Mengingat Wiji Thukul, Mempertanyakan Kemanusiaan

http://stat.kompasiana.com/files/2010/05/wijiys64.jpg

Wiji Thukul, matanya terluka

Pulanglah, pak
Apakah kamu tidak ingat aku lagi
Aku anakmu, Pak
Aku, adik, ibu dan semua orang merindukanmu, Pak
Apakah hanya dengan doa-doa saja aku harus menunggu?

Penguasa kembalikan bapakku!!
(15 Mei 2000)

              

Siang itu terik dan kemarau, saya masih mencari-cari alamat rumah pemilik puisi yang berjudul “Pulanglah Pak!” tersebut. Dari dalam rumah kecil itu,berjalan seorang perempuan sambil menjawab salam saya. “Mbak Fitri Nganthi Wani, ya?” tanya saya kepada perempuan yang sedang mengandung itu. “Iya,Mbak..kok tahu? Pasti ini bapak ..” ujarnya sambil tersenyum.

 

Sebuah kata “kerinduan” yang membawa saya menyusuri gang-gang kecil kampung Kalangan, Jagalan, Solo.  Kerinduan seorang anak kepada bapaknya yang dibahasakan lewat puisi, diguratkan dengan kata-kata. Fitri Nganthi Wani, anak perempuan yang selalu bertanya di mana keberadaan bapaknya yang hilang entah berantah –atau mungkin lebih tepatnya dihilangkan oleh rezim kala itu. Wiji Thukul, bapak Fitri Nganthi Wani bukanlah orang main-main, seorang buruh pabrik meubel dan penjual koran yang juga seorang penyair dan aktivis giat mengajak teman-temannya berseru “tidak!” pada penindasan rezim yang lalim.

Saya mengenal Wiji Thukul lewat puisi-puisi ciptaannya yang tegas menolak kekerasan oleh penguasa, mengkritik jurang yang terlalu jauh antara si kaya dan si miskin,dan melawan Orde Baru yang mengandalkan senjata untuk membungkam rakyatnya. Tidak saya sangka, saya dan Wiji Thukul dibesarkan oleh kota yang sama, Solo.  Saya tidak ragu mencari alamat Thukul, begitu ia sering disapa, melewati gang-gang kecil perkampungan yang jauh dari kesan ‘mewah’, saya menemukan rumah pejuang kemanusiaan ini.

Wiji Thukul adalah satu dari tiga belas orang yang dinyatakan hilang oleh Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) pasca Orde Baru rampung. Pada 24 Maret 2000 keluarga Wiji Thukul melaporkan hilangnya aktivis yang hidupnya selalu rawan pangan ini. Kegiatan terakhir yang sempat diingat yaitu sekitar bulan April-Maret 1998, Wiji Thukul sempat bertemu kawan-kawannya di Komunitas Utan Kayu.  Setelah hilang tak ada kabar, Sipon, istri Thukul semula mengira ada kawan yang menyembunyikan Thukul dari kejaran militer saat itu. Namun, sudah terlalu lama Thukul tidak memberi tahu keberadaannya, semua orang mulai bertanya.

http://3.bp.blogspot.com/_KAUDH5G-d38/TJmXoyL8dXI/AAAAAAAAAWk/KOspr-Puftw/s1600/wiki-thukul-ketua-divisi-budaya-prd.jpg

Wiji Thukul dan protes massa

Thukul, Sastra dan Hak Asasi Manusia

Kampung yang “hidup” dengan segala permasalahan tentang kelaparan, PHK, dan keadaan serba kepepet inilah yang justru membesarkan nama Wiji Thukul. Terlahir dengan nama Wiji Widodo, Thukul yang lahir 23 Agustus 1962 bersuara lewat puisi sejak SMP. Ia mengalah tidak melanjutkan sekolahnya di Sekolah Menengah Kesenian Indonesia (SMKI) Solo karena tuntutan kebutuhan. Ayahnya seorang tukang becak, ibunya adalah penjual ayam bumbu, mau tak mau pekerjaan serabutan seperti buruh meubel, calo tiket bioskop ia lakukan, demi membantu kelanjutan sekolah adiknya.

Menjadi seorang buruh tak menjadikan Thukul lupa belajar, di rumahnya ada beragam buku, mulai Antonio Gramsci, Bertolt Brecht, Raymond William, Karl Marx dan banyak lainnya. Dengan seni ia menyuarakan kemanusiaan, Sanggar Suka Banjir, sebuah wadah kreativitas bikinan Thukul untuk warga kampungnya. Tak hanya mengajari anak-anak berpuisi, Thukul membuat teater dan melatih menggambar. Perjuangannya terinspirasi oleh teater buruh di Afrika Selatan, perjuangan Jose Rizal yang menulis saat di penjara Filipina, dan Voltaire yang terus memprasastikan pemikirannya lewat tulisan yang selalu berakhiran “Ecrasez l’infame!” (“ganyang barang brengsek itu”-red). Kata Thukul dalam artikelnya yang dimuat Suara Massa edisi 25 Juni 1996, “Orang-orang yang berani memang bisa dipenjarakan. Tapi keberanian tak bisa dipenjarakan”.

Matanya hampir buta karena dipukuli oleh aparat saat Thukul terlibat demonstrasi, tetapi kekerasan tidak membuatnya mengalah. Perjuangan terus berjalan, pembacaan puisi tidak hanya dilakukan ke panggung-panggung, tapi juga di bis-bis kota, ia sebut ngamen puisi. Tahun 1992, Wiji Thukul dan W.S Rendra mendapatkan Wetheim Encourage Award yang diberikan oleh Wertheim Stichting Belanda.

Thukul tak mau hanya menjadi ‘penonton’ kekuasaan rezim kala itu, ia memutuskan terjun ke politik lewat keterlibatannya dalam Pusat Perjuangan Buruh Indonesia (PPBI) yang merupakan underbow Partai Rakyat Demokratik (PRD). Ia ikut demo buruh, juga tetap menulis puisi dan esai, turut diskusi sana-sini untuk memperjuangkan teman-teman buruh yang lain.

“Maka hanya ada satu kata: lawan!” (Peringatan-Wiji Thukul). Penutup puisi Wiji Thukul tersebut sering menghidupkan demonstrasi aktivis lain saat menyuarakan pendapat mereka. Tanggal 26 Juli 1996 adalah pembacaan terakhir puisi yang berjudul Peringatan oleh Wiji Thukul bertepatan dengan Deklarasi Partai Rakyat Demokratik. Setelahnya, Thukul adalah incaran rezim, tindakannya sering dianggap subversif, ia siap main “petak umpet” dengan aparat yang mencurigai aktivitas politiknya.

Kemanusiaan. Satu kata itulah yang menuntun Thukul menekuni hidupnya yang rawan penuh ancaman rezim, ia ingin di-manusia-kan. Seumpama bunga/kami adalah bunga yang tak kau hendaki tumbuh/engkau lebih suka membangun/rumah dan merampas tanah (Bunga dan Tembok-1998). Wiji Thukul merasakan nihilnya negara yang katanya melindungi rakyatnya, rakyat malah dicap sebagai “pengganggu” pembangunan. Hati nurani Thukul tergerak karena ia mengalami sendiri. Ia tumpahkan kegelisahannya dengan menulis puisi, lewat syair yang lugas dan sikap yang tegas. Bahwa tirani harus tumbang, kekuasaan yang tak peduli kemanusiaan tak boleh langgeng.

Sastra Wiji Thukul bukanlah sastra yang sulit dipahami, setiap katanya denotatif, apa adanya. Ia tak mau dikhususkan dalam aliran sastra tertentu, Thukul bisa di mana saja, tak peduli surealis atau naturalis. Seperti dalam wawancaranya di Jurnal Revitalisasi Sastra Pedalaman (November 1994), Thukul percaya bahwa dengan puisi ia mampu menyuarakan permasalahan kaum tertindas. Thukul tak hidup dari puisi, kebutuhan hidup tetap ia penuhi dengan bekerja menjadi tukang pelitur dan membuat tikar.

Kritiknya kepada pemerintah yang mengabaikan hak asasi manusia warga negaranya menjadi benang merah karya seninya. Thukul berkarya dengan hati nuraninya sendiri, menggunakan pengalaman pribadinya untuk menyerukan isu sosial sebenarnya di lingkungan sekitar. Saya teringat dengan istilah yang sering dipakai oleh Y.B Mangunwijaya (Romo Mangun) yaitu sastrawan hati nurani. Pembelaan terhadap rakyat kecil merupakan cerminan karya Thukul. Ia sebenarnya sedang membicarakan dirinya sendiri sebagai manusia, khususnya manusia yang menuntut haknya untuk dimanusiakan. Tak pelak, susastra Thukul berjiwa melu handarbeni (ikut memiliki) dan ikut bertanggung jawab atas penderitaan rakyat.

Gerak Thukul dalam memperjuangkan hak asasi manusia ibarat keping mata uang. Terdiri dari kontempelasi dan aksi, keduanya saling berhubungan. Thukul berkontempelasi dengan puisi dengan mempertanyakan hal-hal mendasar manusiawi. Ia juga melakukan aksi, ngamen puisi sana-sini dan mengajak teman-temannya juga aktif untuk belajar dan keudian melawan seluruh penindasan.  Wiji Thukul bergerak dari sastra ke gerakan massa, membawa satu misi yaitu kemanusiaan.

Untuk HAM, untuk Kemanusiaan

Entah apa yang membuat rezim Orde Baru tega bertindak subversif, mungkin kekuasaan yang membuat hilangnya kemanusiaan. Bertopeng UU Anti Subversi no 11/PNPS/1963 atau UU “Sapu Jagad”, Orde Baru represif terhadap kegiatan maupun orang-orang yang dianggap menentang ideologi Pancasila. Wiji Thukul adalah salah satu korban pelanggaran HAM  Orde Baru yang sampai kini belum tuntas juga pengusutannya. Sebut saja kasus Tanjung Priok, Kasus Semanggi I&II, penghilangan aktivis, pembunuhan Munir, sampai kini masih mengalami titik buntu. KontraS, lembaga yang selama ini mengupayakan tindak lanjut pelanggaran HAM dan kekerasan belum juga mendapatkan hasil yang maksimal. Pemerintah sendiri seolah lupa pernah menebar janji untuk menuntaskan kasus pembunuhan Munir dan pelanggaran HAM lainnya.

Tak malukah kita pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 (terutama pasal 27 sampai dengan 34) yang berjanji menjamin hak asasi manusia? Catatan hitam kekerasan yang pernah terjadi di republik ini seharusnya tak lantas membuat kita begitu saja memaafkan tanpa mengusut tuntas pelaku. Penjaminan HAM berarti memberikan frame “bebas dari” dan “bebas untuk”. Rakyat harus dilindungi, bebas dari tindak kekerasan oleh negara, penindasan yang tidak manusiawi. Di lain pihak rakyat juga bebas untuk mencapai tujuan hidupnya, menyampaikan pendapat. Entahlah, muncul pertanyaan dalam diri saya, apakah sejarah akan terus diwarnai pelanggaran terhadap hak asasi manusia? Jika demikian adanya, ke mana hati nurani ciri kemanusiaan kita?

Belajar tidak melupakan orang yang dipinggirkan seperti Wiji Thukul membuat kita mengingat bahwa masih ada pekerjaan rumah pemerintah yang perlu diselesaikan. Pengusutan kasus pelanggaran HAM dan menyelesaikannya di peradilan adalah sebuah langkah panjang yang harus diterjang dan diwujudkan. Tak cukup menggantungkan semua ke penyelenggara negara, kita bisa turut menjadi penggerak hak asasi manusia. Terus menyerukan isu ini di media apapun bisa menjadi salah satu langkah kecil kita untuk memaksa agar negara merasa berdosa pernah merepresi rakyatnya.

Misi kemanusiaan tidak boleh hanya menjadi utopia, langkah kecil untuk terus mengenalkan dan mengingatkan tak boleh dipandang sebelah mata. Saya belajar dari Wiji Thukul, tak perlu melulu menjadi pahlawan bersenjata untuk membela negara. Justru memperlakukan manusia layaknya manusia semestinya dan berani melawan penindasanlah yang dinamakan perjuangan. Bukan right or wrong is my country, tetapi right or wrong is right or wrong.

Kemanusiaan tidak pernah lekang. Seperti Wiji Thukul, ketidakberadaannya sekarang ini tetap dapat menggugat cita-cita penjaminan hak asasi manusia. Semangat Wji Thukul  dan pejuang HAM lainnya masih terpelihara, bahkan berlipat ganda. Wiji Thukul akan tetap hidup, lewat puisinya yang masih menanti realisasi. Kata-kata itu selalu menagih/ Padaku ia selalu berkata/ Aku memang masih utuh/ Dan kata-kata belum binasa (Aku Masih Utuh dan Kata-kata Belum Binasa, 1997)

            Fitri Nganthi Wani mengelus perutnya, calon cucu pertama Wiji Thukul akan segera lahir. Sipon ,Wani, dan Fajar Merah masih menanti kepulangan bapaknya. Ketegaran mereka luar biasa. Buku-buku di rumah Thukul rindu dibaca tuannya, seperti penjaminan hak asasi manusia yang masih menunggu dipastikan.

http://www.vhrmedia.com/2010/ngadimin/form/kakafile/Images/berita/November2011/Geoff_Fox_Keluarga_Wiji_Tukul_dlm.jpg

Thukul dan keluarga

Bahan Bacaan:
Heraty, Toeti. Hidup Matinya Sang Pengarang, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2000.
Sindhunata,Ed.Menjadi Generasi Pasca-Indonesia: Kegelisahan Y.B Mangunwijaya, Kanisius, Yogyakarta, 1999.
Thukul, Wiji, Aku Ingin Jadi Peluru: Kumpulan Puisi, IndonesiaTera, Tangerang, 2003.
Suseno, FranzMagnis. Kuasa & Moral, PT.Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2001.

NB : Ini adalah Naskah Lomba Menjadi Indonesia-Tempo– belum menang :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s