dengan memakai jaket jeans.Tak banyak teman SD yang sekolah di SMP-ku, hanya lima orang.  Praktis, aku beradaptasi dengan teman-teman baru lagi. Teman sebangku di hari pertama sewaktu SMP adalah Meirina. Aku masih malu-malu dan minder karena yang sekolah di SMP-ku itu berasal dari SD favorit di Solo. Aku berkenalan dengan Rina, aku ingat betul saat itu ia menyebut rumahnya di Jalan Srigunting. Pulangnya aku naik angkot nomor 09, menunggu di selatan sekolah. Selama SMP kadang Papah mengantar dan menjemputku karena saat itu juga sekalian dengan Asa. Aku lebih sering naik angkot, menghadangnya dengan jalan 500an meter dari rumah, pukul 06.00 wib.

Hari pertama masuk SMA. Masa Orientasi Siswa membuat aku lagi-lagi grogi. Aku tak ingat, siapa teman sebangku SMA ku saat pertama kali masuk, kalau tidak salah Fauziah. Yang nempel diingatan, kami anak baru sering  lari-lari karena disuruh cepat-cepat. Saat kumpul di aula pun, kakak kelas meneriaki kami “satu anak satu tegel” alias, barisan harus rapi. Kami menghapal beberapa yel-yel untuk dinyanyikan saat ketemu kakak kelas. Kami juga harus mengumpulkan biodata anak kelas kami dan kelas lain agar tidak mendapat poin. Jika kami melanggar peraturan maka kartu peserta MOS kami akan dijeglog dengan pembolong kertas. Yang paling banyak dapat bolongan, akan dapat hukuman. Yang ketahuan salah atau melanggar, dikumpulkan di aula dan antri jeglogan. Aku ingat betul peraturannya, karena panitia MOS meneriakkan peraturan itu keras sekali. Pasal 1: Panitia selalu benar… dll sampai pasal 13 yang berbunyi: Jika panitia salah, kembali ke pasal satu. Menyebalkan.

Sedikit tentang Robben dan kado puisi

Aku lupa-lupa ingat dengan percakapan yang terjadi di telepon itu. Kalau tidak salah, orang yang ada di seberang percakapan itu bilang
kepadaku bahwa ia akan pulang sebulan lagi. Ia berkata bahwa iamerindukan kami semua yang ada di rumah. Percakapan di pesawat telepon rumah itu tak berlangsung terlalu lama, mungkin dua atau tiga menit.Biaya telepon antar negara memang mahal, ia memakai telepon hotel untuk memastikan kami semua di rumah baik-baik saja.

Kepergiannya ke kota lain merupakan hal yang biasa bagi kami semua.Suatu saat ia harus ke Jakarta, Yogyakarta, atau Surabaya, tapi tidak sampai dua bulan. Aku belum begitu paham dengan alasannya untuk meninggalkan kami selain alasan bekerja.
Biasanya, jika ia pergi lama untuk bekerja, ia akan meninggalkan pakaian atau sarungnya untukku di rumah. Katanya, bila orang yang kau sayangi pergi jauh, obat paling manjur agar orang yang ditinggal tidak terlalu sendu akibat rindu adalah menyelimutinya dengan pakaian yang biasa dipakai. Aku ingat betul sarung hijau dan kemejanya menjadi andalanku. Aku menyimpannya sampai kain sarung itu sobek-sobek dan bulukan, kira-kira sampai aku SMP.

Ia akhirnya pulang dengan barang-barang yang kusukai. Yang kuingat,badannya juga tidak berubah, tidak gemuk dan tidak kurus, bahkan sampai sekarang. Ia mempunyai postur yang sama, tidak terlalu tinggi
dan tidak mempunyai lipatan perut.

Seingatku, ia datang sebelum aku bangunt idur. Pagi-pagi sebelum aku berangkat sekolah sudah ada koper besar dan barang-barang yang berjejer di dekat sofa abu-abu depan televisi. Aku dipeluknya sebentar
dan tersenyum seperti biasa, tidak menunjukkan gigi-giginya.  Aku bukan anak yang cerewet, melihatnya ada di sekelilingku setelah beberapa lama tidak bertemu, sambil mencuri pandang oleh-oleh yang dibawanya, sudah membuatku bahagia kala itu.

Seperti perjalanan-perjalanan sebelumnya dengan pesawat, ia selalu rajin memberikan tisu basah merk maskapai pesawat itu padaku. Dan aku selalu suka tisu basah pesawat karena memang jarang kutemui di rumah.

Aku masih ingat betul bau tisu itu, dan adegan saat ia menyerahkannya padaku, di dekat pesawat telepon. Ia berujar, “sana cepat mandi, buka oleh-olehnya setelah pulang sekolah,” seperti biasa, aku selalu
menuruti perintahnya.

Sepulang sekolah, sudah banyak berjejer oleh-oleh dari nya. Beberapa gulung klise yang harus dicuci cetak  fotonya, ada beberapa boneka yang terbuat dari butir-butir mote dengan warna yang mencolok,kalung-kalung mote,tas bergambar bendera negara yang dikunjunginya,ada juga beberapa kaus, gantungan kuci, tempelan kulkas. Ada salah
satu barang yang amat menarik perhatianku, selembar daun yang sudah mengering.

Ia bercerita, daun itu adalah daun dari pohon yang terbesar di negara itu, mungkin terbesar di benua. Diameter pohon itu digambarkan dengan tak cukup pelukan sepuluh orang dewasa. Aku diam sebentar membayangkan
betapa besar pohon yang dikunjunginya. Ia berpesan pada kami untuk menyimpan daun dari pohon itu karena berasal dari pohon terbesar di seluruh dunia. Daunnya sekarang mungkin masih tersimpan di laci salah
satu buffet di lantai rumah atas, yang sekarang penuh debu.

Ia juga memberi oleh-oleh pensil yang panjangnya semeter dengan tulisan huruf warna-warni SOUTH AFRICA dengan gambar matahari di dekat penghapus ujung pensil super besar itu.  Aku tidak pernah membawanya ke sekolah karena pasti akan ditertawakan teman-temanku. Ia membawa barang asing yang belum pernah kutemui. Seperti kumpulan foto-foto yang belum benar-benar tercetak, seperti klise, tapi kamu
tidak perlu mencetaknya. Kumpulan gambar itu berukuran setengah dari kartu ATM, jika ingin melihat gambarnya, aku harus menerawang dengan menghadapkannya ke lampu, atau sumber cahaya. Dari sana aku melihat pemandangan padang-padang savana yang hijau, padang rumput dengan
singa dan dua anaknya, tepi pantai yang biru dan pasir yang putih. Beberapa gambar tak jauh beda dengan pemandangan Indonesia,
hutan-hutan tropis yang masih rimbun, sungai-sungai. Gambar dari segi empat itu juga memantulkan orang-orang berkulit hitam tanpa pakaian.

Mereka memakai kalung-kalung mote seperti yang ia bawa pulang ke rumah dan memakai kain polos berwarna coklat untuk menutup bagian alat kelamin.

Ia, seperti biasa, membawa pulang buku-buku. Tiga uku yang paling kuingat adalah buku bersampul coklat muda dengan halaman depan foto seorang kulit hitam dan buku kecil berjudul “Afrika yang Resah” karangan Okot p’ Bitek, dan buku-buku promosi berjudul “Kwa-Zulu Natal” dengan huruf yang besar-besar.

Belakangan setelah aku kelas enam, aku benar-benar berniat membaca buku berhalaman depan pria kulit hitam itu. Buku tebal itu ternyata bercerita tentang Nelson Mandela. Presiden kulit hitam pertama yang terpilih melalui pemilihan umum.

Ia pergi ke Afrika Selatan untuk meliput
peristiwa kali pertama rakyat Afrika Selatan menggunakan hak pilih, meludahi politik apartheid yang saat itu membelenggu “benua hitam”.

Aku membaca buku yang berbeda kemarin malam, yang berisi gambar-gambar
pemilihan umum pertama kali Afrika Selatan seperti apa yang diliputnya. Waktu seperti berhenti sebentar dan aku seperti kembali ke
empat belas tahun silam. Saat ia menceritakan perjalanannya ke Pulau Robben, pulau tempat orang-orang kulit hitam di sana ditawan ditemani seorang laki-laki sebayanya yang katanya sedikit mengerti bahasa Indonesia karena beberapa pengalaman menemani orang Indonesia.  Mereka sempat makan daging buaya.

Ia berfoto di sebuah kapal penuh coretan dekat pelabuhan menuju Pulau Robben dengan pemandu tadi. Di salah satu foto, ekspresinya lucu sekali. Tak sengaja ada kuskus lewat dan masuk dalam frame foto, ia
nampak kaget. Ia tak pernah selucu itu di dalam foto, biasanya nampak kaku dan serius.

Membaca lagi tentang Afrika, Nelson Mandela, pemilihan umum, ras, apartheid, penjara, tawanan, rugby, kerja-kerja peliputan, penulisan, selalu terus menuju padanya. Melihat sarung-sarung hijau, menuju bandara, ke stasiun mengantar kepergian dan isak tangis dalam mobil setelahnya, akan selalu terus menuju padanya.  Dan entah kebetulan atau apa, kegiatanku selama ini juga tak jauh-jauh dari apa yang digelutinya lampau.

Banyak hal terjadi setelah kepergiannya ke Afrika. Banyak hal tentang kebahagiaan, kesederhanaan yang harus kami lakoni karena ia tak lagi bekerja meliput, juga peristiwa yang tidak bicara tentang kebahagiaandan tawa-tawa yang cair. Melainkan suasana dingin yang kikuk, atau
foto yang dipaksakan. Beberapa hal yang tidak enak memang harus terjadi dan kami harus menelannya tega-tega. Namun aku tahu, kami selalu terhubung lewat doa-doa.

Aku juga tidak pernah ingin melewatkannya dalam keputusan-keputusan besar dalam hidupku. Ia juga tak ingin melewatkan itu.

Mungkin, aku juga banyak mengecewakannya dalam beberapa hal. Aku juga pasti sering membuatnya bersedih dan marah sampai keadaan ini belum benar-benar mencair. Kami jarang bertemu. Ia juga tidak meninggalkan pakaiannya seperti saat ia bertugas ke beberapa daerah.

Kepergiannya saat itu mengepak buku-buku, termasuk buku dengan sampul Mandela, membuatku benar-benar terpukul. Orang pergi dan mengepak buku-buku kesayangannya, bukan pertanda baik.

Sama saat seperti kepergiannya mengunjungi tanah Mandela, aku tidak pernah benar-benar paham alasannya meninggalkan rak-rak buku di rumah.

Aku tidak pernah benar-benar paham, tapi aku terus mencoba paham, setiap hari, setiap doa.

Ia mungkin juga kaget dan tak paham benar denganku sekarang dengan beberapa perubahan dan keputusan yang kubuat. Satu hal yang pasti, aku tetap anak perempuan satu-satunya yang ia beri kado cuplikan puisi
saat hari kelahiranku. Aku melaminasi cetakan yang sudah berwarna coklat tua itu dan menempel di dinding kamar lama.

Bait terakhir puisi karangan Jenderal Douglas itu begini:

“Jika semua itu terjadi, beranilah aku berbisik “tak sia-sia aku menjadi ayahnya”

Doa-doa baik selalu tersemat untuknya, semoga ia menemukan rumah yang
membahagiakan .

Kartini: Emansipasi dan Laku Literasinya

Resensi atas Surat-Surat Kartini yang terkumpul dalam Buku “Emansipasi, Surat-surat kepada Bangsanya (1899-1904)” diterbitkan oleh Jalasutra,2014.

Perempuan muda itu dijuluki “trinil” atau burung kecil cerewet oleh kakak dan adiknya. Ia tidak suka berjalan pelan, melainkan melompat-lompat dan berlari. Kebiasaan itu membuatnya dipanggil “kuda kore”, alias kuda liar. Gadis Jawa itu mengaku sering tertawa terbahak sambil menunjukkan banyak giginya. Adat Jawa mengecap kebiasaannya itu tak pantas, pun tidak sopan.

“Panggil saya Kartini saja- begitu nama saya”. Kartini menuliskan kalimat itu dalam surat pertama kepada sahabat pena yang jauh di Belanda, Eropa. Kartini bersahabat lewat guratan pena dengan Estelle “Stella” Zeehandelaar. Mereka terpisah jarak, Raden Ajeng Kartini tinggal di Rembang, Stella bekerja di kantor pos Amsterdam. Sejarah kolonialisme antara “penjajah” dan “dijajah” juga antara gelap dan terang dunia membuat surat-surat yang ditulis Kartini, bukan surat biasa. Guratan pena berbahasa Belanda itu adalah sebuah bukti sejarah,

Kartini bergelar Raden Ajeng. Ia lahir dari seorang garwa gampil, atau istri selir Bupati Jepara, RMAA Sosroningrat. Kegelisahannya tentang jalan hidup perempuan Jawa yang dililit adat, patriarkhis, ketidakadilan, penjajahan, membuatnya menjadi pemberontak, aktivis, dan pemikir pada zamannya. WR Supratman, pencipta lagu “Ibu Kita Kartini” memanggil Kartini sebagai “pendekar kaumnya”. Selama 25 tahun hidup, Kartini gelisah, bermimpi, dan bergerak untuk mewujudkan perubahan bagi dirinya sendiri juga kaum perempuan Jawa yang saat itu tidak mendapatkan akses pendidikan dan terbelenggu kolonialisme dan adat yang mengukung. Terlepas dari “pasrah sumarahnya” menjadi bagian dari poligami suaminya, jiwanya yang bebas menginginkan kemerdekaan yang nyata, kesetaraan kesempatan, sebuah aufklarung, zaman pencerahan bagi Indonesia, yang saat itu masih disebut Hindia Belanda.

Membaca surat-surat yang ditulis oleh seorang gadis muda keturunan ningrat Jawa yang pada saat itu terikat adat dan kebijakan politik etis Belanda, tidak seperti membaca surat biasa. Surat-surat yang sebenarnya berisi tentang curahan hati gadis ini tidak bisa dibandingkan dengan tulisan-tulisan curahan hati yang biasa kita baca lewat status facebook atau media sosial daring lainnya. Kartini tidak sekedar menceritakan kehidupan empat tahun pingitan, tidak keluar ke beranda rumah, lalu berkeluh kesah begitu saja. Kartini saat itu menjalankan kewajibannya menjadi pelaku ritual adat Jawa bersama dua adiknya, Roekmini,dan Kardinah.

Ia belum genap berusia 13 tahun dan baru saja lulus dari Europeesche Lagere School atau sekolah dasar untuk orang Eropa. Kartini adalah salah seorang perempuan beruntung yang dapat mengenyam pendidikan. Ia berasal dari keluarga yang peduli terhadap pendidikan, kakeknya, Tjondronegoro IV yang juga Bupati Demak menyekolahkan semua anaknya, termasuk ayah Kartini, Sosroningrat. Namun, nasib perempuan Jawa saat itu tidak seberuntung laki-laki. Sosroningrat berkata “tidak” kepada Kartini yang menginginkan melanjutkan ke sekolah lanjutan, Hogere Burger School di Semarang. Ayahnya taat pada tradisi, anak perempuan harus dipingit dan dikawinkan. Kartini marah, ia diasingkan dalam pingitan. Kemarahan, gejolak, emosi, suka duka dan semangat ia curahkan dengan berkorespodensi dan menulis.

Door Duisternis Tot Licht, secara harfiah berarti “dari Kegelapan Menuju Cahaya” diterbitkan pertama kali pada 1911, tujuh tahun setelah Kartini meninggal. Rosa Manuela Abendanon Mandri, kenalan ayahnya yang juga istri Direktur Pendidikan, Agama, dan Industri Hindia Belanda mengumpulkan 115 surat kartini yang ditujukan ke beberapa sahabatnya di Belanda. Surat itu diterjemahkan oleh Sulastrin Sutrisno dan diterbitkan lagi oleh Balai Pustaka 1922 dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Penerbitan kembali surat Kartini,dalam buku ini bukan tanpa maksud . Menghadirkan kembali surat-surat Kartini dan lampiran dokumen bukti pergerakan ide Kartini adalah sebuah langkah mendedah Kartini sebagai simbol. Selama ini Peringatan 21 April Hari Lahir Kartini,cenderung menyempitkan makna Kartini hanya sebagai seremoni kebaya, Dharma Wanita, dan pentas anak-anak TK. Rezim Orde Baru dengan gampangnya mendomestifikasi peran Kartini dan rezim yang partriarkis sampai sekarang masih belum menempatkan perempuan sebagai subjek utama, perempuan belum setara. Indonesia masih membutuhkan sosok Kartini sebagai ide pergerakan nasionalisme dan kesetaraan perempuan. Pembacaan kembali surat Kartini lewat buku ini adalah salah satu langkah memelihara dan belajar dari sejarah. Sejarah kehidupan pribadi Kartini sebagai perempuan Jawa yang tertulis dalam surat-suratnya, mengingatkan kembali bahwa laku hidup Kartini membawa banyak perubahan pada perempuan. Pun, buku ini mengingatkan masih banyak perubahan baik yang mesti dilakukan oleh generasi setelah Kartini.

Kardinah, Kartini, dan Rukmini. Sumber: media-kitlv.nl

Kardinah, Kartini, dan Rukmini. Sumber: media-kitlv.nl

Laku Literasi Kartini

Jauh sebelum surat ini diterbitkan oleh Belanda yang juga berkepentingan atas politik etis saat itu, sebuah surat permintaan sahabat pena terbit di mingguan De Hollands Lelie edisi Maret 1899. Iklan itu muncul di rubrik Vragenbus atau Permintaan.

Bunyinya, “Seorang perempuan muda Jawa yang terdidik akan sangat senang bila ada pelanggan di Holland yang bersedia berkirim surat dengannya, untuk bertukar pikiran dengan seorang perempuan muda yang berpendidikan” (Tempo, Edisi Khusus Gelap terang Kartini, April 2013)

Estelle “Stella” Zeehandelaar, seorang feminis sosialis juga pekerja di kantor pos-lah yang menanggapi iklan surat kabar tersebut. Stella, yang usianya lebih tua lima tahun dari Kartini, saat itu juga menulis di jurnal-jurnal perempuan di Belanda. Kartini bercerita tentang kehidupannya dan kondisi bangsanya dengan bahasa Belanda yang baik kepada Stella, juga kepada Mr dan Nyonya Abendanon-Mandri. Selain kepada dua orang tersebut, Kartini juga rajin bersurat kepada Nyonya M.C.E Ovink Soer, istri residen Ovink yang dianggapnya sebagai ibunya sendiri, Kartini memanggilnya Modertje. Buah pikiran Kartini juga sampai kepada Ir. H.H van Kol, seorang pemikir politik etis dan pembuka jalan rencana studi Kartini ke Belanda.Kartini juga sempat terhubung dengan pegiat literasi, seperti Nicolaus Adriani, seorang ahli bahasa dan sastrawan pemimpin redaksi harian Algemeen Handelsblad. Kartini juga terhubung dengan guru besar ilmu kenegaraan asal Jerman, Prof. Dr.G. K Anton, yang kebetulan melakukan study tour ke Jepara.

Ide-ide Kartini tentang kesetaraan, perjuangan hak-hak perempuan dan kaum marginal tidak lepas dari bacaannya tiap hari. Marie Ovink-Soer, yang kerap disapa Moedertje atau ibu kesayangan, mengenalkan Kartini kepada majalah-dan buku-buku progresif seperti De Hollandsche Lelie. Kartini sering mendatangi rumah Marie Ovink Soer yang ada di seberang rumahnya untuk membaca buku-buku dan berdiskusi bersama. Perpindahan Marie Ovink Soer ke Jombang membuat Kartini bersedih, tapi ia tidak menyudahi komunikasinya dengan ibu kesayangannya itu. Dalam suratnya kepada Marie di awal tahun 1990 Kartini menulis “Kami akan menggoncangnya, ibu sayang, dengan segala kekuatan walaupun yang akan runtuh hanya satu butir batu saja, maka kami akan merasa bahwa hidup kami tidak sia-sia.” Kartini bersemangat untuk menekuni bahasa Belanda dan memberikan pendidikan bagi perempuan dan anak-anak.

Pengetahuan Kartini tentang penindasan,ketidakadilan, dan “terang” kebebasan ia dapatkan bukan hanya dari Marie-Ovink Soer. Ayahnya, Sosroningrat “menebus dosa” atas pingitan Kartini dengan tetap menyediakan buku-buku dan segala tulisan dengan tema gerakan feminisme dan sosialis. Seperti de Gids dan Armsterdammer.  Kartono, kakak Kartini yang juga mahasiswa Indonesia pertama yang belajar di Belanda, selalu memberikan oleh-oleh buku bacaan soal pengetahuan dunia modern dan novel-novel untuk Kartini.

Kartini sangat menggemari tulisan-tulisan Max Havelaar atau Multatuli, seorang Belanda yang berpihak pada kepentingan Hinda Belanda (Indonesia). Kartini belajar arti “penindasan” darinya.  Dalam suratnya kepada Nyonya Abendanon-Mandri, Kartini bercerita bahwa ia sedang membaca karangan Multatuli,“Gebed van de onwetende” (Doa orang yang tak tahu). Ia juga membaca dan ingin tahu jalannya politik balas budi Belanda melalui buku-buku pemberian ayahnya seperti “” (Kerja Kemasyarakatan di India).

Kartini mencintai buku seperti mencintai dirinya sendiri dan bangsanya. Ia mengulang membaca buku yang disukainya sampai tiga kali. Ia membaca karya penyair-penyair Belanda seperti Frits Reuter, Couperus , dan Vosmaer. Kartini menyenangi dunia sastra, dalam suratnya kepada Prof.G.K Anton ia bercerita bahwa dari pukul tujuh sampai pukul tiga dini hari, ia terus menerus membaca. Kartini kadang mengulas buku yang dibacanya kepada sahabat penanya. Ia bercerita pernah berdebat dengan seseorang tentang guna buku. Kartini percaya, buku dan kegemaran membaca akan membawa banyak perubahan bagi bangsanya.

Kartini juga menulis. Ia meninggalkan banyak jejak tulisan. Setelah belenggu pingitannya selesai pada 2 Mei 1898, Kartini merasakan kebebasan seutuhnya. Ia meneliti dan menulis. Kartini sering berjalan-jalan di kampung-kampung Jepara Selatan. Ia menulis perkawinan suku Koja di Jepara, berjudul “Het Huwelijk bij de Kodja’s” (Perkawinan itu di Koja” dipublikasikan dalam Jurnal Humaniora dan Ilmu Pengetahuan Sosial Asia tenggara dan Oseania volume 50 nomor 1 tahun 1898. Dalam karangan itu, Kartini memakai nama bapaknya. Ia juga menulis reportase adat perkawinan jawa melalui pernikahan adiknya, Kardinah. Kartini menulis di Eigen Hard, majalah belanda. Ia menulis di majalah Hindia Belanda, De Echo dengan nama samaran “Tiga Saudara”. Dalam buku Emansipasi , Surat-surat kepada Bangsanyaini, Kartini juga diminta untuk mengelola De Nederlandshe Taal. Kesibukan membatik, membuat Kartini menuangkannya dalam tulisan tentang seni batik. Dalam suratnya kepada Stella, 6 November 1899, ia bergembira sekali tulisan seni batiknya terbit dalam sebuah buku yang berjudul “e Batikkunst in Ned Indie en Haar Gerchiedenis” (kesenian Batik di Hindia Belanda dan Sejarahnya).

Kartini “abadi” karena ia melakukan sesuatu dan berliterasi. Itu yang membuatnya berbeda dengan tokoh perempuan lain. Ia haus akan pengetahuan, sekaligus meninggalkan jejak pengetahuan. Apa jadinya bila Kartini tidak membaca, menulis surat, selalu gelisah tentang keadaan sekitarnya, dan berbuat sesuatu? Barangkali tidak pernah ada Kartini seperti yang kita kenal, barangkali “ jalan terang” bagi perempuan Indonesia belum ada. Surat-surat Kartini dalam buku ini mengingatkan kita untuk tetap gelisah atas keadaan sekitar, untuk tetap harus membaca dan menulis, dan untuk berbuat sesuatu yang adil dengan kesadaran penuh.

Ia haus akan pengetahuan, sekaligus meninggalkan jejak pengetahuan. Apa jadinya bila Kartini tidak membaca, menulis surat, selalu gelisah tentang keadaan sekitarnya, dan berbuat sesuatu? Barangkali tidak pernah ada Kartini seperti yang kita kenal, barangkali “ jalan terang” bagi perempuan Indonesia belum ada. Surat-surat Kartini dalam buku ini mengingatkan kita untuk tetap gelisah atas keadaan sekitar, untuk tetap harus membaca dan menulis, dan untuk berbuat sesuatu yang adil dengan kesadaran penuh.

Ibuku

Ibu sering menitipkan sepeda biru peninggalan almarhum adikku di halaman rumah sakit dekat rumah kami. Satpam di rumah sakit itu sudah hapal dengan ibuku. Setelah parkir, ia biasanya menyetop bus di halte depan rumah sakit itu. Ibu pergi kemanapun dengan bus, pergi liputan, pergi diskusi bersama teman-temannya, atau sekedar jalan-jalan ke sebuah mal hanya untuk mengisi pulsa modem.

Ibuku orang biasa yang sering pergi ke mana-mana sekaligus menulis tentang apa saja. Beda denganku yang tempatnya melulu hanya beberapa sentimeter di depan laptop di sebuah ruangan, stasiun kereta, tempat parkir sepeda motor, dan tempat tidur. Ibu pergi untuk mencari berita di tempat-tempat yang belum pernah kukunjungi. Ia pergi bekerja, setelah mencuci baju, menyiapkan lauk untuk adikku, dan menyuntikkan insulin ke nenekku. Ia pergi liputan hampir setiap siang hari. Kalau-kalau satu siang tidak ada liputan, malam harinya ia sudah bingung besok mau pergi ke mana, dan rute bus mana yang harus ditempuh. Persis seperti malam ini, ia resah esok hari mau bekerja ke mana, dan akhirnya malam ini ia putuskan untuk tidur saja, daripada memikirkannya.

Ibuku, orang biasa yang mempunyai banyak teman. Aku sendiri heran, sering tiba-tiba ia sibuk membalasi pesan di selulernya karena ada anak SMA yang sedang curhat. Mungkin ia punya lebih banyak agenda ngobrol, diskusi, dan main daripada aku. Mungkin itu yang membuat ia lebih kelihatan muda daripada aku. Kami sering sekali dikira kakak beradik. Kalau sudah begitu, aku mengangguk saja kepada orang-orang yang bilang “Brita, itu mbakmu ya?”. Ibuku biasanya langsung menyanggah, “Duh, Brita itu anak saya,”. Sampai di rumah Ibu biasanya bangga sekali karena dia dianggap kakakku,sambil bergaya dan berkedip- kedip. Aku biasanya langsung berekspresi datar.

Ibuku orang biasa yang sering sekali gagap teknologi, alias gaptek. Ia percaya bahwa pulsa modem hanya bisa dibeli di konter-konter di mal yang bertuliskan provider modem itu. Selain itu, ia tak percaya bahwa pulsa modem bisa dibeli di atm, atau transaksi pulsa biasa. Aku pikir, itu hanya alasan dia untuk bisa ke mal dan jalan-jalan, lalu membeli nasi oseng-oseng seharga lima ribu rupiah, atau makan di angkringan depan mal.

Ibuku lumayan lancar menggunakan komputer. Program yang dikuasainya lumayan oke,a menyalakan komputer, membuka Microsoft word, membuka surel , dan menyimpannya. Oke, kan? Ibuku sering sekali facebook-an. Ritualnya membuka facebook adalah dengan membuka google dahulu, mencari facebook dengan namanya, baru setelahnya ia log in. Bukan langsung menuju ke laman facebook.com.  Sesekali ia sering mendengarkan music lewat komputer, biasanya music keroncong, campursari, atau lagu-lagu jadul. Ia sering minta tolong adikku untuk mengunduhnya. Aku rasa,ibuku sangat setia, bahkan pada komputernya sendiri. Ia sering gagap kalau harus meminjam laptopku karena katanya belum terbiasa, padahal programnya sama saja.

Ibu sekarang, jauh berbeda dengan ibu dulu. Ibuku dulu adalah ibu yang jarang sekali pergi ke luar rumah. Keluar paling untuk arisan PKK, atau pergi bersama kami. Ia di rumah, mengurus nenek, oom-ku yang dulu masih sekolah, aku, adikku, dan ayah. Ibu dulu setiap hari memasak dan di rumah saja.

Ibu sekarang memang jarang memasak, karena menurutnya secara perhitungan, biaya memasak lebih mahal. Di rumah kami hanya ada empat orang, aku, adikku, nenek, dan ibu sendiri. Katanya,lebih baik membeli sayur matang karena tidak akan terbuang.  Ibuku sangat membenci membuang makanan. Setauku, ibu tidak pernah marah kepadaku, kecuali tentang makanan yang tidak kuhabiskan . Sayur matang juga menyiasati kegiatan ibu yang padat.

Mamah dan aku

Mamah dan aku

Ibu jarang mengeluh. Capek, lelah, pusing mungkin ia hadapi setiap hari karena rutinitasnya. Ibu menyelesaikannya dengan tidur, minim keluhan. Ibu pernah mengeluh saat benar-benar sakit. Pernah beberapa bulan lalu, asmanya kambuh setiap malam. Beberapa kali kubawa ibu ke klinik berobat, ia bahkan jarang menyebut ia sedang sakit. Ibu saat itu sering bilang, bahwa asma kambuh karena cuaca. Aku amat mengkhawatirkannya saat itu.

Ibu, dulu maupun sekarang, tetap satu-satunya ibuku. Ia selalu mempunyai caranya sendiri untuk membuat hidupnya bahagia dan indah. Ia selalu punya siasatnya sendiri untuk menyelesaikan banyak pekerjaan setiap hari. Ibu selalu punya caranya sendiri untuk menasehatiku dan adikku. Ibuku, tidak pernah marah dengan apapun yang aku dan adikku kerjakan. (Kecuali tentang makanan yang tidak dihabiskan, aku yang lupa membenarkan letak helm-ku di kepala).

Tulisan-tulisan seperti ini tidak akan cukup untuk menceritakan orang-orang seperti ibu kita. Lewat tulisan ini, aku ingin mengenalkan pembaca tentang ibuku, orang biasa yang melahirkan dan mendidikku. Aku juga selalu ingin tahu cerita-cerita orang tentang ibunya.  Tentang apa warna favoritnya, atau tentang cerita masa mudanya..

Anyway, terima kasih Mamah. Terima kasih selalu bertoleransi  atas apa-apa yang terjadi di dalam aku, atas perubahan-perubahan yang kulakukan. Aku selalu menyayangimu dengan cara-cara aneh yang mungkin sukar kau mengerti. ❤

Menjadi Tua dan Tetap Gelisah

Sein Letztes Rennen (Back onTrack) gambar diunduh dari www.echo-online.de

Sein Letztes Rennen (Back onTrack) gambar diunduh dari http://www.echo-online.de

Kata Tan Malaka, hal yang paling berharga yang dimiliki oleh seorang pemuda adalah idealisme. Slogan tersebut tidak lagi berlaku pada bapak tua satu ini, yaitu menjadi tua dan tetap mempertahankan idealismenya. Film Jerman, Sein Letztes Reinnen (Back On Track), mengisahkan tentang idealisme dan cobaan-cobaannya.

Paul Averhoff (diperankan oleh Dieter Hallervorden) menyatakan belum selesai menjadi dirinya sendiri walaupun vonis untuk menyerah kepada panti jompo harus ia hadapi bersama istri dan teman jompo lainnya.

Saat temannya yang lain khusyuk mendengarkan khotbah dari pendeta, ia justru merasa asing dan tak tahan duduk berbaris dengan teman se-perjompo-an. Kakinya digerakkan, pandangannya tidak fokus, beberapa saat kemudian ia sudah tidak lagi ada di tempat duduknya.

Adegan berganti. Teman-teman yang sebelumnya khusyuk bernyayi, sekarang konsentrasi mereka terpecah karena pria baru dalam sekawanan itu  justru ber-jogging mengitari kapel gereja dalam kompleks panti jompo itu.

Ia memang tidak bisa lepas dari idealisme dan masa mudanya. Sebagai peraih medali emas Olimpiade dalam kejuaraan berlari, ia belum merasa selesai dan puas. Sekarang, ia dihadapkan dengan masa depan yang pasti, yaitu kematian.

Setidaknya, kematian lah yang menjadi bulan-bulanan pengurus panti Setiap orang seolah-olah harus menjalani cara menuju mati sebagai sebuah pola dengan kegiatan yang khas seperti setiap pagi harus berdoa di depan kepel. Lalu menyulam (karena kegiatan ini tidak membutuhkan banyak tenaga), bernyanyi (untuk sementara waktu menghilangkan kecemasan tentang bagaimana nyawamu berjalan dari ujung kaki ke tenggorokan)

Paul itu juga menghadapi kecemasan yang sama seperti jompo Jerman lainnya yaitu menghadapi kesendirian yang amat sangat. Tidak ada kultur kekeluargaan dalam budaya Jerman. Manula yang sudah bebas tugas mengurus anaknya tidak lagi mempunyai pilihan lain selain panti jompo. Selain kultur individualis, tidak mau merepotkan orang lain, film itu berusaha menuturkan bahwa negara siap mengurus orang-orang yang dianggap tidak lagi produktif seperti sewaktu muda. Ya, mereka memang dikondisikan untuk produktif tetapi tetap bekerja yang tidak terlalu berat.

Pak Tua ini membatalkan mitos “jompo dan tidak bisa apa-apa”, dan menghadirkan kembali romantisme masa mudanya. Ia adalah seorang pelari marathon, sampai akhir hidupnya. Ia bertaruh untuk tetap ikut Berlin Marathon, padahal pandangan sinis teman-teman jomponya mengintai saat ia berlatih berlari. Ya, sudah bisa ditebak bahwa ia mampu menyelesaikan larinya Ia berhasil menyenangkan diri-sendiri dengan bertahan pada apa yang ia yakini, yaitu ia tetap bisa memegang idealismenya. Ia bertahan bisa menjadi tetap muda dan idealis, walaupun ia tua dan lebih mudah terengah-engah.

Sein Letztes Rennen berhasil menghadirkan paradoks idealisme. Kamu akan keukeuh mempertahankannya, atau ikut larut dalam gempuran-gempuran lingkunganmu. Skenario memilih untuk menghadirkan tokoh yang bisa melampaui gempuran tersebut.

Menurut saya, benang merah film ini adalah kegelisahan akan keadaan atau eksistensi ternyata (harus) berlangsung seumur hidup. Manusia selalu memiliki keinginan untuk mencapai hal-hal yang ingin dia raih, apapun itu, juga termasuk keinginan untuk tidak meraih apa-apa (toh itu juga keinginan).

Kalimat-kalimat “ Saya berpikir, maka saya ada” adalah langkah pertama untuk membayangkan apa yang ideal dan bergelut tentang itu. Pergulatan antara kenyataan dan harapan itulah yang disebut masalah, dan masalah-lah (yang seharusnya) menantang kita untuk terus gelisah, berpikir, dan melakukan. Menjadi seorang muda dan tetap gelisah (tentang semua hal di dunia ini) itu harus, tapi menjadi tua dan tetap gelisah, itu perlu.

Difabel dan Aksesnya ke Media Film

Difabel rungu terlibat dalam proses produksi Film "Pencari Keadilan" sebagai juru kamera

Difabel rungu terlibat dalam proses produksi Film “Pencari Keadilan” sebagai juru kamera

Gambar, suara, cerita, layar, merupakan komponen film yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Jika sebuah cerita dibingkai dalam gambar tanpa suara, namanya tidak lagi film, tapi foto. Jika sebuah cerita terangkum dalam suara, namanya tidak lagi film tapi bisa saja lagu atau siaran radio.

Film merupakan sebuah media yang memanjakan kita dari segi visual dan audio dalam satu bingkai. Film sebagai media komunikasi, penyampai pesan dari pembuat kepada penikmat. Yang terjadi adalah penyampai pesan akan menggunakan shot gambar untuk mendeskripsikan peristiwa, dialog untuk merekam dialektika dan elemen pendukung lain untuk membangun suasana sesuai dengan skenarionya.

Manusia membuat penemuan untuk bertahan hidup dan membuat sejarah sebagai penuntasan rasa ingin tahu alaminya. Begitu juga dengan Lumiere Bersaudara, penemu cinematographe, alat rekam gambar bergerak merupakan asal mula industri film modern. Berangkat melalui realitas, Lumierre Bersaudara membuat ilusi realitas melalui pembuatan cinematographe untuk menuntaskan rasa ingin tahunya.

Perkembangan budaya (salah satunya film) seiring sejalan dengan bertambahnya kebutuhan manusia itu sendiri. Manusia menggunakan media film untuk keperluan hiburan, pendidikan, dan berekspresi. Semua orang dapat menggunakan media film sesuai dengan kebutuhan dan kepentingannya, tak terkecuali difabel.

Difabel dan Komoditas Film

Ada banyak cerita film yang bercerita tentang difabel, misanya A Beatiuful Mind (2001) yang bercerita tentang penyandang skizofrenia, atau My Left Foot (1989) tentang penyandang cerebral palsy, atau Forrest Gump (1995) yang berkisah tentang seorang mental intelektual yang dapat meraih impiannya.

Tema difabilitas sering mendapatkan nominasi dalam penghargaan film Oscar. Sebut saja The Best Years of Our Lives (1947), One Flew Over the Cuckoo Nest (1976),Rain Man (1988), Avatar (2010), dan The King’s Speech (2011). Avatar sempat menerima kritikan dari komunitas difabel karena tidak mencerminkan kehidupan difabel itu sendiri. Pertanyaan saya, apakah difabel sendiri dapat menikmati film yang bercerita tentang dirinya sendiri?

Siapa bilang?

Siapa bilang difabel tidak dapat menikmati media audio visual ini? Difabel bisa menikmati film. Perbedaan fisik yang dimiliki dan tidak berfungsinya organ fungsional difabel tidak membuat difabel tidak mau untuk menggunakan film sebagai media komunikasi. Difabel dengan hambatan visual maupun audio mempunyai caranya tersendiri untuk menikmati gambar bergerak, suasana dan skenario film.

Difabel netra bisa menikmati film cerita apabila ada teman di sampingnya yang menjelaskan visualisasi gambar gerak film. Teman tersebut tidak usah lagi menjelaskan dialog film, karena difabel netra mendengarnya (kecuali bila diperlukan misal film berbahasa asing). Pendamping yang ada di sampingnya cukup menjelaskan visual, misal adegan pemain berjalan, atau membaca buku di bangku taman, dan suasana di sekelilingnya.

Difabel rungu mengerti dialog di dalam film apabila ada subtitle atau transkrip dialog yang berjalan saat pemain bercakap. Beberapa film asing bahkan sudah menambahkan transkrip bunyi-bunyian pembangun suasana. Misalnya akan ada tulisan “Gelas pecah”, “pintu diketuk”. Apabila difabel rungu menonton film di bioskop, getaran suara dari soundsystem membantunya untuk merasakan suasana film. Semua orang di dunia ini tetap bisa menikmati film apabila diberikan akses.

Belakangan ini, difabel terlibat dalam kerja-kerja yang melampaui apa yang sering disebut masyarakat sebagai “keterbatasan”. Melalui fasilitasi dari sebuah organisasi bernama Kampung Halaman, difabel netra belajar fotografi. Teknologi menjadi jalan manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Ada software yang bisa dipasang di perangkat seluler untuk dapat mengaudiokan perintah, termasuk memberitahu obyek foto saat akan memotret.

Difabel bahkan mampu membuat film tentang isu difabel sendiri dengan prinsip inklusivitas yaitu melibatkan lintas difabilitas dan orang nondifabel. “Pencari Keadilan” sebuah film yang bercerita tentang proses hukum difabel korban kekerasan seksual, yang baru-baru ini diinisiasi oleh Sasana Integrasi dan Advokasi Difabel (SIGAB) adalah contohnya. Proses pembuatan film yang inklusi dan sensitif terhadap kebutuhan difabel dalam produksi membuat film tersebut memiliki “ruh” inklusi. Pun, dalam hasil edittingnya yang mempertimbangkan aksesibilitas difabel netra dan rungu.

Film, sebagai proses dan hasil budaya, tak melulu monoton gambar dan suara saja. Ketersediaan akses untuk difabel agar dapat menikmatinya, adalah sebuah langkah indah untuk membangun budaya inklusi.

Pemimpi(n) Inklusi*

“Nothing about us, without us..” Segala hal tentang kita tidak akan berarti bila tanpa kita. Slogan tersebut merupakan slogan untuk pergerakan difabel di seluruh dunia untuk memperjuangkan keadilan.

Difabel merupakan kependekan differently able people, orang dengan kemampuan berbeda. Difabel merupakan istilah yang diperkenalkan oleh Mansour Fakih untuk mengganti kata “penyandang cacat” dan “penyandang disabilitas”. Bahwa difabel sama seperti orang lain, difabel netra tetap bisa membaca dengan alat bantu, difabel rungu tetap bisa berkomunikasi dengan bantuan bahasa isyarat. Difabel sama dengan manusia lain yang memiliki kemampuan dan kebutuhan yang berbeda-beda.

Difabel berkelindan tantangan (bukan masalah) yang mempunyai kompleksitasnya masing-masing. Bidang sosial, politik, pendidikan, kesehatan, hukum, dan aksesibilitas masih mempunyai “tembok” untuk memasukkan perspektif difabel dan inklusivitas di dalamnya. Stigma bahwa difabel tidak mampu untuk mengerjakan sesuatu tidak hanya menempel pada setiap kebijakan pemerintah, tapi juga hidup dalam masyarakat.

Indonesia untuk Semua

Menjadi Indonesia adalah menjadi Bhinneka Tunggal Ika,yaitu  menghidupi perbedaan dengan harmonis.  Perbedaan bukan hanya dalam hal suku, agama, ras, antargolongan, dan ideologi saja, tapi juga keberagaman manusia secara fisik.  Kesiapan kita untuk berdamai dengan perbedaan semoga tidak hanya sebatas jargon belaka. Mewujudkan Indonesia yang inklusif, Indonesia yang merangkul semua warga negara tanpa kecuali, adalah cita-cita semua orang termasuk difabel.

Jumlah difabel di Indonesia memang tidak banyak. Menurut data yang dihimpun oleh World Bank dan World Health Organization pada tahun 2011 lalu, jumlah difabel di Indonesia adalah 15 persen dari seluruh penduduk Indonesia yaitu 35,7 juta. Namun, dengan jumlah yang hanya 15 persen tersebut seharusnya tidak membuat negara melakukan pembiaran atas tidak adanya perlindungan atas hak asasi manusia bagi  difabel.

Tidak adanya perlindungan kelompok marginal seperti difabel , tidak boleh dianggap main-main. Alinea keempat pembukaan  Undang-Undang Dasar Negara Tahun 1945 sudah menyebutkan bahwa negara akan melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia.

Seperti tertera dalam Undang-Undang Nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia bahwa tugas pokok negara adalah proteksi dan realisasi.  Indonesia sebagai negara hukum harus menjamin adanya the rule of law penjaminan atas hak asasi manusia oleh negara kepada warga negara. Penjaminan hak asasi manusia kepada warga negaranya diwujudkan melalui pelaksanaan untuk mempromosikan (to promote), melindungi (to protect), menjamin (to guarentee),  memenuhi (to fulfill), memastikan (to ensure) HAM.

Indonesia sebenarnya sudah  mempunyai produk hukum yang membahas mengenai difabel yaitu Undang-Undang Nomor 4 tahun 1997 tentang Penyandang Cacat. Namun, undang-undang tersebut tidak memiliki perspektif hak asasi manusia dalam memandang permasalahan difabel.  Undang-undang tersebut belum mengadaptasi Konvensi Hak Penyandang Disabilitas PBB atau United Nation Convention on the Rights of Persons With Disabilities (UNCRPD). Indonesia sendiri sudah meratifikasi konvensi tersebut dalam Undang-Undang Nomor 19 tahun 2011 tentang ratifikasi konvensi penyandang disabilitas.

Paradigma yang digunakan masih paradigma charity atau bantuan , menganggap bahwa difabel adalah orang yang selalu bergantung dengan orang lain. Padahal, difabel bisa mengerjakan  apayang dikerjakan oleh nondifabel, tak jarang malah difabel melakukannya lebih baik. Hal tersebut menjadi tidak relevan dengan konsep hak asasi manusia yang memandang manusia secara subyek yang utuh dan otonom.

Pergerakan difabel untuk mempunyai undang-undang baru saat ini tengah diperjuangkan. Rancangan Undang-Undang tentang penyandang disabilitas sudah masuk ke Badan Legislasi Nasional (Balegnas) di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Masa jabatan anggota dewan yang akan segera habis seharusnya tidak menjadi alasan pengesahan yang terburu-buru untuk mengejar tenggat waktu. Undang-undang yang akan disahkan seharusnya mengakomodasi kepentingan difabel.

Prinsip inklusivitas dan universal-lah yang coba didorong oleh pergerakan difabel. Break barriers open doors, for inclusive society and development for all. Hapus hambatan, buka kesempatan demi terwujudnya masyarakat inklusi untuk semua. Perbincangan masalah difabilitas seharus tidak eksklusif oleh dan dari difabel saja, tapi juga semua orang.

Indonesia mempunyai nafas baru dengan presiden terpilih Joko Widodo dan Muhammad Jusuf Kalla. Harapan, mimpi, cita, dan doa rakyat panjatkan untuk pemimpin baru Indonesia.  Hal ini juga menjadi Tetapsemangat baru pergerakan Indonesia yang lebih inklusif.

Joko Widodo dalam masa kampanyenya  5 Juli 2014 lalu menandatangani sembilan piagam, salah satunya Piagam Prof. Soeharso untuk menunjukkan keberpihakannya terhadap difabilitas. Janji untuk memberikan kepastian perlindungan  difabel dalam  memperoleh hak  ekonomi, sosial, politik, pekerjaan, kebudayaan, jaminan pendidikan, kesehatan,  dan jaminan sosial sudah tertera hitam di atas putih.

Dalam  piagam tersebut, Joko Widodo juga berjanji untuk membangun pemerintahan yang memiliki persepsi bahwa difabel adalah aset bagi negara, bukan beban.  Difabel adalah subyek dalam pembangunan, bukan obyek. Sebuah langkah yang patut diapresiasi.

Program dan kebijakan pemerintah harus berintegrasi dan bersinergi dengan perspektif difabilitas dan inklusivitas. Toh, yang akan menikmati kebijakan tersebut juga seluruh rakyat Indonesia. Jadi, tidak ada  ruginya untuk menjadikannya ramah untuk difabel.

Mimpi akan selamanya menjadi angan-angan apabila tidak ada tindakan riil untuk mewujudkannya. Sebuah tantangan untuk presiden dan wakil presiden terpilih serta kabinet yang akan dibentuk untuk menjadikan Indonesia yang inklusif menjadi sebuah kenyataan. Jika semua mimpi dapat diwujudkan melalui pemimpin yang inklusif, maka saya tidak ragu untuk berkata bahwa Indonesia yang harmoni adalah Indonesia yang inklusif.

*tulisan ini pernah dimuat di http://www.solider.or.id dengan judul “Menjadi Indonesia yang Inklusif”.